Skip to content

Cerpen: Aku Tak Ingin Pulang

by pada 30 Juli 2014
(carirumahdijual.com)

(carirumahdijual.com)

Oleh Surya Wulantika

Seperti membuka luka lama, kupandangai detail satu persatu wajah-wajah dalam foto itu. Gambar terakhir yang berhasil diabadikan saat keluargaku masih utuh. Di rumah kelahiran yang pada setiap pojoknya selalu mempunyai cerita, kini telah berpindah pada tuan rumah yang lain. 

Melepaskan rumah itu, seperti melepas sesuatu yang sangat berharga sepanjang hidupku. Bukan karena mewah ataupun terlihat indah, tapi karena di rumah itulah semua peristiwa penting pernah terjadi. Hampir 50 tahun rumah itu kokoh berdiri menaungi suka duka hidup.

Rumah yang menjadi harta paling berharga satu-satunya harus kami lepas, akibat masalah klasik yang mengusik ketenangan ibuku kala itu. Ya, demi terselesaikannya hutang piutang yang membelenggu kami. Semenjak itulah, sesi kedua kehidupanku dimulai.

Masih basah dalam ingatanku, ketika harus kehilangan lagi orang yang paling ingin kubahagiakan dunia-akhirat –setelah Ayah– harus pergi untuk selama-lamanya. Saat itu aku baru tahun kedua duduk di bangku SMA. Bukan hal mudah bagiku, melanjutkan hidup selepas kepergian Ibu.

Mimpi telah kandas dan harapan yang tak lagi indah. Semua terasa begitu kelabu. Tapi waktu tak bisa memaklumi hidupku, untuk sejenak saja berhenti. Hari terus berlari berganti minggu, bulan hingga tahun-tahun tersulit ini pun berhasil kulewati.

*******

“Lagi kangen rumah, ya, Lan?”

Lamunanku membuyar, melihat Hani sudah duduk di sampingku. Kangen rumah. Ya, aku memang sedang merindukan suasana hangat itu. Berkumpul bersama Ibu, Ayah dan kakakku, menjadi kenangan terindah yang selalu kuingat setiap merindukan kebersamaan.

“Hey, mengapa senyum-senyum sendiri. Sudah, kalau kangen pulang aja.. Besok, kan, libur juga dua hari. Lumayan buat ngobatin malarindu kamu,” sarannya menyemangatiku.

Nggak, Han, Aku belum ingin pulang,” jawabku datar, sambil menyimpan kembali foto itu dalam dompetku.

Lho kenapa? Kayaknya cuma kamu, deh, yang jarang banget pulang. Kenapa, sih, Lan?” tanya Hani penuh selidik.

Kepo, deh,” candaku, tak ingin melanjutkan penasarannya bertambah. Melihat wajah sahabat tersenyum kecut menanggapi gurauan, senyumku mengembang penuh kemenangan.

*******

Pulang ke kampung halaman selalu menyakitkan bagiku, itulah sebabnya aku selalu menahan kerinduan dan tetap bertahan di perantauan. Bagi banyak orang, pulang ke kampung halaman selalu menjadi hal yang dinanti. Tapi, tidak denganku.

Bukan tak peduli keluarga, tapi aku tak ingin teringat lagi semua masa lalu. Mungkin karena memang sudah tidak ada lagi dua malaikat luar biasa yang bisa kutemui di rumah. Apalagi sejak kepergian Ibu, tak ada lagi tempat yang paling nyaman untukku melepas lelah. Tak ada lagi tempatku kembali untuk bermanja dan menuntut perhatian lebih seperti dulu, semuanya telah berubah.

Memang, tidak ada yang salah dengan masa laluku. Semua yang telah berlalu, kujadikan sebagai bahan perbaikan diri. Kalau pun ada yang harus disalahkan, itu adalah aku. Cukuplah aku yang selalu kalah dengan prinsip yang kubuat sendiri. Hampir 4 tahun aku merasakan perubahan itu, sudah lebih dewasa kah? Entahlah..

Tapi yang kurasakan saat ini, hati masih saja terjajah oleh permainan hidup yang kulakonkan sendiri. Ketika berada di tengah mereka, selalu ada perasaan tak nyaman yang membuat diri merasa tersisih dari kebersamaan. Aku selalu merasa terabaikan dari perhatian, padahal diri ini yang selalu ingin menjauh dari keluarga kecil itu.

*******

“Ada sms nih, Lan.”

“Dari siapa?” tanyaku, sambil merebut handphone di tangan Hani.

“Mbak kamu, tuh, nyuruh kamu pulang. Betah banget, sih, di Semarang”

“Iyaa, kan, di Semarang ada kamu. Nggak tega ninggalin kamu sendiri, kalau aku pulang,” ucapku sekenanya.

Halahhh, alasan aja kamu. Makin kacau, nih, lama-lama kalau aku di kamarmu,” sahut Hani sedikit kesal seraya meninggalkan kamar, karena tak puas dengan jawabanku. 

“Kapan pulang, nduk? Nggak lupa masih punya mbak, kan?” begitu tulisan di layar handphone. Kubaca lagi SMS dari mbakku, tak terasa air mata mulai mengalir.

Hampir satu semester ini aku memang belum pulang. Aku juga sangat ingin pulang, mbak. Tapi, bukan ke rumah itu. Aku ingin pulang ke rumah kita dulu, rumah yang sekarang tak lagi terawat dan tak berpenghuni.

Aku berusaha mencari kata-kata sesuai isi hati, namun yang tak menyinggung. Aku tak ingin membuat mbakku sedih, karena sikapku yang belum dewasa ini. 

“Maaf, mbak. Wulan belum ada libur panjang, jadi belum bisa pulang. Wulan kangen banget sama mbak. Salam buat keluarga dan si kecil, ya, mbak,” begitu kutulis sebagai balasan SMS.

Setelah beberapa kali dihapus, akhirnya dua kalimat singkat itu berhasil terkirim. Menjadi anak bungsu, tidak begitu menyenangkan bagiku. Tapi bagaimana pun sudah menjadi kehendakNya, yang tetap harus aku syukuri.

Mungkin dengan semua kejadian ini, Dia ingin menunjukkan padaku warna lain kehidupan yang sementara. Karena belum tentu, orang lain mampu berada di posisiku. Dia memang takkan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya, meski begitu pelik lika-liku jalan cerita ini. Kuyakin skenario Tuhan lebih indah dari semua perencanaanku, yang belum tentu baik.

“Iya, mbak di sini juga kepikiran Wulan terus sampai kebawa mimpi ingin ketemu. Baik-baik di sana, ya! Kalau ada apa-apa, langsung kabari, mbak. Meski rumah mbak tak selebar rumah kita dulu, tapi insya Allah akan selalu menunggu Wulan pulang ke sini,” jawaban Mbakku via SMS.

*******

Air mata semakin deras, seolah mengerti yang kurasakan. Kerinduan memang sangat mendalam, hingga tak mampu harus bagaimana kubahasakan. Aku tahu Mbak Sri pun demikian, tapi ia bisa lebih tegar.

Mungkin karena telah memiliki keluarga kecil yang baru dua tahun. Selalu ada suami di sampingnya, yang tak henti menguatkan hatinya saat rapuh. Juga kehadiran buah hatinya, yang bisa menjadi pelipur lara dan sebagai pasokan semangat terbesar untuk tetap bertahan menjaga amanahNya.

Dan aku? Aku masih menjadi kepompong, yang belum bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah menambah kuantitas kesabaran yang lebih tinggi, seraya menunggu hasil yang senilai dengan usaha yng terus diupayakan.

Kehilangan masa lalu yang indah, memang membuatku rapuh untuk melangkah jauh. Tetapi masih ada harapan yang terlalu berharga disia-siakan, dengan kebekuanku menghadapi hidup. Di tempat yang tak lagi ada kebersamaan itu, aku mencoba bertahan, meski kadang terasa begitu menyakitkan. Aku mencoba tetap tegar, meski badai tak henti berkibar.

Aku pasti akan pulang, saat mentari kembali ceria dengan sinarnya. Saat kelopak bunga kembali mekar dengan indahnya. Dan sampai saat itu tiba, biarkan aku tetap di sini. Menikmati perjalanan sunyi yang tak bertepi, hingga kutemukan kehangatan lagi kendati dalam suasana berbeda.

Suatu hari nanti, di tanah perantauan aku akan selesai merakit mimpi-minpi baru. Mimpi yang mungkin tak bisa mengembalikan senyummu, Ayah dan Ibu. Tapi akan kubuktikan, mimpi ini nyata untukmu di sana.

*) Surya Wulantika adalah mahasiswa Universitas Negeri Semarang.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: