Skip to content

Cerpen: Keluarga Terakhir (1)

by pada 31 Mei 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(dadanminda.wordpress.com)

(dadanminda.wordpress.com)

Oleh Berliana Qori’ah

Aku terbangun dari tidur yang hanya sebentar ini. Aku kembali terbangun dari mimpi panjang, yang beberapa hari belakangan selalu menghampiri. Rasa kantuk namun penasaran akan lanjutan mimpi, membuatku tak ingin kembali terjaga. Seakan dua kelopak mataku enggan membuka, dan menatap sang mentari.

Sayangnya, niatku dihalangi bunyi berdering nyaring yang tiba-tiba saja menusuk indera pendengaranku. Ah, Winnie the Pooh, favoritku yang bertengger di jam beker, sudah berteriak memanggil. Bising dan nyaris saja kulempar, agar suaranya tak mengganggu tidurku. Tetapi apa daya, mentari pagi pun sudah bertolak pinggang di langit seolah membangunkanku.

Ya, aku terbangun dari tidur dengan berjuta rasa penasaran yang berputar-putar di atas kepala. Kubuka selimut, yang sejak semalam melindungiku dari dinginnya udara pegunungan. Segeralah aku berdiri di depan cermin yang memperlihatkan seluruh wujud –dari kepala hingga telapak kaki– mengulang cerita dalam bunga tidur tadi malam.

Apa ya, maksudnya mimpi-mimpiku? Aneh, membuatku gelisah dan selalu bertanya-tanya saja.. Begitu gumamku dalam hati, seraya mengelus wajah menegaskan kesadaran.

“Anak gadis Ibu ini genit sekali, ya. Baru bangun tidur saja sudah asyik bercermin,” sela Ibu yang diam-diam masuk ke kamar dan mengagetkanku.

“Eh, Ibu, Mengagetkanku saja. Hehe,” lamunanku pun terhenti seketika.

“Apa, sih, yang dipikirkan? Kok, kamu bercermin sambil melamun? Anak Ibu sedang jatuh cinta, ya? Hehehe,” canda Ibu.

Enggak kok, Bu. Aku hanya bercermin dan tak memikirkan apa-apa,” jelasku.

“Oh, ya, sudah. Sekarang lebih baik kamu segera mandi, agar tambah cantik,” saran Ibu sambil ikut bercermin di sampingku.

Aku hanya mengangguk, meski mataku tetap menatap cermin. Ibu kemudian ikut bercermin, sambil menyisir rambut panjangku. Tindakannya justru membuatku makin tak ingin beranjak dari depan cermin.

Aneh, lagi-lagi aneh. Mengapa ini serupa dengan mimpiku? Tetapi wajah wanita yang hadir di mimpiku, berbeda dengan wajah ibu. Ah, sudahlah! Mimpi hanya bunga tidur, tak perlu kupikirkan terlalu dalam!

Suara kecil itu selalu berbisik lembut dalam nuraniku. Memecah keheningan, setelah Ibu selesai menyisir rambutku dan keluar dari kamar. Segera aku beranjak dari depan cermin, menuju ke kamar mandi.

Seusai berdandan sekadarnya, kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Aku adalah karyawan di hotel yang berlokasi di Puncak, Bogor. Pagi ini, aku harus kembali bekerja.

Sesampainya di tempatku bekerja, mimpi itu kembali merasuk dalam pikiranku. Datang tiba-tiba, di tengah ramainya pengunjung yang berdatangan memesan kamar. Pikiran itu sangat menggangguku.

Entah apa yang menyebabkanku terlalu dekat dengan mimpi itu? Sekuat hati aku melawan, segala pikiran yang mengganggu pekerjaanku itu. Walau sesekali kembali menyergap, aku tetap melawan bayangan mimpiku.

Hari telah malam, waktunya pulang ke rumah. Sebelum membuka pintu, aku melihat ibu duduk di sofa, sambil mengelus sebuah foto berbingkai kayu. Aku melihatnya dari balik jendela yang berkaca transparan, di samping pintu rumah.

Saat aku mengucapkan salam dan membuka pintu, Ibu terlihat kaget dan gugup. Disembunyikannya foto yang sejak tadi dielusnya. Melihat kehadiranku, ibu segera masuk ke kamarnya sambil menyembunyikan foto.

Aku pura-pura tidak mengetahui yang Ibu lakukan. Dari gerak-geriknya kuduga, mungkin beliau tidak ingin aku mengetahui foto itu. Karenanya, aku langsung masuk kamar dan tidur.

Benar saja. Mimpi itu datang kembali menemuiku di alam bawah sadar. Kali ini berbeda dari sebelumnya. Sambil tersenyum, wanita yang sering muncul dalam mimpiku itu juga mengelus sebuah foto.

*******

Mimpi itu menghilang kala alarm jam bekerku kembali berdering, menyaingi kokok ayam jago menyambut pagi. Mengapa wanita itu juga mengelus foto, seperti yang dilakukan Ibu semalam?

Pertanyaan baru kembali menyeruak dalam benakku. Apa mungkin karena Ibu semalam melakukan hal itu dan pikiranku yang selalu saja memikirkan wanita dalam mimpi, sehingga memunculkan cerita yang berbeda tadi malam? Ya, semoga saja demikian.

Saat hendak berangkat bekerja, aku memberanikan diri bertanya pada Ibu tentang siapa yang di dalam foto semalam. Walau hati berdegup kencang, aku harus tetap mengatakannya. Namun aat kutanyakan, Ibu hanya terdiam. Kedua matanya berkaca-kaca, nyaris meneteskan air mata.

Aku pun tak tega melanjutkan percakapan. Segera aku menyela suara ibu yang mulai lirih, meminta maaf atas pertanyaanku. Mungkin ini bukan waktu yang tepat, untuk bertanya pada Ibu. Tetapi, sepertinya, foto itu memang menyimpan rahasia besar dalam hidup ibu.

Saat kakiku mulai melangkah keluar rumah, ibu menarik tangan kiriku. Aku pun menghentikan langkah. Ibu menatapku penuh arti, seolah ada yang ingin ia sampaikan padaku.

Aku disuruhnya duduk di sofa, sedangkan Ibu segera masuk ke kamar. Beliau membawa foto yang berbingkai kayu, saat menghampiriku. Ya, itulah foto yang sejak semalam diamati dan dielus Ibu. Ibu membuka foto dari bingkainya, lalu menunjukkannya padaku. Aku tertegun memandang foto itu.

Terlihat eorang wanita cantik menggendong balita yang tersenyum manis. Balita itu adalah diriku di masa kecil. Wanita yang menggendongku itu? Siapa dia? Sepertinya tak asing bagiku. Tetapi, itu bukan foto Ibu sewaktu muda dahulu. Bukan juga keluargaku.

Tiba-tiba saja terlintas di ingatan, wajah wanita yang sering muncul dalam mimpiku belakangan ini. Ya, wajahnya mirip sekali dengan wanita yang menggendongku di foto itu.

Ternyata, benar. Sambil terisak, Ibu menceritakan tentang wanita dalam foto itu dan hubungannya denganku. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: