Skip to content

Cerpen: Kembali Pulang (1)

by pada 14 Juni 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

cerpen kembali

(uniknya.com)

Oleh Novia Anggraini*

Kecipak bunyi air yang bersentuhan dengan kakinya, seolah meresonansi ingatan Kasih akan masa kecilnya bertahun-tahun silam. Dengan bongkahan senyum yang penuh kerelaan untuk bersatu dengan kampung halamannya, Kasih membenamkan kakinya semakin dalam.

Gayung pun bersambut, sepertinya kampung halaman juga merindukan kedatangan kembali seorang gadis ayu, yang telah meninggalkannya berpuluh-puluh tahun lalu.

Dengan sangat perlahan seluruh bagian tubuh Kasih –mulai dari kaki, naik ke perut, kemudian menyentuh leher dan wajahnya– menjadi satu dengan kampung halamannya. Sudah lama sekali Kasih merindukan desa kecilnya, yang damai dan hijau permai.

Kerinduan yang membuncah dan hampir tak tertahan lagi, membuat Kasih tak peduli dengan teriakan hampir semua orang yang memandangnya panik.

“Hei, apa yang kau lakukan! Apa kau sudah gila?” teriak seorang lelaki yang memanggul goni berisi ikan.

“Hentikan perbuatanmu. Itu hanya akan melukai dirimu sendiri,” ujar seorang perempuan paruh baya, dengan nada keibuan.

“Apa kau tuli, gadis?” sebuah pertanyaan kasar, dilontarkan lelaki bertubuh kekar di seberang jalan.

Kasih tidak tuli. Ia mendengar setiap perkataan yang ditujukan padanya dengan sangat jelas. Nuraninya lah yang tuli dan tidak mau mendengar teriakan-teriakan panik itu.

Hatinya terlanjur rindu dan ingin kembali memeluk setiap jengkal tanah kelahirannya. Kata hatinya berteriak, memberontak. Kalau yang lain bisa kembali ke kampung halamannya dengan mudah, kenapa aku tidak diperbolehkan?

Kembalilah, Kasih. Tidak ada yang melarangmu. Mari bersatu denganku. Kau tahu, aku juga sudah lama merindukanmu. Sudah tumbuh besar menjadi seorang gadis ayu, kau, rupanya.

Antara sadar dan tidak, suara alam seolah menjawab pertanyaannya. Kasih yakin, itu adalah jawaban yang dilontarkan kampung halaman padanya. Ia tersenyum manis, ketika menyadari kerinduannya tidak bertepuk sebelah tangan.

Bukan hanya ia yang merindukan kampung halaman, tetapi kampung halamannya juga turut merindukannya. Perasaan merindukan dan dirindukan itulah, yang semakin membuat hati Kasih mantap untuk melanjutkan niatnya.

Satu suara terakhir yang sempat dihantarkan gelombang udara ke dalam gendang telinga Kasih berbunyi, Pergilah, Kasih. Pergilah kemana saja kau ingin. Berbahagialah, sayang. Kembalilah dengan tenang ke kampung halaman yang amat kau rindukan.

Sebuah suara merdu yang amat ia kenali siapa pemiliknya. Suara seseorang yang juga terlahir dari kampung halaman yang sama dengannya.

Dan semesta kemudian menjadi saksi peleburan rindu, yang begitu agung dan mengharukan. Seperti yang dititahkan alam, Kasih telah bersatu dengan kampung halamannya dengan penuh kedamaian.

Diselingi isak tangis beberapa orang yang bersimpati, atas kecintaannya terhadap tanah kelahiran yang begitu ia junjung tinggi. Barangkali, itulah yang orang namakan cinta sejati.

*******

Degup jantung Kasih menujukkan lengkungan garis naik turun yang tidak stabil. Sebuah garis penanda detak jantung yang memisahkan kehidupan dan kematian. Dan kini Kasih, terjebak di antara lengkung-lengkung garis itu; ia telah koma tiga hari lamanya.

Tubuhnya yang langsing telah menjelma kurus kering dengan rambut-rambut kusam yang menjalar di sepanjang bahu. Aksen ayu dan kalem yang biasa terlihat di wajahnya, sekarang tertutup kepucatan yang luar biasa.

Ayah, Ibu dan Rama –adiknya, ketiganya bergantian memasang topeng berbentuk senyum, ketika satu per satu sanak famili dan sahabat-sahabat datang menjenguk Kasih.

Setiap yang datang berkunjung menampakkan sebuah pertanda kehilangan yang penuh, entah melalui ekspresi yang sengaja mereka tampilkan atau melalui benda-benda yang mereka bawa: rangkaian bunga, boneka-boneka lucu dengan berbagai bentuk kesenangan Kasih, maupun makanan dan jajanan yang menjadi favorit gadis itu. Mereka telah siap berpesta untuk menyambut sebuah kehilangan.

Ibu Kasih menjadi satu-satunya orang di ruangan yang masih percaya, anaknya tidak akan pergi begitu saja. Kasih yang begitu tangguh, kuat dan tegar menerima kenyataan –dirinya mengidap penyakit jantung yang kronis– tidak akan menyerah begitu saja dengan sakit yang diujicobakan Tuhan.

Mereka yang sedang berpesta air mata di ruangan tempat Kasih dirawat, selayaknya merasa tertipu. Andai saja mereka tahu, Kasih justru tengah berbahagia di dunianya yang lain.

Tuhan tengah memutarkan sebuah film –mengisahkan memori masa kecil Kasih yang begitu indah– dengan Kasih sebagai satu-satunya pelaku sekaligus penonton yang ada di sana. (Bersambung)

*)Novia Anggraini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

 

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: