Skip to content

Cerpen: Ketulusan Demi Perubahan (2)

by pada 8 Juni 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(edukasi.kompasiana.com)

(edukasi.kompasiana.com)

Oleh Hesti Rohmanasari

Aku melaksanakan shalat maghrib di masjid Bandara, kemudian menyetop taksi untuk mengantarku ke rumah. Desa telah banyak berubah, begitu kesan pertama memasuki tempat lahirku 18 tahun silam. Jalan yang dahulunya berbatu putih, kini telah berwarna hitam legam oleh aspal. Sesampainya di rumah, aku mengetuk pintu kayu yang telah sekian lama tidak diganti.

Assalamu’alaikum,” ucapku sambil mengetuk pintu.

Terdengar suara wanita paruh baya —yang sangat aku kenali— menjawab salam dari dapur. Tak lama, kemudian pintu terbuka.

“Nadia, putriku!” seru wanita paruh baya, yang tak lain adalah ibuku. Beliau langsung memelukku erat, sebelum sempat aku mencium tangannya.

“Kamu pulang, kok, tidak bilang Ibu atau Ayahmu. Kalau tahu kamu pulang, Ibu bisa masak makanan kesukaanmu.”

“Ibu, maafkan. Nadia tidak mau membuat Ibu dan Ayah repot.”

Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, suara ayahku menyahuti.

“Ada apa Bu, malam-malam kok ribut. Ada siapa?” suara ayah yang terdengar keluar dari kamar mandi.

“Ini lho, Yah, Nadia pulang. Sini, cepat. Lihat putrimu sekarang, cantik seperti ibunya dahulu.”

“Nadia? Ibu jangan bergurau..”

“Cepat ke sini.”

Kalimat Ayah dan Ibu bersahut-sahutan, antara ruang tamu dan kamar mandi. Sementara aku masih berdiri menunduk, mencium tangan Ibu.

“Nadia!” seru Ayah dengan suara beratnya.

“Ayah, assalamu’alaikum.” jawabku, lalu meraih tangannya untuk kucium.

Wa’alaikumsalam, Nak. Kamu berbeda sekali dengan dahulu. Kamu gadis yang sangat cantik, dengan balutan jilbabmu ini.”

“Terimakasih, Yah. Ini semua juga berkat Ayah dan Ibu, tentunya.”

“Ayah bangga padamu, Nak. Duduk di sini. Ibu ini bagaimana, anaknya pulang tapi tidak disuruh duduk,” ucap ayah meledek Ibu.

“Saking senangnya, Yah, sampai Ibu lupa menyuruh Nadia duduk.”

Kami duduk di kursi sambil menceritakan perihal kuliah, kegiatan dan kamar kostku di Yogya. Juga tentang orang-orang Yogya yang terkenal ramah maupun masakannya dan lain-lain.

*******

Libur pulang kampung ini kumanfaatkan sebaik mungkin. Aku membuka perpustakaan kecil di rumahku yang sederhana. Anak-anak di sekitar rumah berbondong-bondong datang, sekadar melihat maupun membaca buku cerita yang kubawa dari Yogya.

Aku juga memberi semacam kursus bahasa Inggris, bagi anak-anak yang mengunjungi perpustakaan miniku. Tentu saja tidak dipungut biaya, aku melakukannya ikhlas.

Tak terasa, ini minggu terakhir aku liburan bersama anak-anak di desaku.

“Besok kak Nadia kembali ke Yogya lagi, ya?” tanya seorang anak berumur tujuh tahun.

“Iya Sita. Memangnya ada apa?”

“Yaah, lalu siapa yang mengajari kita bahasa Inggris?” protesnya sedih.

“Tenang saja, kan ada Kak Lina. Dia akan kakak minta ajari kalian di sini. Pasti dia tidak keberatan,” jawabku, coba menenangkan hatinya.

Ternyata penjelasanku tidak cukup, Sita terus memberondong dengan pertanyaan lain.

“Tapi, Kak Lina jauh. Apa dia mau jauh-jauh ke sini? Kak Lina juga harus sekolah, bagaimana bisa belajar bahasa Inggris seperti Kak Nadia?”

“Sita sayang, pertanyaanmu seperti orang dewasa saja,” jawabku sambil membelai rambut si bocah. “Kak Nadia akan bicara dengan Kak Lina, dia pasti bisa membantu kita. Oke? Jangan khawatir, deh..”

“Oke, deh. Aku percaya sama Kakak.”

*******

Dua hari setelah kejadian Sita yang takut kehilanganku –karena tidak akan ada yang mengajari mereka bahasa Inggris lagi– aku segera kembali ke Yogya.

Aku berpamitan dengan tetangga dan anak-anak yang sedari subuh telah memenuhi rumahku. Aku tidak habis pikir pada anak-anak ini.

“Kak, kita punya ini untuk Kak Nadia,” kata Sita mewakili teman-temannya, sambil menyodorkan kotak kecil yang dibalut kertas pembungkus kado.

“Ini apa, sayang?” tanyaku.

“Bukanya nanti, ya, kalau sudah sampai di Yogya, Kak. Ini kita buat bersama, maaf kalau jelek, ya, Kak..”

Kemudian mereka satu persatu memelukku.

Dengan penuh haru dan terbata-bata, aku berusaha menyampaikan jawaban. “Terimakasih, ya, sayang. Kalian anak-anak yang baik. Kak Nadia pasti merindukan kalian.”

Tak terasa butir air mata jatuh, melihat anak-anak yang semakin erat memelukku. Beberapa anak perempuan —termasuk Sita— ikut menangis tersedu-sedu.

*******

Ayah dan Ibuku mengantarku ke depan rumah, juga beberapa tetangga turut melepas kepergianku kembali ke Yogyakarta.

“Ayah, Ibu. Nadia berangkat dulu, ya. Angkotnya sudah menunggu,” kataku pelan

“Iya, Nak. Ayah dan Ibu hanya bisa mendo’akan dari jauh. Semoga kamu di sana sehat dan sukses untuk semester ini, ya. Tetangga-tetangga pasti turut mendo’akanmu.”

“Terimakasih, Yah. Nadia akan menjadi kebanggaan kalian dan desa ini. Nadia akan mengubah desa ini lebih baik dan maju lagi. Nadia pamit Yah, Bu. Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumsalam.”

Tetangga yang sedari tadi berkumpul di depan rumah sederhanaku berseru-seru, “Hati-hati, Nadia. Semoga kuliah kamu sukses dan membawa nama desa kami.” Aku pun mengangguk mengiyakan, sambil melambaikan tangan dari angkot yang kutumpangi menuju Bandara,

Rasanya berat meninggalkan Ayah dan Ibu yang sedih raut wajahnya, namun terlihat bangga –karena tetangga memberikan semangat dengan kasih sayangnya padaku.

Ya, aku berjanji. Desa ini akan kuubah menjadi lebih baik. Tak ada yang tak mungkin, meski aku hanya seorang anak desa terpencil. Akan kubuktikan. Suatu hari nanti, desa ini membutuhkanku lebih untuk masa depan.

Aku meneguhkan niat dapat menjadi orang yang berguna. Aku akan menjalani kuliahku dengan lebih baik lagi. Aku yakin, pasti bisa.

*) Hesti Rohmanasari adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: