Skip to content

Cerpen: Menerbangkan Harapan

by pada 28 Juli 2014
(reispirasi.wordpress.com)

(reispirasi.wordpress.com)

Oleh Bucimuchal Pujakemi

Pada hari Raya Iedul Fitri hari ini, anak-anak pergi bermain ke taman kota. Matahari tak seberapa tinggi, tapi cukup untuk menghangatkan semangat mereka yang tak dapat dibeli. Terlebih pada hari yang fitri ini, keceriaan anak-anak itu mampu merefleksikan sukacita kembalinya hati yang suci saat Lebaran tiba.

Empat orang anak bergantian menaiki tangga papan seluncur, dan wuzzz! senyum keempatnya merekah ketika kaki-kaki mungil itu menyentuh tanah. Tiga orang bermain sepeda‒satu di antaranya masih menggunakan roda bantu. Dua lainnya sedang asyik bermain jungkat-jungkit sambil saling melempar tawa. Satu orang anak terlihat tak seperti anak lainnya: ia hanya berdiri di sisi jalan, dan tampak iri.

Namanya Atma. Kalau tak salah, usianya hampir sama dengan adik laki-lakiku, 6 tahun. Menurut orang-orang di sana, ia tak pernah diperbolehkan untuk bermain selain di rumahnya sendiri. Ia selalu merajuk kepada pengasuhnya untuk membawa ia pergi ke taman bermain walau hanya sebentar. Ia tahu, Mommy tak akan mengizinkannya.

Mbak, kalau Atma minta diajak ke taman, jangan diturutin. Di sana agak kotor tempatnya. Nanti dia sakit. Lagi pula, permainannya sudah hampir semuanya rusak, kan? Bahaya.” Begitu katanya.

Si Mbak, begitu biasanya ia dipanggil, tak pernah tega melihat anak majikannya hanya bermain di dalam rumah sepanjang hari. Ia anak tunggal. Dad dan Mommy­-nya bekerja dari pagi hingga petang. Ia tak berani membantah, sebab takut terjadi apa-apa nantinya. Si Mbak bercerita, Atma pernah mencoba membuka pagar rumah dan berlari menuju taman. Untungnya ia cepat menyadari, kalau Atma tak ada di ruang televisi.

Mbak, aku mau main jungkat-jungkit. Mbak jangan bilang Mommy, ya. Sekali ini aja deh, aku janji,” katanya, dengan tatapan yang membuat si Mbak tak tega.

Begitu si Mbak menganggukkan kepala, ia langsung berlari dan menaiki jungkat-jungkit, papan seluncur, dan ayunan secara bergantian. Ia berlari mengitari taman bermain itu.

Den, hati-hati!” si Mbak mengingatkan.

Ia tak peduli, dan terus mempercepat larinya. Tiba-tiba, brak! Atma jatuh tersandung. Ia tak menangis, tetapi si Mbak menjadi sangat ketakutan.

“Aku nggak apa-apa, Mbak. Nggak sakit, kok,” katanya sambil menunjukkan gigi-gigi susunya yang putih dan teratur.

*******

Sejak kejadian itu, Atma sudah benar-benar tak bisa pergi ke taman bermain. Mommy­-nya memarahi si Mbak, karena lalai menjaga anak tunggalnya. Atma yang mendengar percakapan, hanya duduk di sofa sambil menggoyangkan kedua kakinya. Ia memperhatikan wajah si Mbak dan Mommy-nya, kemudian menunduk dan tak peduli. Tangannya sibuk merakit mainan, yang baru saja ia dapat dari Dad.

“Sayang, jangan bantah Mommy. Mommy sudah bilang sama si Mbak kalau kamu nggak boleh ke taman lagi. Just stay at home, okay? Kamu punya banyak mainan. Minta sama si Mbak untuk ditemani main.”

Yes, Mommy. But I think, sometimes I need your time for playing with me.”Ia menatap mata Mommy-nya, kemudian berlari menuju kamarnya di lantai 2.

Atma, walaupun usianya baru 6 tahun, kemampuan berbahasa Inggrisnya mungkin sudah melampaui aku. Ia dibesarkan di keluarga serba berkecukupan. Rumahnya bahkan terlalu luas untuk ditempati 6 orang saja. 3 orang pemilik, dan 3 orang pembantu.

*******

Pada hari-hari setelah itu, ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Si Mbak hanya masuk untuk membawakannya makanan dan susu. Ia juga menolak untuk ditemani bermain oleh si Mbak.

Menggambar adalah hobi barunya. Jantung si Mbak hampir copot melihat kamar yang semula rapi, kini dipenuhi tumpahan cat warna-warni. Dinding berwarna biru itu, kini telah menjadi kanvas yang sangat besar bagi Atma. Dan di setiap permukaannya, ada gambar yang ia buat sendiri.

Mbak, gambarku bagus, ya? Yang itu belum selesai, nanti mau aku tambah gambar balon,” ia menunjuk gambar seorang anak sedang berdiri di taman bermain. Pikir si Mbak, mungkin ia sedang menggambar dirinya sendiri.

Si Mbak kehabisan kata untuk memberitahu majikannya. Salah-salah, ia bisa dipecat atas tuduhan tak bertanggung jawab lagi. Akhirnya, ia memutuskan untuk diam. Ia membiarkan Atma terus menggambar, sampai Mommy atau Dad-nya melihat sendiri.

“Iya, gambarmu bagus. Si Mbak baru tahu kalau kamu bisa nggambar. Siapa yang ngajarin, tho? Bu guru, ya?” tanya si Mbak.

No, aku belajar sendiri. Si Mbak bisa gambar?”

Walah, si Mbak ndak bisa nggambar. Kenapa banyak gambar balon, Den?”

“Aku suka balon. Waktu itu Bu Guru pernah nyuruh aku sama teman-teman, untuk nulis keinginan di kertas. Terus, kertasnya dimasukkin ke dalam balon. Habis itu, balonnya ditiup, terus diterbangin, Mbak. Katanya, biar yang kita mau bisa terwujud. Mungkin biar langsung sampai ke Tuhan, ya, Mbak?”

“Memangnya, waktu itu kamu nulis apa?”

“Aku mau pergi ke taman bermain sama Mommy dan Dad,” katanya sambil tersenyum. Si Mbak menjawab juga dengan senyum, dan membelai kepala Atma.

Ia terus menggambar balon-balon, sampai dinding yang terjangkau olehnya telah penuh. Ia sudah kehabisan tempat untuk menggambar, tetapi Mommy dan Dad belum juga mengajaknya untuk pergi ke taman bermain.

*******

Wajahnya, makin hari semakin lesu. Selera bermainnya hilang. Ia tak mau merakit mobil-mobilan atau bermain pesawat terbang dengan remote control. Yang ia mau, hanya pergi ke taman bermain dengan kedua orang tuanya.

Ketika matanya sedang sibuk memerhatikan gambar-gambar yang dibuatnya, ia berpikir untuk membuat harapan lagi. Ia akan melakukan hal yang sama seperti di sekolah waktu itu. Kemudian ia mengambil selembar kertas dan sebuah pensil berwarna dari dalam ranselnya.

Dengan berseri-seri, ia menuliskan keinginannya untuk pergi ke taman bermain bersama Mommy dan Dad. Tak lama, balon sisa yang tersimpan di dalam laci, ia tiup kuat-kuat. Karena tenaganya tak seberapa besar, napasnya tersengal.

Kertas harapannya sudah ia masukkan ke dalam balon. Balon yang sudah menggelembung, ia ikat kuat-kuat. Harapannya telah siap diterbangkan. Telah siap untuk dikirimkan kepada Tuhan. Jangan sampai Tuhan lupa lagi, batinnya. Ia beruntung karena si Mbak sedang memasak di dapur. Dengan langkah pelan, ia keluar menuju pintu gerbang.

Ia hanya berdiri di depan pintu gerbang. Dilepasnya balon itu perlahan, sambil memejamkan mata.

“Kabulkan, Tuhan. Kabulkan, Tuhan,” ia terus mengulang kata-katanya sampai ujung tali benar-benar terlepas dari genggamannya.

Ia tak segera masuk ke dalam rumah. Dilihatnya balon itu terbang perlahan, terbawa angin. Kedua matanya dipicingkan. Ia berjalan ke depan, untuk memastikan kalau balonnya terbang semakin tinggi. Tinggi dan terus tinggi.

“Tiiiiin!” suara klakson mobil begitu memekakkan telinga. Ia menoleh ke arah kanan, dan brak! Ia terjatuh, tepat setelah mobil itu menabrak tubuhnya.

Pada hari itu, ia pergi bersama balon harapannya.

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: