Skip to content

Cerpen: Ketulusan Demi Perubahan (1)

by pada 7 Juni 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(cakshon.com)

(cakshon.com)

Oleh Hesti Rohmanasari

“Nadia, sudah mengerjakan tugas History of English Literature belum?”  Itu sedikit ucapan Aini, teman karibku yang telah menyambutku di kampus.

Namaku Nadia Khairunnisa, 18 tahun, mahasiswi Jurusan Sastra Inggris di suatu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Ini semester kedua memasuki perkuliahan di bidang yang aku minati. Aku satu-satunya gadis di kampungku yang merantau demi pendidikan.

Di desaku, anak perempuan sebaya tidak diizinkan orangtua mereka untuk merantau jauh —apalagi untuk pendidikan. Bahkan, perempuan yang duduk di bangku Sekolah Menengah Umum juga jarang ditemui. Kebanyakan hanya berhenti di bangku SMP atau SD, tidak sedikit pula orangtua yang tidak menyekolahkan mereka.

Orangtua yang sedikit pengetahuan tentang pendidikan, memilih menikahkan anak gadisnya dengan laki-laki kaya di desa. Tetapi, aku tidak ingin bernasib sama seperti mereka. Aku ingin mengubah desa tempat kelahiran 18 tahun lalu di Kampung Tengah, Tanjung Uban.

*******

Minggu demi minggu perkuliahan semakin padat, aku disibukkan dengan berbagai tugas. Di samping harus mengerjakan berbagai tugas Dosen, aku juga harus mempersiapkan untuk Ujian Akhir Semester pekan depan. Pun teman-temanku juga tengah mempersiapkan untuk ujian mereka, meski tak sedikit yang hanya berongkang-ongkang kaki.

Tidak seperti aku, yang harus menyeberang pulau demi mendapatkan pendidikan terbaik. Jadi, aku tidak ingin sekadar lulus dan mendapatkan gelar Sarjana begitu saja. Aku ingin mendapatkan berbagai pengalaman, karenanya juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di kampus demi menunjang  ilmu yang didapat.

Cita-citaku yang paling utama ialah membuat orangtua bahagia, selain mengubah desaku. Lulus cepat sebagai yang terbaik dan mendapatkan banyak pengalaman, merupakan impian setiap mahasiswa. Namun semua itu tidak bisa hanya ditulis di kertas berwarna-warni, kemudian ditempel di dinding kamar begitu saja. Buktikan.

Aku ingin melakukannya, demi orangtuku dan demi desaku. Tidak mudah bagiku membagi waktu, antara perkuliahan dan organisasi. Tetapi setiap kali merasakan kurangnya semangat dalam diri, aku selalu mengingat tujuan utama merantau jauh di sini.

Aku tidak ingin setiap kali pulang ke kampung halaman, tidak ada yang dapat diberikan untuk desa. Meskipun hanya hal kecil, aku harus dapat membagikan yang diperoleh di kampus saat ini.

Hari ujian semakin dekat, aku pun belajar lebih giat. Hampir setiap hari menghabiskan waktu di perpustakaan bersama teman-teman, sebagai tempat kedua setelah masjid yang paling kusuka. Di perpustakaan aku mendapat berbagai ilmu, terkait bidang ilmu maupun pengetahuan umum.

Lantai empat adalah tempat favorit, karena terdapat rak nomor 800 tertuliskan KESUSASTERAAN yang paling sering aku cari. Hampir setiap hari aku dan teman-teman mengunjungi perpustakaan di sela-sela jam kuliah.

Aku tidak ingin membuang waktu muda, hanya untuk hal yang tidak bermanfaat. Sedapat mungkin aku akan menggunakan waktu, untuk hal-hal positif bagi diri sendiri maupun orang lain.

Tidak terasa hari ini ujian segera dimulai, yang berlangsung selama lima hari. Alhamdulillah segalanya lancar. Setelah ujian selesai, aku dan teman-teman sekelas berkumpul di taman fakultas membahas rencana liburan masing-masing.

*******

Teman satu kelasku yang berasal dari Yogya hanya lima orang, selebihnya mereka anak rantau sepertiku. Bedanya kampung mereka tidak sejauh aku, yang harus berjam-jam di pesawat.

“Kamu mau mudik kapan, Nad?” tanya Aini.

“Hari Selasa. Kamu ke Banten kapan, Ai?”

“Aku besok, Nad. Sepulang nanti, mau langsung packing.

“Yah, kita gak bisa keliling Yogja dulu, dong?Aku pasti merindukanmu, Ai,” sahutku sambil memeluk sahabat karib ini.

Me too say,” jawab Aini dengan manja, seperti dengan kekasihnya saja.

“Nanti jangan lupa bawa oleh-oleh khas Banten, ya. Awas, kalau aku gak dibawain,” ancamku melepas pelukan Aini.

“Siap, Boss. Kamu juga dong, masa cuma aku!” jawab Aini merajuk.

“Hahaha.. iya. Besok kubawakan foto-foto dari desa, biar kamu mendapat gambaran tentang Tanjung Uban. Desaku itu tercantum di peta, kok,  tidak seperti anggapanmu selama ini.” jawabku bersungut-sungut.

Sore itu pertemuan terakhir bersama teman-temanku, sebelum mereka pulang kampung. Kebersamaan yang terjalin sekitar satu tahun lebih, tidak mampu dilukiskan dalam kata-kata. Mereka teman-teman yang luar biasa.

*******

Waktu berlalu begitu cepat. Teman-temanku mulai berpamitan mudik. Begitu pula Zahra, teman satu kamar. Dia gadis asli Jombang, kota santri. Penghuni kost semakin sepi. Aku mulai mengepak barang-barang yang akan dibawa pulang.

Tidak lupa membeli sedikit oleh-oleh –seperti batik asli Yogya– untuk ayah dan ibuku di kampung. Tidak lupa juga membeli souvenir untuk anak-anak tetanggaku. Meskipun nilainya tak seberapa, namun niatku ingin menyenangkan hati mereka.

Hari keberangkatanku pun tiba. Jadwal depart on pukul 3 sore. Sesampainya di bandara, pesawat ternyata delay selama 45 menit. Aku bergegas menuju masjid di Bandara, melaksanakan shalat Ashar. Tepat pukul 15.45, seselesai check in pesawat pun take off. Tidak lupa kuucapkan bismillahirrahmanirrahim, mengawali perjalanan menuju desa yang selama ini kurinduka. (Bersambung)

*) Hesti Rohmanasari adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

 

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: