Skip to content

Cerpen: Pulang (2)

by pada 27 Juli 2014

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran

(ahmadsamantho.wordpress.com)

(ahmadsamantho.wordpress.com)

Oleh Nasrul Umam*

Di sampingnya terlihat jelas sebuah lukisan tentang sungai yang begitu jernh airnya, menjulur menyusuri deretan sawah nun menguning siap panen. Juga gubuk kecil di tepian petak sawah, seolah memberi gambaran pengobat rasa rindu Aira pada kampung halamannya.

“Aira?”

Mereka berdua menoleh. Lelaki yang menyapa, sungguh membuat Farah terjerembab kaget. Bukan main, ternyata nama yang tadi seolah tak asing kini terbukti. Ia memang sangat kenal pemilik nama itu, yang –tak pernah berubah– selalu bikin kejutan.

“Raihan? I.. ini, kamu semua yang buat?”

Farah masih tidak percaya, ia masih bingung dengan pertemuan yang begitu kebetulan ini. Sementara, Aira hanya tersenyum getir menanggapi.

“Aku tak menyangka kita bisa bertemu di sini,” ucap Farah takjub.

“Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan padaku? Apa itu?” tanya Aira kalem.

“Ya, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu. Makanya tadi pagi memberanikan diri meneleponmu,” sahut Farhan.

 “Apa? Kamu sudah tahu, kalau Raihan ada di Jerman?” Farah kaget mendengarnya. Memandang Aira sambil memegang kepalanya yang bingung.

“Panjang ceritanya, Far.”

Farah hanya mengangguk, coba mengerti. Meski sempat heran, mengapa Aira tak bercerita kepadanya.

Semenjak lulus kuliah, mereka berpisah untuk keperluan masing-masing. Dulu, Raihan adalah teman dekat Aira. Bahkan, bisa dibilang berpacaran. Banyak teman yang bilang, mereka adalah pasangan yang serasi. Namun hubungan tersebut harus kandas lantaran berbeda keyakinan.

Setelah wisuda berlalu, mereka tak saling menyapa lagi. Terkadang, saat Aira melihat Farah memakai mukena yang putih bersih ketika shalat, membuatnya teringat pada Raihan.

*******

Farah yang paham, meninggalkan mereka berdua untuk bicara empat mata.

“Sudah lama kita tidak bertemu,” tutur Aira membuka percakapan.

“Ya, sudah 4 tahun lebih,” jawab Raihan menimpali. Dingin dan kaku.

Ruangan pun menjadi hening dan bisu. Seolah membiarkan deretan lukisan nan indah itu yang saling bercerita. Juga membiarkan detak jarum jam terus bergulir, menit ke menit. Namun, tekad Aira sudah bulat. Ia harus mengatakannya.

“Aku kini menjadi mualaf, belajar tentang agamamu. Sudah 2 bulan aku dibimbing oleh sahabatku yang selalu setia, Farah,” bisik Aira tersipu.

Raihan kaget mendengar pengakuan itu. Sungguh, tak diduganya.

“Aku senang, kau bisa memilih sesuai keputusanmu. Tapi, ada yang ingin aku sampaikan juga,” jawab Raihan setelah terdiam cukup lama, seraya menghela nafas.

Aira mendongakkan kepalanya. Mencoba mendengarkan yang akan disampaikan Raihan padanya. Ia siap menerima segala kenyataan, termasuk kalau ia harus kehilangan cinta yang selama ini ia tunggu.

“Perlu kau ketahui, Ra. Aku sudah menikah dan telah mempunyai seorang putri yang cantik. Setahun lalu, dengan perempuan yang kutemui di tempat kerja. Aku sangat mencintainya,” Raihan menjelaskan lirih.

Aira sendiri tak terlalu kaget dengan pernyataan Raihan. Ia memang harus siap menerima kenyataan yang pahit itu. Semuanya sudah berlalu, banyak hal yang berubah dan banyak pula hal baru bermunculan. Aneh rasanya, jika keadaan harus sama seperti dulu.

Mencoba tegar dan berdiri tegak, walau seolah dengan satu pijakan, Aira masih bisa tersenyum dan memberi ucapan selamat dengan tulus untuk pertama kali dalam hidup. Keikhlasan yang ia dapat hari ini, membuatnya sadar. Ia harus kembali bangkit dan mengawali hidup yang baru, memulai perjalanan baru.

Meski usia telah sama dengan jumlah lantai apartemennya berada, tapi ia harus yakin dengan hidup yang dipilihnya. Suatu hari nanti, ia akan dapat pulang membawa kebahagiaannya sendiri yang pasti belum dirasakan selama ini.

*******

Terduduk di sofa ruang tengah apartemen, Farah menikmati kopi robusta kesukaannya. Udara Berlin memang benar-benar dingin saat malam hari. Sementara Aira memandang dua lukisan yang terpajang dengan begitu cantiknya.

Sebuah lukisan bergambar rumah begaya joglo dengan sentuhan modern, membuat Aira ingin cepat pulang ke kampung halaman. Satu lagi lukisan yang begitu spesial, khusus untuknya. Sebuah paras perempuan yang begitu cantik nan rupawan, itulah Aira.

Hingga waktu yang masih belum tahu kapan, Aira mencoba bersabar dan berjanji. Suatu saat nanti, ia akan pulang ke kampung halamannya membawa kebahagiaan yang berbeda. Kebahagiaan baru, yang mungkin akan membuat kedua orangtuanya tak percaya. Namun inilah jalan hidup, pilihan hidupnya.

Meski ia takut dan bimbang, pulang atau tidak. Pulang, ia khawatir orangtuanya sakit hati lantaran pilihan keyakinannya. Tidak pulang, tetapi ia sangat rindu kampung halaman dan suasana yang membesarkannya. Antar dua pilihan itulah, yang membuatnya kalut akhir-akhir ini.

Pulang atau tidak, kampung halaman masih tetap menunggu.. (Selesai)

*) Nasrul Umam adalah mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: