Skip to content

Cerpen: Keluarga Terakhir (2)

by pada 1 Juni 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian akhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(mompangjulu.wordpress.com)

(mompangjulu.wordpress.com)

Oleh Berliana Qori’ah

Dua puluh dua tahun lalu –tepatnya ketika usiaku genap 2 tahun– seorang wanita dengan penuh kepercayaan menitipkanku pada Ibu. Ketika itu, Ibu dan Ayah belum dikaruniai seorang anak. Dia sahabat karib Ibu, sejak di SMA dahulu.

Sahabat ibu itu, dialah Ibu kandungku. Aku baru mengetahuinya sekarang. Ibu yang selama ini membesarkanku, ternyata bukan Ibu kandungku.

“Tetapi, mengapa ibu kandungku tega meninggalkan dan menitipkanku pada Ibu? Apa dia membenci dan tidak menginginkanku? Apa salahku, Bu?” serentetan pertanyaan segera kulontarkan pada Ibu, seraya berderai air mata.

Ibu kembali menjelaskan semuanya, juga dengan derai air mata sepertiku. Sahabat karibnya keturunan darah biru. Ia mempunyai hubungan cinta, tetapi ditentang keras oleh keluarga. Terutama ayahnya.

Dilarang, hanya karena kekasihnya berasal dari keluarga yang tergolong rakyat jelata. Namun, wanita itu tetap mempertahankan cintanya dan memilih menikah diam-diam. Setahun kemudian, lahirlah aku ke dunia.

Ya, dunia yang mengasingkan diriku dari identitas sebenarnya. Wanita itu takut keluarganya tahu, sekarang dia telah menikah dan mempunyai anak perempuan. Dia takut dijemput paksa, yang menyebabkan dirinya akan tinggalkan suami beserta putrinya.

Kebahagiaan dalam persembunyian berganti duka, kala suaminya –yang menjadi ayah kandungku– mengalami kecelakaan kerja dan meninggal. Keberadaan wanita itu dan anaknya, tercium keluarga besarnya. Dengan segera ayahnya memerintahkan ajudan membawa kembali ke rumah, tetapi tanpa membawaku ikut serta.

Wanita itu sangat bingung, kepada siapa harus menitipkan anaknya. Terlintas dia mengingat sahabatnya, ibu. Akhirnya dengan berat hati, wanita itu menitipkan anaknya pada ibu. Hingga kini.

*******

Anak itu adalah aku. Selama 22 tahun ibu telah mengasuh dan menjagaku dengan penuh kasih sayang, layaknya anak kandung sendiri.

Mengapa begitu kejamnya keluarga ibu kandungku? Memisahkan anak dari ibu kandungnya, sekadar demi kehormatan keluarga. Sungguh, akal sehatku tak dapat menerima. Bagaimana mungkin?

Hanya karena kehormatan keluarga yang tak ingin tercoreng –akibat pernikahan terlarang ibu kandungku dengan ayah– lalu aku yang masih kecil dan tak berdosa, harus dipisahkan begitu saja?

Ibu membalik foto. Ternyata bukan hanya kertas foto yang bersih tanpa goresan, justru penuh tulisan indah. Ya, tulisan tangan ibu kandungku.

Isinya bisa dibilang surat pendek untukku. Ibu yang mengatakannya. Surat yang tertulis di balik foto, memang ditujukan untukku.

Anakku tersayang.. Ketika kamu membaca surat ini, tentunya kamu telah beranjak dewasa. Maafkan Ibu, yang tak dapat menyaksikan masa pertumbuhanmu hingga menjadi gadis belia. Apakah kini rambutmu panjang, Nak? Ya, Ibu sangat gemar memanjangkan rambut. Semoga kamu juga demikian.

Di usiamu yang beranjak dewasa, Ibu harap kamu dapat mengerti, Nak. Sahabat Ibu, mengetahui semua kisah hidupmu. Dengarkanlah penjelasannya. Sayangi dia, seperti Ibu kandungmu sendiri. Ibu sayang padamu, Nak. Temuilah keluarga ibu! Temuilah kakekmu, agar ia tahu kalau kamu adalah anak ibu. Bawa foto ini, Nak!

Begitulah pesannya, seakan Ibu langsung berbisik di telingaku. Di bawahnya dicantumkan sebuah alamat. Alamat itu? Itu adalah alamat tempat aku bekerja, yang tertuju pada hotel di Puncak tempatku bekerja. Aku segera berangkat kerja, sekaligus ingin mencari tahu alamat yang tercantum di belakang foto.

Sesampai di hotel, aku mencoba mencari informasi dari pegawai senior. Ternyata, hotel itu dimiliki oleh keluarga keturunan darah biru. Ya, pemilik hotel itu adalah kakekku.

Menurut informasi pegawai senior itu, kakekku tinggal di paviliun belakang hotel. Akhirnya aku menuju halaman belakang. Sebelumnya, aku tak pernah mengetahui adanya paviliun tersebut.

Bangunannya terlihat buatan tahun 60an. Tetapi paviliun itu tampak sepi, tak terdapat tanda-tanda kehidupan. Meski penasaran, aku pergi dari paviliun itu dan melanjutkan bekerja.

*******

Keesokkan hari, aku kembali mendatangi paviliun yang berada di halaman belakang hotel. Wah, hari ini justru terlihat ramai. Tak seperti kemarin.

Beberapa pegawai hotel juga terlihat mendatangi paviliun. Beberapa orang yang keluar dari sana, terlihat menyeka air mata dan berwajah murung. Aku bingung, ada apa sebenarnya? Bergegas kumasuki pintu yang terbuka.

Setiba di dalam paviliun, tubuhku terasa lemas tak berdaya. Air mataku seketika jatuh. Seseorang telah terbujur kaku dalam persemayamannya. Oh, jasad yang tak bernyawa itu adalah Kakekku.

“Nona, siapakah dirimu?”tanya seorang laki-laki separuh baya, yang tiba-tiba menghampiriku.

“Aku hanya ingin mengetahui sebuah kebenaran,” ucapku sambil terisak, dan menyerahkan foto ibu kandungku.

“Foto ini? Mengapa anak Tuan ada di dalam foto ini dan menggendong seorang balita? Siapa kamu sebenarnya?” kata laki-laki itu sambil menunjuk Kakek yang terbaring diam.

Rupaya laki-laki itu orang kepercayaan Kakekku, sejak dahulu. Dia mengetahui semua sejarah hidup keluarga Kakek, termasuk kisah ibu kandungku. Sayangnya, rahasia ini terlambat kuketahui. Akhirnya dengan terbata kusampaikan kembali kisah yang kudengar dari Ibu.

S,eraya menyeka air matanya, orang kepercayaan kakek bercerita. Ibu kandungku telah lama tiada. Beliau meninggal dunia, sekitar 2 tahun setelah dijemput paksa ajudan Kakek.

Kini Kakek pun kini telah meninggal dunia. Tak ada lagi keluarga kandungku yang tersisa. Baru saja aku ingin menanyakan pada satu-satunya keluarga kandungku tentang semua kebenarannya, tetapi takdir berkata lain.

Dengan berat hati, aku ikut mengantarkan kepergian Kakek hingga ke pemakaman. Di perjalanan pulang, aku bergumam dalam hati. Cukuplah ibu yang mengasuh dan menjagaku. Cukuplah dia yang kini kumiliki, sebagai keluarga terakhirku.

Kendati beliau bukan ibu kandungku, aku sangat menyayanginya. Biarlah foto ibu kandungku ini, menjadi bukti sejarah dan identitas diriku. Aku masih punya ibu, yang sama menyayangiku sejak dulu.. (Selesai)

From → Cerpen

One Comment
  1. alur cerita nya bagus sebenarnya kalo diperjelas ilustrasi yg lebih rumit. terlalu cepat mencapai ending hehe. klimaksnya kalau dibuat dramatis pasti aku akan berhayal saat membacanya. overall kalimat dan gaya bahasa baik kak. semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: