Skip to content

Cerpen: Pulang (1)

by pada 26 Juli 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran

(apartmentberlincentre.wordpress.com)

(apartmentberlincentre.wordpress.com)

Oleh Nasrul Umam*

Ini hari minggu, waktunya untuk menghilangkan kepenatan sejenak dalam pekerjaan. Sudah sepekan ini Aira berkutat dengan pekerjaannya, mengurusi ratusan surat dan dokumen.

Cuaca di Berlin pagi itu agak dingin, membuat semua orang harus memakai jaket dan syal ketika menikmati hari Minggu di kota yang penuh seni. Aira membuka tas dan segera mencari telepon genggamnya. Dengan cekatan ia mengusap dan men-dial nomor yang dituju.

Bagi Aira, libur atau hari kerja, semuanya sama. Sama membosankan dan melelahkan. Setelah sekian lama ia mencoba bertahan di sini, rasa lelah dan jenuh menyergapnya juga. Namun, setidaknya, dapat berkurang sedikit dengan hadir sahabat yang selalu menyemangatinya. Ya, untuk selalu mampu beradaptasi.

*******

“Far, cepetan dikit kenapa? Jadi berangkat, nggak, nih?” sergah Aira dari balik pintu pembatas dengan ruang sahabatnya, Farah.

Farah adalah gadis yang periang dan enerjik. Kecintaannya pada pekerjaan membuat ia betah berada di Berlin. Entah 2 atau 4 tahun lagi, ia pasti akan berpindah tempat lagi ke penjuru dunia lainnya. Berbeda dengan Aira yang masih memiliki keluarga utuh, Farah hanya mempunyai seorang Bibi dan adik kesayangannya, Aldi, yang masih kelas 2 SMP.

Traurig, masih merias diri, tahu!” jawab Farah meminta maaf, tapi dengan gaya yang amat centil.

“Ah, kamu itu.. Kalau diajak jalan, sukanya dandan berlebihan,” kritik Aira tak kalah kenesnya.

Tak lama kemudian, 2 gadis cantik itu keluar dari apartemennya yang berada di lantai 26. Cukup tinggi untuk melihat ke lantai dasar. Ngeri juga saat pertama kali mereka mendapat kamar tersebut, tetapi terbayar dengan pemandangan kota Berlin yang begitu menakjubkan.

Berjalan-jalan pada hari libur di tengah kota Berlin, sungguh menyenangkan. Begitu indah, taman kota yang asri tampil kontras dengan tower-tower beton yang menjulang. Juga jalanan terlihat rapi dengan kendaraan berlalu lalang, serasa hidup modern hadir dengan sempurna.

Mereka berjalan bergandengan tangan, ceria dapat rehat yang melegakan. Tetapi sebelum masuk ke stasiun bawah tanah, tiba-tiba Aira berhenti sejenak. Keningnya yang berkerut, menandakan ia tengah mengingat sesuatu yang mungkin terlupa.

Warum? Dort zurückgelassen?”  selidik Farah terkejut.

“Sepertinya aku lupa sesuatu,” jawab Aira, seraya tangannya sibuk mencari di dalam tasnya. Ternyata sesuatu yang dikiranya tertinggal di apartemen, sudah aman tersimpan di relung terdalam tasnya. Melihat ini, tentu saja Farah menjadi bingung.

“Oh, nicht. Tidak apa-apa. Aku kira lupa bawa dompet,” Aira berkilah.

“Ah, kau ini, bikin kaget aku saja. Ya sudah, ayo buruan!”

Dengan senyum melebar mereka berdua kembali bergandeng tangan, seperti anak kecil yang begitu bahagia mengarungi hidup. Tak perlu menunggu lama, sampai juga mereka di tempat tujuan.

“Kita ke sini mau ngapain, Ra? Lihat koleksi barang-barang kuno?”

Sepertinya Farah terlihat kecewa dengan pilihan Aira. Tempat yang dituju bukannya tempat wisata kota Berlin –semisal Gerbang Brandenburg, Reichstag, Checkpoint Chralie, Potsdamer Platz– tetapi malah Museum Pergamon. Meskipun bangunannya sebagian rusak akibat perang dunia II, tapi masih terlihat bagus dan megah.

*******

“Di sini nanti kau akan tahu segalanya, Far,” Aira tersenyum, membuat Farah semakin bingung. Ia terpaksa menuruti keinginan sahabatnya, yang benar-benar menyimpan sesuatu untuknya.

Mereka pun memasuki ruangan museum yang begitu elegan. Aira langsung menuju sebuah ruangan bernama “Raihan Muhammad, de Heimkehr (pulang kampung) of Indonesia.” Sempat Farah mengernyitkan dahi, dan merasa tak asing dengan nama itu. Namun, ia belum bisa menebaknya.

Memasuki ruangan yang cukup luas, tepampang begitu banyak lukisan yang luar biasa. Jumlahnya kira-kira 30-an, begitu menawan dan memanjakan mata bagi siapa yang melihatnya. Tampak beberapa orang pribumi ikut melihat-lihat lukisan.

Deretan lukisan menampilkan berbagai aktifitas di sebuah desa pedalaman Indonesia. Begitu menakjubkan, seakan menyihir siapa saja yang memandanganya. Malah seolah mengajak ikut merasakan atmosfer di dalam lukisan.

Tak disangka, lukisan seniman Indonesia mampu menyita perhatian warga Jerman. Sungguh luar biasa. Sebuah kepuasan tersendiri bagi siapa saja yang membuat lukisan itu.

Di sudut ruangan, Aira terpikat dengan sebuah karya yang begitu besar namun sederhana. Melukiskan dengan baik yang ingin disampaikan, melalui gambar anak-anak kecil memanjat pohon rambutan. Indah, bernuansa pedesaan, mempunyai nyawa dan tentunya memberi kesan tersendiri pada Aira.

“Kau tahu Far, ini yang telah lama aku tunggu,” desah Aira, di sela kekagumannya.

“Aku masih belum mengerti, mengapa kamu mengajakku ke sini. Tapi, sepertinya kamu sangat berharap dengan ini, ya kan?” Pertanyaan sahabatnya membuat hati Aira berdesir.

Tiba-tiba Aira meneteskan air matanya yang pertama, semenjak ia berjanji untuk tidak menangis lagi. Farah yang melihatnya menjadi kaget.

“Ra, ada apa? Ada yang salah?” tanya Farah dengan hati-hati. Mengusap pundak sahabatnya dengan penuh perhatian.

Dengan menahan tangis, Aira mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menyeka air matanya yang mulai menetes dan memeluk sahabatnya dengan erat. Seakan meminta pelukan yang amat kuat, agar membuatnya nyaman. Farah pun mahfum dan membalas pelukan sahabatnya selama mungkin.

“Aku kangen dengan rumah, aku kangen Bapak dan Ibu,” Akhirnya Aira bercerita sambil terisak-isak pada Farah.

“Jadi ini yang kau maksud mengajakku ke pameran ini?” ujar Farah menemui titik terang. Ia pun mencoba memahami perasaan sahabatanya yang galau.

“Sejak dua tahun lalu, aku ingin pulang. Ke kampung halamanku, aku rindu sekali. Namun aku sadar, tak boleh cengeng dan kalah oleh keadaan. Pekerjaan yang aku pilih, memang menuntutku untuk jauh dari keluarga. Tapi, akhir-akhir ini aku tak bisa untuk membendungnya. Aku tak bisa!”

Tangis Aira kembali pecah.

Farah mencoba menangkan sahabat karibnya. Dituntunnya Aira melalui perkataan yang lembut, untuk bisa tetap tegar. Farah pun kembali mengingatkan Aira, mengapa ia bisa berada di sini.

“Aku tahu, kamu sangat tersiksa sekarang. Namun kamu harus kuat, Ra. Kamu tahu, kan, pekerjaan kita sangatlah berat. Harus rela, kalau kita jauh dari keluarga. Aku yakin, suatu hari nanti kamu pasti bisa pulang!”

Senyuman Farah mampu membuat Aira kembali sumringah, kembali tenang dan teduh. (Bersambung)

*) Nasrul Umam adalah mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: