Skip to content

Skizofrenia, Hidup dalam Angan

by pada 24 Juli 2014
(now.dartmouth.edu)

(now.dartmouth.edu)

Oleh Ika Tri Juniarti

Tak jarang kita mendapati orang di sekeliling sebagai individu yang bodoh, aneh dan berbahaya. Malah kerap diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa adanya rangsang pancaindra).

Keberadaan mereka tidak sepatutnya kita cemooh, apalagi dijauhkan. Boleh jadi orang tersebut menderita penyakit Skizofrenia, yang mungkin saja terjadi kepada siapa pun.

Salah satu penyebabnya adalah ketidakseimbangan pada dopamin, sebagai salah satu zat kimia dalam otak. Tetapi belum jelas, apa yang menyebabkan ketidakseimbangan produksi dopamin pada otak manusia hingga berakibat skizofrenia.

Efek dari pernyataan “berbahaya” tersebut mengakibatkan pasien skizofrenia tidak dibawa berobat ke dokter atau psikiater, melainkan ke paranormal atau mereka yang dipercaya sebagai “orang pintar”

Skizofrenia bukanlah penyakit jiwa yang tak bisa disembuhkan, tetapi 3 dari 4 penderita dapat mengalami perbaikan yang bermakna. Atau malah pulih dengan baik dan dapat melakukan aktivitas keseharian secara normal.

Tetapi sembuh atau tidaknya belum dapat diketahui. Satu-satunya jalan untuk mengendalikan gejalanya, dilakukan dengan cara pemberian antipsikotik yang dikombinasikan terapi pendukung (tanpa obat-obatan).

Orang-orang sekeliling juga bisa sangat membantu kesembuhan penderita, atau setidaknya dapat lebih baik dari biasanya. Contohnya keluarga yang memberikan bantuan, baik dari segi emosional, nasehat positif yang bisa dilontarkan setiap hari kepada penderita, atau pun informasi yang membuat pikiran penderita bekerja terus-menerus.

Skizofrenia pada umumnya diderita pada usia 16-25 tahun, walaupun sebenarnya penyakit ini dapat dideteksi ketika anak masih di Sekolah Dasar. Peran keluarga, khususnya orangtua, sangat dibutuhkan di sini.

Orangtua dianjurkan lebih perhatian terhadap anak yang ‘‘terlalu’ –misalnya terlalu baik, terlalu pendiam ataupun tidak banyak tingkah. Dikhawatirkan tingkah anak yang terlalu tenang, merupakan dampak tidak seimbangnya produksi hormon yang mengakibatkan munculnya ilusi dan delusi.

Peran orangtua juga diharapkan dalam pencegahan pemicunya. Contoh, sebaiknya orangtua tidak terlalu banyak melarang anak. Larangan yang diterima anak, dapat menyebabkan mereka merasa takut dan sensitif. Akhirnya anak akan stress dan memicu skizofrenia.

Orangtua dapat menggunakan kalimat positif, untuk melarang buah hatinya untuk tidak melakukan sesuatu. Orangtua disarankan agar tidak menggunakan kata “jangan” dalam berinteraksi dengan anak. Buah hati Anda juga harus diberi sedikit tekanan, supaya kelak dapat bertahan dalam keadaan dan kondisi apapun dalam hidup.

Delusi, ilusi dan halusinasi disebut dengan gejala positif. Tetapi para penderita skizofrenia juga mempunyai gejala yang berdampak negatif bagi dirinya sendiri. Contoh, biasanya penderita mempunyai ketertarikan yang rendah pada semua aspek kehidupan. Ia tak punya semangat lagi untuk melakukan kegiatan, seperti bangun tidur ataupun membantu membersihkan rumah bersama orangtuanya.

Selain tak mempunyai semangat, penderita juga akan kehilangan ketertarikan untuk bersosialisasi dan berteman. Sehingga ia akan lebih suka berdiam sendiri, daripada bergaul dengan teman sebayanya.

Sebagai orang yang paham dengan “kelebihan” mereka, janganlah kita menjauhinya. Mereka butuh support (dukungan) dari orang-orang sekitar, untuk memulihkan kehidupannya secara normal.

Dengan lebih memperhatikan anak Anda, maka dia dapat terhindar dari penyakit tersebut. Semoga.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: