Skip to content

Sahabat Terik dan Hujan

by pada 22 Juli 2014
(fikomug2012.wordpress.com)

(fikomug2012.wordpress.com)

Oleh Widya Sri Kurniawati

Tidak mudah bersahabat dengan panasnya terik matahari, dinginnya hujan yang membasahi bumi, dan aroma yang tidak wangi. Bertahan untuk mencari rezeki. Melewati rintangan yang silih berganti. Siapakah sebenarnya mereka? Dimana mereka berada?

Ini adalah pagi yang indah untuk mengawali aktivitas di hari libur. Kulangkahkan kaki bersama ibu menuju pusat perbelanjaan, hanya untuk melihat-lihat dan membeli beberapa keperluan memasak. Tidak ada niat selain hal itu. Namun langkahku terhenti, ketika melihat seorang nenek penjual serbet.

Penampilannya begitu sederhana. Sang nenek selalu menghampiri dan menawarkan serbet yang dibawanya kepada orang yang berlalulalang.. Tidak seberapa memang penghasilan yang didapat, namun sang nenek tetap bersyukur karena cukup untuk makan untuk hari ini. Sngguh hebat dirimu, Nek. Seharusnya saat ini dirimu hanya beribadah dan duduk manis menikmati hidup yang indah, tak lagi harus berupaya mencari sesuap nasi.

Tak hanya Nenek itu yang menarik perhatianku, juga anak-anak penjual kantong plastik hitam. Satu kata untuk mereka, luar biasa! Karena aku yakin, tidak banyak yang memiliki keberanian untuk mendapat rezeki halal. Sebagian besar orang lebih memilih gunakan cara instan, seperti pejabat-pejabat tinggi di negeri ini.

*******

Pemandangan pagi yang luar biasa, memberi inspirasi dan motivasi untuk diriku menjadi lebih baik ke depan. Kulanjutkan langkah kaki ke bagian sayur mayur, miris rasanya melihat keadaan tempat berdagang yang kurang layak. Aroma tidak sedap mulai menusuk hidungku. Aku mengeluh pada ibu, ingin segera keluar dari tempat itu.

Aku merasa payah, karena tidak sekuat mereka yang setiap harinya mampu bertahan dengan keadaan seperti itu. Tapi aku merasakan bahagia yang sederhana, melihat sikap ramah para penjual terhadap pembeli dan senyum yang selalu menghiasi wajah mereka. Sungguh, los sayuran ini menjadi berbeda, rasa kekeluargaan antar pedagang begitu terasa.

Saat itu, aku berada di pasar tradisional Desa Bojonggede. Letaknya di sisi kanan dan kiri jalan, tidak jauh dari stasiun. Biasanya aku hanya melintas, tidak sampai masuk ke dalam pasar. Maklum saja, akses jalan menuju pasar ini sering macet. Terlebih karena dekat dengan sekolah, banyak pedagang dan kendaraan yang parkir sembarangan di sisi jalan.

Kunjunganku di pasar saat ini, kebetulan ketika cuaca cerah. Bila hujan, sebagian orang mengatakan jalanan pasar menjadi becek dan licin dengan aroma tak sedap yang semakin menyengat. Tak heran, kondisi ini menyebabkan berkurangnya pengunjung. Aku saja tidak sanggup untuk mencoba masuk, sebab dari luar pasar sudah tercium bau yang tidak enak.

*******

Pasar tradisional, termasuk pasar yang menyediakan segala kebutuhan rumah tangga dengan harga yang terjangkau untuk semua kalangan masyarakat. Pasar tradisional juga memiliki kekurangan, seperti kondisi tempat dagang, penataan ruang, kebersihan, fasilitas parkir, dan sebagainya.

Bagiku, sebagian besar pelaku di pasar tradisional merupakan orang-orang hebat. Begitu banyak pengorbanan yang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhannya dan masyarakat. Pengorbanan yang tidak terlihat pembeli, namun tetap saja sebagian mereka masih suka menawar dengan harga rendah. Ingin rasanya aku sampaikan pada mereka yang suka menawar seenaknya, untuk tidak terlalu rendah dalam menawar.

Karena mereka, aku sadar akan perjuangan hidup yang penuh makna. Juga besarnya pengorbanan orangtua untuk anak-anaknya, maupun perjuangan anak-anak kecil untuk membantu orangtuanya. Tidak mudah mencapai kesuksesan, karena memang kerap berawal dari kegagalan yang pernah terjadi.

Kondisi pasar tradisional ini sekarang, sudah berbeda jauh dengan kondisi 10 tahun lalu. Tapi bukan lebih baik, malah sebaliknya. Dahulu pasar masih tertata rapih, asri dan nyaman. Entah apa penyebabnya, entah siapa yang harus bertanggungjawab atas kemunduran ini.

*******

Beberapa tip untuk kalian yang hendak ke pasar tradisional: Catat segala sesuatu yang ingin dibeli, sebelum berangkat. Gunakan kendaraan umum, jika akses parkir tidak memadai. Kenakan pakaian yang sederhana, agar tidak terlalu menyolok mata. Gunakan sandal atau sepatu anti air, untuk antispasi jalan yang becek dan licin.

Terakhir, membawa uang lebih untuk sesuatu yang tidak terduga. Atau malah untuk sekadar berbagi untuk orang yang lebih membutuhkan…

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: