Skip to content

Sosiologi Jurnalisme Brian McNair (2)

by pada 22 Mei 2014
(12-imam.blogspot.com)

(12-imam.blogspot.com)

Oleh Zainal Abidin Eko Putro*

Sebenarnya bagaimana bedanya jurnalistik Indonesia, sebelum era internet dan setelah era internet? Tentulah semua mengetahui jawabannya. Setelah internet marak, muncul lah produk-produk media massa non cetak.

Namun dunia jurnalisme belum berubah, masih sebagaimana dipotret McNair (1998) yang menuliskan seperti berikut. Journalism is any authored text, in written, audio or visual form, which claims to be (i.e. is presented to its audience as) a thruthful statement about, or record of, some hitherto unknown (new) feature of the actual, social world (p.4).

Kalau secara bebas menangkap pernyataan McNair tersebut jurnalisme sampai sekarang masih belum banyak beranjak fungsinya untuk menyampaikan pernyataan, ataupun catatan yang dapat dipertanggungjawabkan dan yang belum diketahui (oleh publik).

Masih lanjut McNair, di mana letak sosiologis dari jurnalisme itu sendiri? Menurutnya, jurnalisme mengambil tempat di tengah perdebatan antara dua cara pandang tentang bagaimana dunia sosial terorganisir dan bagaimana pengaruh media dalam melestarikan keteraturan tersebut. Traditionallya, the sociology of journalism has taken the form of a debate between two ways of looking at how social world is organized and the role of the media in sustaining that organization (p. 19).

Akan tetapi, untuk siapa sih sebenarnya para jurnalis berkiprah dengan kemampuan tulis menulis, kecekatan analisis dan menentukan angle baik berita maupun foto? Kalau meminjam pikiran kalangan kiri seperti dalam pikiran Ed Herman dan Noam Chomsky, media jurnalistik bekerja untuk lebih melayani kelas penguasa saja, khususnya dalam konteks masyarakat Barat. Kutipannya seperti berikut, the journalistic media work more or less directly in the service of the ruling classes of western society.

Bahkan secara lebih tajam Chomsky menengarai, media massa hadir lebih untuk melayani kepentingan kekuasaan negara dan korporasi –yang kedua-duanya saling berjejaring satu sama lain. Penting bagi mereka membingkai laporan dan analisis para jurnalis untuk mendukung kedudukan dan sedapat mungkin membatasi perdebatan atas isu yang menyinggung mereka.

Bagi Chomsky, media mainstream bukan hanya –bahkan mengijinkan– pemelintiran berita untuk kepentingan negara. Mereka juga menerima permintaan negara, seringkali tanpa pertanyaan. Berikut keterangan kalimat lengkap Chomsky yang dikutip McNair.

The media serve the interests of state and corporate power, which are closely linked, framing their reporting and analysis in a manner supportive of established priviledge and limiting debate and discussion accordingly…. The mainstream media not only allow the agendas of news to be bent in accordance with state demand and criteria of utility, they also accept the presupposition of the state without question (Chomsky, 1985 p. 5)

Tidak berlebihan memang, dunia jurnalistik hampir sulit terlepas dari pertaliannya dengan pemilik kuasa. Ia harus bermain-main dengan kekuasaan politik dalam genggaman penguasa dan kekuasaan ekonomi yang ada di tangan korporasi.

Jika kembali menyimak cerita para mantan wartawan di atas, pada eranya betapa mereka bisa sangat dekat dengan kalangan penguasa dan pengusaha. Bahkan hampir pasti, dunia jurnalistik sekarang pun tidak banyak berubah. Bagaimana para jurnalis itu dapat memburu berita berita dari lingkungan pembuat kebijakan (pemerintah) dan kalangan pelaku pasar (para pebisnis).

Standpoint ini sepertinya penting diketahui kalangan mahasiswa yang bergelut di bidang komunikasi –terutama jurnalistik– bila nanti para calon jurnalis itu bersinggungan langsung dengan pembuat kebijakan dan pelaku usaha.

Hubungan timbal balik pun bukan barang aneh. Penguasa dan pengusaha membutuhkan wartawan, untuk mempopulerkan agenda-agenda propaganda mereka. Sementara sebaliknya, kalangan jurnalis membutuhkan berita untuk diketahui publik luas. Di sinilah pastinya para calon jurnalis dituntut pandai menempatkan diri, setelah nanti benar-benar menjadi jurnalis.

Namun jurnalisme penuh curiga di mata Chomsky, bukanlah satu-satunya analisis dalam memandang dunia jurnalistik. Kalangan yang lebih netral, seperi McNair, masih melihat peran mulia yang dijalankan para jurnalis. Berikut kutipan dari McNair,

Journalism is a key element in shaping the cognitive environment within which we all live, which is simply to say that we think and act on the basis of what we believe to be true. Journalism is an important (though by no means the only) source of what we (think we) know about the world, so of course it affect us (p. 34)

Jika dimaknai secara bebas, menurut McNair, jurnalisme masih merupakan elemen penting atas terbentuknya lingkungan kognitif atau pengetahuan tentang tempat kita hidup –sebuah tempat yang diperlukan untuk berpikir dan bertindak dengan dasar yang kita anggap benar. Jurnalisme masih amat penting sebagai salah satu sumber –meski bukan satu-satunya– tentang pengetahuan dunia yang nantinya akan berdampak pada kita.

Sebagai catatan akhir, dunia jurnalistik tetaplah menantang. Apalagi sekarang ini, dengan semakin terdeferensiasinya jenis dan tipe media massa. Bergelut di dalamnya, masih menjanjikan peran tersendiri. Tetap terbuka bagi para aktor penebar berita terpercaya, selama masyarakat masih memerlukannya. Jadi, tetap semangatlah para jurnalis dan calon jurnalis. (Selesai)

*) Zaenal Abidin EP adalah seorang sosiolog. Selain mengajar di Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan Politerknik Negeri Jakarta, juga menjabat sebagai Executive Director of the Center for Asian Studies (CeNAS) di Jakarta.

Catatan: Tulisan ini dikutip dari Maya Aksara, Books and Articles (http://mayaaksara.com/sosiologi-jurnalisme-brian-mcnair/), pada 17 April 2014

From → Kiriman

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: