Skip to content

Tabahlah, Bu..

by pada 15 Juli 2014

Pengantar Redaksi:Dengan segala kerendahan hati kami mohon dimaafkan, akibat kesibukan yang sangat menyita waktu para pengelola beberapa pekan belakangan ini, kami sedikit lalai menerbitkan naskah untuk Anda semua, Pembaca Budiman.

Mulai hari ini, kami berupaya kembali rutin sesuai jadwal terbit biasa. Dan tetap menerima kiriman naskah, baik feature maupun karya sastra, dari Anda via email kami di alamat xpression_journalism@gmail.com atau kiriman_naskah@xpressijurnal.com. Terima kasih.

(www.iluvislam.com)

(www.iluvislam.com)

Oleh Bucimuchal Pujakemi

Jalan kehidupan memang sulit ditebak. Skenario Tuhan begitu menjebak. Salah jalan sekali, bukan tidak mungkin kau akan tersesat berkali-kali.

Teman, selama yang kukenal, Ibu adalah seorang yang dermawan, tak sungkan mengeluarkan uang untuk apa pun. Baik untukku, maupun orang lain yang membutuhkan. Akan tetapi, kebaikannya ini membuat seorang laki-laki –kelak menjadi Ayah tiriku– lantas menguras habis seluruh tabungan yang Ibu punya.

Sudah 20 tahun Ibu bekerja sebagai pegawai Rumah Sakit, selama itu pula ia mengumpulkan rupiah untuk keluarga tanpa lelah. Ibu harus hidup mandiri, sejak Ayah memutuskan pergi untuk kebahagiaan yang diidamkannya: menikahi gadis SMA.

Pagi hingga petang, Ibu sibuk dengan resep dan racikan obat untuk orang sakit. Sungguh, seperti tak ada lelah baginya. Biar hanya mengurusi seorang buah hati, Ibu tetap bekerja keras. Mau tidak mau, ada atau tidak: makanan dan gizi yang cukup untukku, harus ia penuhi.

Suatu hari, seorang laki-laki masuk ke dalam kehidupan kami. Segala macam kebaikan, ia tunjukkan pada awalnya. Mengajakku ke taman bermain dan mengunjungi tempat wisata terkenal di Jakarta Utara. Belakangan aku tahu, biaya yang dikeluarkan semua berasal dari kantung Ibu. Entah apa yang merasuki pikiran Ibu, hingga ia takluk kepada manusia semacam itu.

Aku lupa, kapan tepatnya mereka mengucap ijab kabul untuk setia sehidup semati. Kalau tidak salah, saat itu aku masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Aku masih lugu, teman. Tak tahu apa-apa tentang ini itu. Aku hanya bisa mengangguk, menuruti perintah Ayah tiriku.

Adikku, Rizky, lahir setelah sekitar 2 tahun pernikahan mereka. Senang bukan kepalang, ketika melihat Ibu melahirkan seorang adik laki-laki. Adik yang sangat lucu. Tapi sayang, ia bernasib sama dengan kakaknya: ditinggal pergi Ayah kandungnya.

Dua kali Ibu gagal menjaga keutuhan rumah tangga. Dua kali pula ia merasa berdosa, karena buah hatinya hanya bisa melihat sang Ayah dari foto yang dipajang di lemari kaca.

Saat Ibu tak mampu lagi membeli susu untuk si bungsu, ia baru memasuki usia 1 tahun. Masih perlu gizi tambahan, agar pertumbuhannya tak lamban. Apa daya, lemari pendingin yang Ibu beri saat ulang tahunku beberapa tahun sebelumnya harus rela dijual.

Kupikir tak apa, toh, uangnya akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Belum lagi aku –yang ketika itu baru memasuki Sekolah Menengah Pertama– harus membeli beberapa buku pelajaran.

Sempat –beberapa hari sebelum akhirnya mengiyakan keinginan Ibu untuk menjual satu-satunya lemari pendinginku– aku merengek, “Jangan dijual, nanti aku nggak punya kulkas lagi.”

Teman, yang kuingat, Ibu memasang wajah tak tega saat itu. Akan tetapi di lain sisi, kebutuhan rumah tangga harus terpenuhi. Biarlah, biar aku yang harus berbesar sabar.

Hari terus berjalan, dan bukan hanya lemari pendinginku yang harus dijual. Segala benda yang masih bernilai rupiah, dijual Ibu: dari kursi jati hingga televisi.

Ibu bukan menyengsarakan, ia justru menjaga perut kami dari kelaparan. Teman, duniaku jungkir balik. Dari serba terpenuhi, menjadi ‘yang penting perut terisi.’

Percaya kah jika kubilang. Ibu sedang marah ketika aku menuliskan ini? Benar, belakangan ini Ibu lebih gemar marah-marah ketimbang tertawa. Mungkin, ia kelelahan menghadapi aku yang seenaknya sendiri dan sulit jika disuruh ini dan itu.

Tahukah kalau saat ini aku sedang berjanji pada diriku sendiri, aku harus lebih sering membuatnya tertawa daripada marah. Mulai saat ini, aku harus lebih sering menyebut namanya dalam doa. Belajar lah untuk tabah, Bu.

Waktu memang kejam, ia akan terus berlari. Tak peduli kau, siap atau tidak, mengikutinya dari belakang. Dengan segala yang tertanam dalam jiwa tangguhmu, aku mencintai Ibu. Setabah kemarau panjang menantikan hujan, begitulah hatiku, Ibu..

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: