Skip to content

Cerpen: Rumah Sejati (1)

by pada 19 Juli 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(www.demotix.com)

(www.demotix.com)

Oleh Vivin Septiani*

“Setiap orang mampu pergi menjelajahi setiap penjuru dunia untuk mencari nafkah, jati diri, peruntungan dan pengalaman. Namun tak ada yang mampu menawarkan kehangatan lebih baik dari tanah air dan pelukan hangat ibu, sang rumah sejati. Seberapa pun jauhnya pergi, rumah selalu setia menunggu kita pulang untuk beristirahat.”

“Nina, what’s wrong with you lately? Your record is so slow,” ucap Jake Bloom, pelatihku.

“I’m sorry, Jake. Aku berusaha lebih fokus,” jawabku menyesal. Belakangan ini entah mengapa, konsentrasi memang terasa begitu berat bagiku.

“Latihan hari ini kita akhiri sampai di sini saja. Beristirahatlah dan segera tuntaskan apapun masalah yang membebani pikiranmu Kau harus fokus! Pertandingan tinggal sebulan lagi,” Jake pun meninggalkanku seorang diri di kolam setelah menyelesaikan ucapannya. Ia tampak kesal.

ASIAN Games kali ini, yang akan diadakan di Korea Selatan memang tinggal sebulan lagi. Aku tahu, seharusnya di saat begini tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali. Atau latihan intensifku selama setahun di Brisbane, akan menjadi sia-sia. Apalagi pertandingan ini merupakan titik tolak yang menandai debutku di dunia internasional.

*******

Hei, what’s going on?” suara familier itu pun mengusik lamunanku. Park Jo Woon duduk di sebelah dan menatap dalam mataku, seolah ingin membaca yang berkecamuk di pikiranku.

Park Jo Woon adalah kekasihku. Kami bertemu setahun lalu, saat memulai pelatihan intensif ini, dan baru mulai berpacaran beberapa bulan. Dia perenang hebat berdarah Korea, prestasinya tidak bisa dibandingkan denganku. Sudah berkali-kali memenangkan turnamen internasional, bahkan olimpiade.

There’s nothing wrong,” sahutku sambil memberikan senyum terbaik yang kumiliki. Aku tidak ingin membuatnya khawatir.

Don’t lie to me. Kamu tidak akan duduk sendirian di taman malam-malam begini dan Coach Jake juga tidak akan marah seperti tadi, bila kamu baik-baik saja. Kamu tidak bisa membohongiku. Jadi, ceritakan padaku. Ada apa denganmu?” Ia berbicara dengan bahasa Inggrisnya yang khas.

Benar, aku memang tidak pernah bisa membohonginya. Meskipun kita baru bertemu setahun silam, tapi dia mengenalku dengan sangat baik. Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang yang akan aku katakan.

I just miss my home so much lately.

“Tapi, kamu sudah sering sekali merindukan Surabaya.”

“Aku tahu, tapi kali ini rasa rindunya sangat menyakitkan. Aku rindu dengan masakan rumah, masakan Surabaya. Aku juga sangat rindu ibu. You know how does it feel, when every single moment in here makes me remember about my home. The feeling is so torturing me.” Mataku terasa panas saat aku mengatakannya. Sejurus, bulir-bulir kehangatan pun mulai membasahi pipiku.

Jo Woon terdiam sejenak, tak lama kemudian ia meminta ponselku. Aku tak tahu yang ingin dilakukannya, hingga ia menempelkan ponsel ke telingaku. Terdengar suara yang begitu familier di seberang sana.

“Halo, ada apa Mbak? Kok, malam-malam telepon?” suara serak Ibu terdengar lelah. Suara yang begitu kurindukan, tiba-tiba memenuhi pendengaran hingga membuat lidah kelu.

“Ibu, apa kabarnya? Gimana kabarnya Ayah dan Adik?” tanyaku dengan suara tercekat.

Aku harus berusaha keras agar suara terdengar normal, karena aku tahu Ibu tidak suka mendengar atau melihat anaknya menangis. Ia ingin anak-anaknya tegar, tangguh, dan mandiri. Selain itu, aku juga tidak ingin Ibu khawatir.

“Baik Mbak, semua baik-baik saja disini. Surabaya juga lagi sering hujan, jadi hawanya gak begitu panas kayak biasanya. Mbak sendiri gimana di sana?”

“Baik Bu, Ibu lagi apa? Istirahat, lho, Bu.”

“Iya, Ibu lagi nonton tv. Sebentar lagi juga tidur. Mbak juga istirahat, sama makan yang teratur, ya, di sana. Semoga bisa menang nanti lombanya, Ibu doakan dari sini.” Aku bisa merasakan kelembutan, dalam suara serak Ibu.

“Iya Bu. Sudah dulu, ya, Bu, Nina mau istirahat,” kataku cepat dan segera menutup telepon, setelah ibu mengucapkan salam.

Aku tidak bisa berbincang lama di telepon, karena tidak sanggup menahan air mata lebih lama lagi. Tak lama kemudian, aku merasakan kehangatan menyelimuti. Rupanya Park Jo Woon memelukku. Dia membiarkanku terisak dan menumpahkan rasa sesak yang kurasakan selama ini.

*******

“Kausmu jadi basah. Maaf.” Aku memulai pembicaraan setelah merasa lebih baik.

Park Jo Woon hanya tersenyum, “Apa kamu masih ingat, saat pertama kali kita bertemu?”

“Hmm, iya. Tapi, sepertinya tidak ada sesuatu yang istimewa pada pertemuan pertama kita. Kita hanya berpapasan. Kenapa kamu tiba-tiba mengungkit hal itu?” tanyaku penasaran dengan pertanyaannya yang tak terduga dan tiba-tiba.

Pria di sebelahku kembali tersenyum dan pandangannya menerawang,

“Saat kita berpapasan, ingat kah apa yang kanu lakukan? Kamu tersenyum dan menyapaku.”

“Dan aku juga melakukannya kepada orang lain? Itu memang sudah menjadi kebiasaanku. Lalu?”

“Itulah yang membuatmu spesial. Kamu tahu, kan, kalau kebiasaanmu tidak lazim di sini.”

“Aku tahu. Tapi aku juga tidak ingin meninggalkan kebudayaan itu, karena bagiku merupakan salah satu bentuk penghormatan ke orang lain.”

“Kalian adalah orang-orang yang ramah. Kamu juga peduli dengan teman-teman yang lain. Orang Indonesia sangat istimewa dan menyenangkan.”

“Kamu tahu? Kamu seperti oasis di padang pasir, membawa air dan kesegaran di tengah-tengah individualisme di sini. Jarang sekali melihat orang Indonesia di arena ini, jadi kamu istimewa,” lanjut kekasihku memuji.

“Aku tahu, kamu telah berusaha sangat keras untuk bisa sampai di sini. Jadi, bila kamu merindukan negaramu, berkacalah di cermin. Karena Indonesia selalu ada di dalam dirimu. Dan ingatlah alasanmu berada di sini.”

Ucapanyang membesarkan semangatku, diakhiri dengan senyum khasnya. Ya, senyum yang telah membuatku jatuh cinta.. (Bersambung)

*) Vivin Septiani adalah mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: