Skip to content

Cerpen: Gadis Pingitan (1)

by pada 28 Juni 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(minightloved.blogspot.com)

(minightloved.blogspot.com)

Oleh Berliana Qori’ah

Cantika, gadis belia yang kini duduk di bangku kuliah tingkat pertama sebuah Universitas di Jakarta adalah anak semata wayang. Kedua orangtuanya sibuk bekerja. Cantika hanya ditemani asisten rumah tangga yang selalu melayani kebutuhannya.

Di kampus, Cantika memiliki teman se-geng. Vita, Kiran, dan Ranti, mereka berempat memang sangat akrab.

Pagi hari di kelas, teman geng-nya mengajak Cantika pergi ke pesta ulang tahun Vico, seorang cowok yang cukup favorit di kelas mereka.

“Ka, kamu diundang kan sama Vico?” tanya Vita.

“Acara apa, Vit?” jawab Cantika, bingung.

“Ulang tahunnya yang ke-20. Nanti malam, lho, acaranya jam 8. Emangnya kamu ga diundang? Masa, sih? Kamu kan lagi deket sama Vico,” tanya Vita heran.

“Sumpah, deh, Vit. Aku beneran ga diundang. Ga tau, tuh, kenapa?” sahut Cantika lantas murung.

“Hey, semua. Lagi pada ngomongin apaan, sih? Ajak aku, dong,” sambar Ranti yang baru datang, bagai petir mengelegar.

“Duh, Ranti. Kamu selalu buat kami kaget, deh. Suaramu itu lho, buat orang sakit kuping saja,” respon Kiran sinis.

“Iya, iya.. maaf, deh. Tapi, kangen, kan, sehari ga denger suaraku? Hihi,” kilah Ranti narsis.

“Huuuu.. kepedean kamu, Ran. Ada kamu juga jadi berisik. Haha..” sambut Cantika sambil tertawa.

“Hehe.. Omong-omong kalian lagi ngomongin apaan, sih? Kepo, nih, aku,” tanya Ranti penasaran lagi.

“Cantika belum dapat undangan pestanya Vico. Jahat banget, ya, Vico. Masa Cantika ga, sementara ketiga temannya ini diundang,” jelas Kiran.

“Undangan buat Cantika, ya? Hehe.. Ada di aku, nih. Maaf ya, Ka. Aku lupa kasih ke kamu,” tutur Ranti menggaruk-garuk kepala, seraya memberikan undangan pada Cantika.

“Haduh, Ranti. Dong-dongmu itu lho, kapan sih hilangnya?” sambar Kiran.

“Tuh, kan, kamu diundang sama Vico. Dari awal aku, sih, ga yakin kalau kamu beneran ga diundang. Hahaha..” ujar Vita.

*******

Usai kuliah, Cantika pulang ke rumah. Rumah megah yang ditopang 2 pilar besar itu tampak sepi. Hanya angin berbisik, menyapa pekarangan yang cukup luas di depan rumah. Suara pegangan pintu sangat nyaring ketika Cantika hendak membuka pintu. Tak ada yang menyambutnya. Terdengar suara langkah kaki asisten rumah tangga Cantika dari ruang tengah.

“Mbak, rumah kok sepi banget? Papa dan Mama belum pulang kerja, ya?” tanya Cantika.

“Iya, Non. Tuan dan Nyonya belum pulang kerja. Non Cantika mau dibuatin orange juice?” jawab Mbak Larsih, asisten rumah tangga Cantika yang setia.

“Hmm… Boleh deh, Mbak. Haus banget, nih, aku,” kata Cantika sambil mengelus tenggorokannya.

 “Oke, Non. Segera Mbak buatin,” sahut Mba Larsih segera menuju dapur.

Lho, pintunya kok dibiarin terbuka? Mbak Larsih, kenapa pintunya ga ditutup?” tanya Mama Cantika, yang tiba-tiba pulang.

“Eh, Cantikanya Mama udah pulang,” kata Mama Cantika lagi.

“Hmm, Mama tumben pulang siang? Biasanya malam terus,” sahut Cantika, segera memeluk mamanya.

“Iya, sayang. Kerjaan Mama di kantor ga terlalu banyak, jadi bisa pulang siang, deh. Lagipula, kepala Mama sedikit pusing,” jawab Mama Cantika, seraya memegang keningnya.

“Oh, Mama istirahat deh, di kamar. Aku lagi nunggu orange juice buatan Mbak Larsih dulu,” kata Cantika.

 “Oh iya, Ma. Aku mau izin sama Mama. Nanti malam aku dibolehin ya, pergi ke pesta ulang tahunnya Vico? Aku pergi berempat, kok, sama Vita, Kiran, dan Ranti. Boleh ya, Ma?” bujuk Cantika.

 “Nanti malam? Jam berapa acaranya?” tanya Mama Cantika mengerutkan dahi.

“Jam 8 malam, Ma, acaranya. Boleh ya, Ma?” bujuk Cantika lagi.

“Acaranya malam sekali, Ka. Sebaiknya, kamu jangan pergi ke pesta itu! Nanti kamu kenapa-kenapa. Masa, anak gadis keluar rumah larut malam?” sanggah Mama Cantika melarang.

 “Yah, Mama.. Kok, dilarang, sih? Please, Ma. Sekali ini saja, deh. Aku janji setelah pestanya selesai, langsung pulang kok,” rajuk Cantika tak bosan.

“Sekali ga boleh, ya ga boleh. Kamu harus tetap di rumah, pokoknya ga boleh pergi! Jangan ikut teman-temanmu, yang ga punya aturan itu. Pergi semaunya, tak kenal waktu dan sering bolos kuliah. Mama tidak suka, kamu terlalu akrab sama mereka,” tandas Mama Cantika.

Berkali-kali membujuk pun, Mama Cantika tetap tegas berkata tidak. Permintaan izin Cantika pada Mamanya, gagal terpenuhi. Bukannya diizinkan, malah diceramahi untuk tidak terlalu akrab dengan teman se-gengnya.

Cantika kecewa, segera masuk ke kamar dan menutup pintu kencang-kencang. Mama Cantika hanya bergeming, lalu masuk ke kamar juga untuk istirahat.

Ketika malam tiba, Cantika masih berdiam diri di kamar sejak tadi siang. Perutnya yang keroncongan pun tak dipedulikan. Ia tetap saja menyimpan kecewa. Rayuan Mbak Larsih di depan pintu kamar –sambil membawakan orange juice, nasi goreng seafood, dan puding cokelat pun– bagai angin lalu. Rasa kecewa pada Mama, membuatnya enggan melahap minuman dan makanan favoritnya itu.

Bayangan suasana pesta ulang tahun Vico, tiba-tiba bergelayut di pikirannya. Bagaimana busana yang dikenakan ketiga teman se-gengnya? Atau, seperti apa tampilan Vico di acara ulang tahunnya? Pasti makin tampan dan gagah. Ya, pikiran-pikiran itu makin jadikan Cantika menyesal, karena gagal pergi ke pesta.

*******

Mentari pagi mulai menampakan diri, dengan sinarnya yang memberi kehangatan. Sinar mentari itu perlahan masuk ke dalam kamar Cantika, melalui jendela yang sejak semalam lupa ditutup dengan gorden.

Mbak Larsih kembali mengetuk pintu kamar, agar Cantika segera sarapan pagi. Cantika pun terbangun, langsung bersiap dan menuju ke meja makan untuk sarapan pagi.

“Hey, selamat pagi gadisnya Papa,” sapa Papa Cantika di meja makan, sambil menyuap sesendok nasi goreng.

 “Ya, Pa. Selamat pagi juga,” sahut Cantika lesu.

Lho, kok lesu gitu? Oh iya, semalam Papa ga lihat kamu. Kata Mbak Larsih, kamu seharian ada di kamar. Kenapa?” tanya Papa Cantika heran.

Ga apa-apa, Pa. Lagi pengen di kamar saja,” sahut Cantika singkat.

“Cantika kenapa, Ma? Tumben, lesu gitu? Cantik-cantik, kok, murung gitu? Hehehe..” bisik Papa ke Mama Cantika.

“Biasa, Pa. Mau keluar malam sama teman-temannya. Anak gadis, kok, ya, pergi larut malam th0,” jawab Mama Cantika agak sinis.

 “Oh, ya sudah. Jangan diperpanjang. Ayo lanjut lagi sarapannya, nanti kesiangan ke kantornya.” (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: