Skip to content

Cerpen: Cinderamata Peninggalan Ayah

by pada 29 Juli 2014
(esq-news.com)

(esq-news.com)

Oleh Berliana Qori’ah

Waktu begitu cepat berlalu. Tak pernah dilewatkan Ayah waktu sedetik pun bersama putri tunggalnya. Gadis cantik yang kini beranjak belia,masih sering meminta diusap-usap keningnya dan diselimuti ketika menjelang tidur.

“Permata.. Di mana, ya, anak kesayangan Ayah?”suara Ayah berbisik.

“Aku di sini, Yah. Hihi,” bisikku

“Hm.. Kamu di mana? Ayo, cepat keluar!” bisik Ayah kembali.

“Ayo temukan aku, Yah!” teriakku.

“Kamu di mana, Nak? Hm.. Ayah menyerah, deh,” kata Ayah seraya mengangkat kedua tangannya.

“Ayolah, Yah! Cepat temukan aku! Haha,” ucapku menantang Ayah.

“Sudahlah, Nak! Ayo cepat keluar dari persembunyianmu! Ini sudah malam. Kamu, kan, harus tidur,” jelas Ayah.

“Dorrrrr.. Ayah kalah. Hahaha,” teriakku mengagetkan Ayah.

“Iya, iya, iya.. Ayah mengaku kalah. Hehe,”jawab Ayah sambil memelukku.

Ayah menemaniku menjelang tidur hampir di setiap malam. Dibukanya sebuah buku yang berisi kumpulan dongeng. Ia selalu membacakan beberapa cerita dalam buku dongeng itu. Kebiasaan itu dijalani Ayah, setelah Ibu kembali pada Sang Pencipta beberapa tahun lalu.

*******

Saat mentari pagi perlahan muncul, Bibi mengetuk pintu kamarku. Aku pun terbangun. Hari ini masih libur dalam rangka Lebaran, waktunya aku dan Ayah untuk jalan-jalan. Segeralah aku keluar dari kamar dan bergegas mandi pagi. Setelahnya, aku langsung menuju meja makan. Kursi yang biasa diduduki Ayah terlihat kosong. Aku pun bertanya pada Bibi.

“Bi, Ayah ke mana? Masih di kamarnya, ya?” tanyaku pada Bibi.

“Hm.. Ayahnya Non Permata tadi pagi-pagi sekali, sudah berangkat menuju bandara. Katanya mau ke Singapura,” jelas Bibi.

Lho, kok, Ayah ga bilang sama aku, ya, kalau pagi ini mau ke Singapura? Hm, batal, dong, jalan-jalannya. Gumamku dalam hati.

Aku merasa sedih, karena Ayah mendadak meluncur ke Singapura. Padahal, hari ini, Ayah berjanji akan mengajakku jalan-jalan. Aku tak hanya berdiam diri saja mengetahui hal itu. Kucoba menghubungi Ayah melalui handphone-nya. Panggilan masuk dariku tidak dijawab Ayah. Sesibuk itukah Ayah, hingga tak dapat menjawab teleponku?

Tak berapa lama, Ayah meneleponku. Ternyata memang benar, ia sangat sibuk. Tak ada waktu baginya mengabarkan padaku, tentang kepergiannya ke Singapura untuk urusan kerja.

Ya, aku dapat mengerti. Ayah melakukan itu untuk kepentingan keluarga. Dalam perbincangan kami di telepon, aku mengatakan ingin dibelikan cinderamata buatan Singapura. Ayah pun memenuhi permintaanku itu.

Keesokan harinya, Ayah meneleponku kembali. Kali ini tak sempat kujawab, karena siang ini aku sedang menjalani les di sebuah tempat bimbel. Ayah tak henti menghubungiku. Saat les selesai kujalani, segeralah aku menghubungi Ayah.

Assalamu’alaikum, Ayahku tersayang. Ada apa tadi meneleponku?” sapaku.

Wa’alaikumsalam, Permata hatinya Ayah. Tidak apa-apa, Nak. Ayah hanya merindukanmu. Bagaimana kabarmu, Nak?” jawab Ayah dengan segala kerinduannya.

“Wah, senangnya aku dirindukan Ayah. Alhamdulilah, kabarku baik-baik saja. Bagaimana dengan Ayah?”Antusiasku menjawab kerinduan Ayah.

“Ayah juga baik-baik saja, Nak. Oh, iya. Jangan lupa hari ini dan selama Ayah tidak di Indonesia, tolong santuni anak-anak yang ada di panti asuhan dekat kompleks perumahan ya! Sekalian juga untuk mengusir rasa sepimu selama Ayah pergi. Hm, kemudian jangan lupa juga bersilaturahim ke rumah saudara-saudara Ayah dan Ibu! Ok, Nak?” kata Ayah.

“Ok, Yah.. Aku sayang Ayah. Cepat pulang, ya!” jawabku.

*******

Kerinduanku pada Ayah berakhir hari ini. Ya, Ayahku tersayang akan pulang ke rumah dalam beberapa jam lagi. Terbayang dalam benak, dekapan Ayah untukku dan cinderamata yang dibawanya. Rasanya bahagia sekali hari ini. Sesaat mataku melihat tajam ke arah jam, yang bersandar di dinding ruang tamu rumahku. Rasanya jarum jam terlihat enggan berpindah, ke setiap detik dan menitnya.

Tak berapa lama kemudian, suara mesin mobil terdengar dari depan rumah. Suara itu terhenti, saat Ayah yang kutunggu keluar dari mobilnya. Dekapan Ayah, detik ini kurasakan. Tercium parfum kesukaan Ayah. Harum, sejuk, dan hangat.

Tak lupa mataku menyorot ke tas cinderamata pesananku. Tetapi, tunggu! Mengapa bentuknya kecil sekali? Apa, ya, yang dibawa Ayah? Tak hentinya aku bertanya-tanya dalam hati.

Kemudian Ayah duduk di sofa ruang tamu. Akhirnya ia menunjukkan isi tasnya. Ternyata apa yang kulihat? Hanya sebungkus coklat yang dapat kutemukan di Indonesia.

Apa maksudnya ini? Mengapa Ayah tak seperti biasanya? Wajah ceriaku berubah murung, senyumku pun berganti lamunan.

Aku segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Tak ada yang boleh masuk dan aku tak ingin diganggu. Hal yang biasa kulakukan, ketika sedang merasa kecewa dengan Ayah. Ayah mengetuk pintu kamarku tanpa henti dan selalu meminta maaf karena telah mengecewakanku.

“Maafkan Ayah, Nak. Sepulangnya dari bekerja, Ayah tak ada waktu untuk mampir ke toko cinderamata yang kamu inginkan. Dengarkanlah Ayah! Bukan cinderamata yang kamu minta itu, yang akan menemanimu saat Ayah benar-benar tak ada di rumah. Bukan itu, yang akan menemani kesepianmu. Sudah jangan marah lagi, ya, Permata hatinya Ayah! Sayang Ayah selalu untukmu.” Begitu panjang nasehat Ayah padaku.

Aku hanya terdiam, sambil sesekali kembali terisak kecewa, saat Ayah meminta maaf dan menasehatiku di depan pintu kamar. Seakan aku tak mempedulikan perkataan Ayah dan sibuk dengan rasa kecewaku padanya.

Ayah pun pergi dari depan pintu kamarku. Aku masih tetap mengacuhkan permintaan maaf Ayah.

*******

Keesokkan harinya, kekecewaanku mulai runtuh dikalahkan rasa sayang pada Ayah. Aku dan Ayah seperti biasa menjalani aktivitas dengan riang dan bahagia kembali. Aku mulai melupakan cinderamata yang tak dapat kumiliki itu. Ya, memang tak ada untungnya, jika berlarut-larut kecewa dengan Ayah.

Pagi hari, seperti biasa aku berangkat ke sekolah. Aku berangkat diantar Ayah. Ya, memang sudah biasa seperti ini, tetapi ada yang berbeda. Ayah terlihat pucat dan tak bersemangat.

Tak banyak kata yang diucapkannya, sepanjang jalan menuju sekolahku. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Ayah hanya menjulurkan tangan kanannya untuk kucium dan mengucapkan, “Hati-hati ya, Nak!”

Beberapa jam kemudian Bibi meneleponku. Tak kujawab teleponnya, karena aku sedang belajar di kelas. Tapi tak hentinya Bibi meneleponku kembali. Seusai belajar di kelas, saat istirahat, segera kujawab teleponnya. Aku terkejut saat mendengar kabar, Ayah sedang di rumah sakit.

Aku segera ke rumah sakit bersama Bibi. Ya, Ayahku sedang terbaring tak berdaya di tempat tidur ruang ICU. Dengan selang oksigen yang ada di hidung dan monitor pendeteksi detak jantung, Ayah seolah memanggil namaku sambil menahan sakit. Hatiku sedih dan tubuhku terasa sangat lemas, rasanya tak tahan melihat penderitaan Ayah.

Bibi menceritakan semuanya padaku. Saat mengendarai mobil usai mengantarku ke sekolah tadi pagi– Ayah terkena serangan jantung. Konsentrasinya hilang dan akhirnya menabrak pembatas jalan.

Firasatku akan kejadian yang menimpa Ayah, benar-benar terjadi. Wajahnya yang tampak pucat dan tak bersemangat tadi, ternyata mengisyaratkan semua ini.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba nafas Ayah semakin sesak. Tangannya begitu erat menggenggam tanganku. Monitor pendeteksi detak jantung pun berbunyi. Garis di monitor itu tak berliku-liku lagi, telah berganti garis lurus panjang.

Tangisku pun pecah, saat tim dokter menyatakan Ayahku telah tiada. Aku tak pernah menyangka, secepat ini Ayah meninggalkanku sendiri di dunia.

Air mata terasa tak pernah habis kuteteskan, demi Ayah. Diperistirahatan terakhirnya, aku hanya dapat berdoa dan menyeka tiap tetes air mata. Ayah yang kusayang kini telah tiada. Ia bukan pergi sementara, layaknya pergi bekerja di luar negeri. Ia telah kembali bersama Sang Pencipta. Takkan kembali dan pergi untuk selamanya.

*******

Rasa sedihku berlarut, hingga sepekan kepergian ayah. Di rumah hanya ada aku dan Bibi. Kini mulai merasa sepi. Tak ada lagi Ayah, yang selalu menemani hari-hariku. Sekarang Ayah telah berjumpa dengan Ibu di sana. Meninggalkanku sendiri di dunia

Di tengah kesepian dan kesedihanku, beberapa orang berdatangan ke rumahku. Mereka adalah keluarga dari Ayah dan Ibu, yang akan menemani kesendirianku. Mereka sangat memperhatikanku dan membimbingku, seperti Ayah dan Ibu.

Tak berapa lama, sekumpulan anak mendatangi rumahku. Ya, mereka adalah anak-anak panti asuhan dekat kompleks rumah, yang biasa Ayah kunjungi. Beberapa hari belakangan ini, aku memang sering berkunjung ke panti atas perintah Ayah saat di Singapura.

Kesedihanku mulai menghilang, seiring ramainya rumah dengan canda mereka yang menghiburku. Aku baru menyadarinya sekarang. Ternyata, nasehat ayah memang benar. Yang kubutuhkan saat Ayah benar-benar tak ada, bukanlah cinderamata yang dibeli dari luar negeri.

Inilah cinderamata yang Ayah maksud, untukku. Keluarga besar dan anak-anak panti asuhan yang Ayah titipkan padaku, menjadi kenangan dan cinderamata terindah dari Ayah.

Betapa baiknya Tuhan padaku. Ia memberi anugerah terbesar, melalui kedua orangtuaku. Setelah Ibu meninggal dunia, Ayah ganti mengasuhku hingga sebesar ini. Ayah mengajarkanku banyak hal yang berarti.

Kini sepeninggal Ayah, aku merasa sangat beruntung. Ditinggalkannya berjuta amal kebaikan, yang diajarkannya semasa hidup.

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: