Skip to content

Sosiologi Jurnalisme Brian McNair (1)

by pada 20 Mei 2014
(rajaagam.wordpress.com)

(rajaagam.wordpress.com)

Oleh Zainal Abidin Eko Putro*

Tak jemu-jemu mendengar cerita yang seolah tak kenal putus, dari ujung bibir para mantan wartawan dan fotografer yang sempat mengenyam kehidupan kewartawanan di era Soeharto. Mereka bertemu di salah satu pojok ruangan rehat di Kampus Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). 

Kalau cuaca lagi baik, biasa turut bergabung seorang mantan wartawan Suara Pembaruan, mantan fotografer Jakarta-Jakarta dan di Editor, mantan wartawan Sarinah, mantan wartawan Anita Cemerlang, dan beberapa mantan wartawan lain, bahkan seorang mantan Pemimpin Redaksi.

Belum lagi kalau turut bergabung para akademisi komunikasi dan publisistik, yang dulu pernah disergap training keras jurnalistik di IISIP Jakarta. Generasi jurnalis waktu itu, mereka sebut sebagai generasi tanpa televisi swasta dan hanya TVRI sebagai corong propaganda pemerintah. Televisi swasta baru mulai muncul di tahun 1990, dengan tampilnya RCTI.

Oplah media-media cetak tempat mereka bekerja umumnya ratusan ribu, baik yang terbit pagi, sore atau terbit seminggu sekali. Perputaran uang tentu begitu pesat di industri media cetak saat itu. Secara sosial pun, posisi wartawan begitu terpandang di masyarakat yang belum mengenal hape. Pantas lah jika sebuah grup musik qasidah yang berbasis di Semarang, secara khusus menghadiahkan satu lagunya yang berkisah peran wartawan dipadankan bak ratu dunia.

“Apa saja kata wartawan mempengaruhi pendapat orang,” begitu kira-kira penggalan lagunya. Kenapa ratu? Hanya tebakan saja, mungkin saat itu sedang ramai orang membicarakan kiprah ratu-ratu dunia. Ikon paling jelas adalah mendiang Putri Diana –yang terus dikuntit para juru potret di manapun– dengan berita maupun gambarnya sampai ke tangan pembaca Indonesia.

Deretan nostalgia indah para jurnalis era itu, tertuang dalam cerita yang silih berganti sembari ditingkahi tarian kepulan asap-asap rokok dan hitamnya kopi buatan seorang office boy langganan. Terurailah satu demi satu cerita, mulai dari lika-liku dan polah tingkah wartawan hingga cara wartawan bersiasat menghadapi rezim breidel.

Tak lupa mereka juga menyelipkan cerita lucu; salah satu wartawan dari sebuah media besar yang rajin membawa mesin ketik ketika liputan. Juga cerita saat harus berhadapan dengan Kodim dan disekap, gara-gara dituduh subversif meliput kecelakaan di depan gedung Kodim.

Ada wartawan yang dekat dengan kalangan jendral, sehingga membantunya dalam menggali berita seputar sepak terjang tentara di negeri ini. Tercetus pula kisah seorang wartawan yang ingin mewawancarai konglomerat nomor wahid negeri ini, dengan menyamar sebagai sopir pengusaha rekanan tokoh tersebut.

Cerita tentang fotografer yang harus saling dorong hanya untuk merebut angle gambar, yang kadang hanya diberi waktu dua menit oleh protokoler istana. Wartawan-wartawan dari media besar lebih diutamakan dalam liputan oleh narasumber, ketimbang dari media tanggung, apalagi kecil.

Secara jumlah, banyaknya wartawan kala itu tidaklah seperti sekarang, yang ditaksir lima ribuan saja di seluruh Indonesia. Asosiasi wartawan juga diatur oleh kekuasaan, yang hanya mengizinkan berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Karena itu, di antara mereka lebih mudah saling mengenal karena sering jumpa dalam liputan.

Berbeda dengan sekarang yang mungkin mencapai ratusan ribu, sebab ditambah wartawan televisi dan online. Jumlah asosiasi yang menghimpun profesi mereka –yang dulu kerap tersemat di dada– sebagai “kuli tinta” juga bejibun. Selain PWI, lalu muncul Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Jurnalis Televisi Indonesia (AJTI) dan seterusnya.

Saking banyaknya wartawan dan asosiasi yang menghimpun mereka, kemungkinan saling kenal satu sama lain pun semakin tipis. Bahkan salah seorang mahasiswa jurnalistik –yang baru saja magang di suatu portal berita online— baru-baru ini berkisah, dalam sebuah liputan dirinya seperti “diasingkan” para jurnalis dari mediayang mapan.

Mendengar kisah-kisah nostalgia para wartawan itu, membuat saya –yang hanya mengenyam dunia jurnalistik sekolah, lalu kampus, sempat memegang majalah internal selepas kuliah, dan hampir saja deal menjadi redaktur di Harian, yang tumbuh bak cendawan di musim hujan, pada awal Reformasi dan kini sudah menghilang– seperti mengurai kembali betapa tergila-gilanya dengan koran dan segala terbitan majalah.

Koran dan majalah itu kadang beli, pinjam atau hanya membaca di perpustakaan. Masih ingat saya terkena “damprat” penjaga perpustakaan, gara-gara saya tidak segera mengembalikan Majalah Tempo edisi terbaru kala itu.

Di Jawa Timur, harian Jawa Pos begitu melegenda. Kompas dan Suara Karya tergolong di bawah Jawa Pos dalam distribusinya. Suara Pembaruan juga menjadi incaran di kala petang, bersaing dengan Surabaya Post.

Bukan hanya Majalah Tempo yang menarik ditunggu kehadirannya, majalah remaja –seperti Hai dan Aneka Cemerlang– juga begitu menyeruak dan merangsek masuk ke kalangan remaja di kota-kota kecil di Jawa Timur.

Tidak adanya alternatif media informasi selain TVRI, membuat media cetak –baik terbitan industri besar maupun terbitan lokal, termasuk mading di sekolah dan kampus– banyak yang membaca. Tentu kawan segenerasi saya –yang pengelola mading– masih ingat, betapa kewalahannya kita menjelang deadline dengan pekerjaan yang dikejar hingga larut malam. (Bersambung)

*) Zaenal Abidin EP adalah seorang sosiolog. Selain mengajar di Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan Politerknik Negeri Jakarta, juga menjabat sebagai Executive Director of the Center for Asian Studies (CeNAS) di Jakarta

Catatan: Tulisan ini dikutip dari Maya Aksara, Books and Articles (http://mayaaksara.com/sosiologi-jurnalisme-brian-mcnair/), pada 17 April 2014

From → Kiriman

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: