Skip to content

Cerpen: Di Balik Pohon Kenangan

by pada 31 Juli 2014
(www.pikiran-rakyat.com)

(www.pikiran-rakyat.com)

Oleh Devi Ariadne Darmawan*

Pemandangan yang aku lihat dari jendela mobil, masih terlihat alami. Sawah hijau yang indah membentang luas, bagai menyapa kedatanganku ke desa Citarum. Namun tidak mampu menggoda kemarahanku atas jalan hidup, yang tiba-tiba membuatku harus tinggal di desa ini. 

“Andin, Papa mohon. Kamu jangan diam seperti ini terus,” desak Papa, tak tahan melihatku membisu.

“Aku masih terus berharap, kalau ini mimpi. Aku selalu menutup dan membuka mataku, tapi ternyata tidak ada yang berbeda,”  sahutku lirih akhirnya.

Inilah kenyataan yang sudah terjadi. Kenyataan yang begitu pahit menghampiri diri, meski aku tidak pernah mengundangnya hadir dalam hidup.

“Bukan Papa, yang minta perusahaan bangkrut, sayang. Bukan Papa, yang ingin membuatmu sedih. Bukan Papa, yang memilih jalan hidup ini. Kita ambil hikmah dari semua peristiwa, karena memang jalan hidup tiap manusia tak ada yang sempurna. Tuhan masih sayang pada kita. itulah sebabnya Ia memberikan ujian, agar kita tahu kuasaNya dan semakin mempertebal iman.” jelas Papa mengiba, seraya tetap menyetir.

Entah, hatiku masih tertutup kabut hitam. Aku tetap masih belum dapat menerima nasib buruk, yang menyelimuti keluarga kami sekarang.

Kami tiba di sebuah rumah sederhana, yang merupakan peninggalan orangtua Papa. Bila ditilikdari penampilannya, memang terkesan bangunan tua. Di rumah ini, tidak akan ada lagi kasur empuk, boneka, AC, televisi, komputer, kolam renang, maupun beranda rumah yang menjadi tempat favoritku.

Ooh, tidak! Kenapa ujian ini, yang aku terima dari Tuhan? Kenapa Papa ingin memulai hidup baru di sini? Bukan tempat yang lain? Aku bisa memberikan Papa pilihan yang lebih baik.

“Akhirnya Papa masih sempat mengunjungi kampung halaman. Tak ada yang berubah di desa ini. Tetap indah dan tenang.”

Rupanya pernyataan Papa tadi sudah menjawab pertanyaan batinku, tanpa beliau ketahui.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang menghampiriku.

“Wah, ini Safa, ya? Udah lama tidak bertemu. Wawan kangen sekali, atuh.

Aku tidak mengenalnya sama sekali. Kapan aku pernah kenal dan berteman dengan anak desa seperti dia? Penampilannya kumuh dan bau. Lalu ia menyalami Papa, yang menyambutnya dengan senang. Apa Papa mengenalnya? Setelah itu, dia juga ingin menyalamiku.

“Eh, tangan kamu kotor. Maaf, jangan pegang aku!” tukasku sambil menyingkirkan tangan, lalu masuk ke dalam.

*******

Mentari pagi menunjukkan sinarnya, yang malah membuatku enggan pergi ke sekolah baru. Tanpa aku duga, Wawan sudah menungguku di depan rumah dengan sepedanya.

“Ada apa kamu di sini?” tanyaku.

“Ingin berangkat bersama kamu.” Aku terkejut.

“Lalu, aku harus naik sepeda dengan kamu ke sekolah? Ya ampuuuun..”

Papa keluar rumah menghampiriku.

“Safa, lebih baik kamu ikut bersama Wawan, daripada kamu telat. Wawan mahir mengendarai sepeda, jadi kamu tak usah takut.”

Mau tak mau, aku pun naik ke boncengan. Sepanjang perjalanan, dia terus berbicara tentang keindahan desanya. Memang, pemandangan desa yang terlihat sangat indah pagi itu.

Para petani membajak sawah nan menghijau, dengan anak-anak bermain di pematang penuh tawa canda. Semilir angin pagi menyejukkan hatiku yang gundah. Pesona suasana yang menyelimuti desa ini, benar-benar berbeda dengan kota yang bising dan berpolusi.

“Jadi, Safa benar tidak ingat dengan Wawan, ya?” tanyanya dengan logat Sunda yang kental, membangunkanku dari keterpesonaanku menikmati pemandangan desa.

“Kamu ingin kepalaku pecah mengingat kamu? Sudah, jangan bicara terus. Kendarai sepedamu dengan benar, nanti kita jatuh lagi,” sahutku ketus lantaran terusik.

Akhirnya kami sampai di sekolah, SMA Mentari. Sungguh, aku tak menyangka. Kondisinya juga sangat berbeda dengan sekolahku di Jakarta. Bangunannya seperti belum pernah dipugar bertahun-tahun, sederhana sekali. Halamannya tidak terlalu luas, hanya ada lapangan upacara dan pagar kayu di depan kelas.

Aku masuk ke kelas yang sama dengan Wawan. Hampir semua murid menatapku. Entah kagum atau aneh melihat penampilanku yang berbeda?

“Kita sekelas, kamu tak usah takut sama mereka, atuh. Mereka baik, kok,” ucap Wawan, seperti tahu dengan perasaanku.

Beberapa menit kemudian seorang Guru datang, lalu menyuruhku memperkenalkan diri.

*******

Tak terasa pelajaran pertama usai, ditandai dentang lonceng. Aku dan Wawan pergi ke kantin, yang bangunannya juga sama sederhana. Mendadak, seorang gadis menghampiri kami.

“Selamat siang. Kenalkan, namaku Cempaka. Aku juga satu kelas dengan kamu. Oya, sebagai tanda perkenalan, mau mencoba makananku? Ini enak sekali. Aku yakin kamu pasti suka, walau tidak seperti makanan di kota. Tapi, aku jamin, deh.”

Aku melihat ke tempat makannya, tampilannya semacam ayam kriuk atau daging bento yang crispy khas Jepang. Rasa laparku tergugah dan menuntunku untuk cicipi makanannya.

Hm, yummmi.. Enak sekali. Dagingnya gurih dan tepungnya renyah. Ayam goreng pun kalah enak dengan makanan ini.

“Enak sekali. Apa nama makanan ini?” tanyaku, sambil tak henti menyuap.

Dengan santai dan lugu Cempaka menjawab, ”Wah, ternyata aku memang calon pemasak hebat. Ini tokek goreng.”

Ya Tuhan, rasa enak dan bahagia menikmati makanan langsung lenyap seketika. Aku pun segera berlari keluar kantin, untuk memuntahkan makanan yang telah masuk perut.

Sepulang sekolah aku hanya diam, memendam rasa kesal pada Cempaka. Jangan-jangan dia sengaja mengerjaiku.

“Kamu masih memikirkan kejadian tadi, ya? Udah, kamu jangan marah. Cempaka hanya mau berteman, sampai dia menawarkan makanannya. Dia tidak duga, kalau ternyata kamu nggak suka dan marah. Udah, nanti cantiknya hilang kalau marah terus,” bujuk Wawan yang mampu membuatku tersipu.

Tiba-tiba dia menghentikan sepedanya, tepat di sebuah tanah lapang dekat hutan kecil. Di sana hanya ada rumput-rumput ilalang dan sebuah bekas batang pohon yang sudah ditebang.

Kenapa kita berhenti di sini?” tanyaku bingung.

“Untuk menenangkan kemarahan kamu,” ucap Wawan lembut.

“Nah, coba kamu lihat. Batang pohon yang sudah ditebang itu, dulu berdiri kokoh dengan daunnya yang hijau dan rindang. Dulu di situ menjadi tempat berteduh dan istirahat bagi orang-orang yang lewat sepulang kerja. Pohon yang gagah, kokoh, dan indah, sekarang sudah tidak ada. Tapi, dia tetap berada di sana. Setia melihat bergantinya tahun yang terus berjalan, walau tidak tumbuh lagi. Tentu saja, masih menyimpan keindahan,” jelas Wawan bertamsil panjang lebar, coba menghiburku.

Aku tak mengerti. Tetapi demi gengsi, aku menganggukkan kepala,

*******

Di hari ketiga, aku memutuskan pergi sendiri ke tanah lapang itu. Entah kenapa, aku menjadi penasaran. Sepertinya Wawan sering sekali datang ke sini, karenanya aku langsung duduk di dekat batang pohon besar yang tumbang.

Rasa penasaran, membuatku berpikir tentang pohon itu. Juga sikap Wawan, yang terlihat berbeda ketika memandangku. Tanpa diminta, tiba-tiba kenangan tentang desa ini muncul dan menerbangkan ingatanku pada kehidupan 9 tahun silam.

Tepat di tanah lapang itu, seorang wanita desa memanggil anak laki-laki yang berada di atas pohon.

“Wawan, ayo turun. Sudah mau sore,” ucapnya dengan logat Sunda.

“Tunggu sebentar, Bu. Aku masih ingin menikmati pemandangan indah dari atas pohon ini.”

Kebahagiaan benar-benar terpancar dari wajahnya. Tapi melihat ibunya yang gelisah, Wawan kecil turun lalu memeluk ibunya. Ya, dulu dia juga sering mengajakku bermain di sana.

“Safa, kenapa kamu tidak mau naik ke atas pohon? Kamu pasti menyesal, jika tidak melihatnya.” Saat itu, wajah lugu dan bahagia selalu mewarnai hari-harinya.

Setelah itu peristiwa tak terduga terjadi. Beberapa orang kota berpakaian bagus serta para pekerja menebang pohon itu dengan gergaji besar. Aku berada di kejauhan, memandang Papa berbicara dengan rekan bisnisnya. Melihat itu, Wawan berlari menghampiriku dengan menangis.

“Safa, kenapa orang-orang berpakaian bagus itu menebang pohon? Huhuhu… Kenapa?” tanyanya sambil menangis.

Aku hanya terdiam, tanpa mampu berkata. Tak mendapat jawabanku, ia berlari ke arah orang-orang itu. Tapi ditahan oleh ibu dan ayahnya, meski mereka juga sedih melihat penebangan. Ayahnya berusaha menenangkan Wawan, menggendongnya agar tidak berlari lagi menemui orang-orang kota yang menjadi rekan bisnis Papa.

Kenapa harus pohon itu, Papa? Kenapa?”

Pertanyaan itu mengembalikanku pada masa ini.

Wawan, teman kecilku. Oh, kenapa aku melupakannya? Pantas, dia selalu datang ke sini. Sikapnya pun selalu berbeda, jika melihat batang pohon ini. Terlihat sedih. Sepertinya Wawan agak berubah sejak peristiwa itu, tidak seceria dulu. Tapi ingatan ini, tidak menyelesaikan rasa penasaranku tentang tumbangnya pohon.

*******

Senja yang mulai muncul, mengantarkanku pulang. Aku beristirahat di kursi, sampai Papa menghampiriku.

“Aku tidak menyangka Papa pulang secepat ini, biasanya sibuk dengan urusan usaha perkebunan yang baru,” sapaku menyambut.

Dengan wajah senang, Papa memberikan sebuah papan yang terbungkus kertas koran. “Ini hadiah dari Wawan, untuk kamu. Sebenarnya sudah lama dia ingin memberikan ini, tapi sejak kamu kecil kita sudah tidak pernah ke desa ini lagi.” Lalu papa meninggalkanku, menuju kamarnya.

Dengan cepat aku merobek kertas koran yang menutupi hadiah itu. Lukisan! Aku langsung terkesima melihatnya. Pemandangan indah dengan sawah hijau membentang di kaki dua bukit, juga memperlihatkan matahari yang tenggelam perlahan di baliknya, diiringi burung-burung yang terbang –di antara awan yang berubah warna menjadi oranye– mengantar tenggelamnya.

Permainan warnanya membuat lukisan seakan hidup, dengan aku seolah berada di dalamnya. Pemandangan yang berbeda, dari yang biasanya kulihat di desa ini. Wawan benar-benar pandai melukis. Lalu aku melihat secarik kertas berisikan pesan: Aku yakin, kamu pasti menyesal tidak mau naik pohon bersamaku.

Jadi, Ini alasan dia menangis saat pohon itu ditebang. Keindahan yang tersimpan, ketika dia naik ke atas pohon itu. Ya, aku menyesal tidak mau naik ke pohon bersamamu.

*******

Pada hari Minggu, aku datang ke rumah Wawan membawa tumbuhan kecil. Aku memanggilnya, ketika dia membersihkan halaman. Sesaat dia terlihat kaget melihatku.

“Kamu benar, Wan. Aku sangat menyesaaal..” ucapku dengan wajah gembira.

“Aku pikir, kamu akan menghiraukan lukisanku,” balasnya.

“Maafkan aku, ya, kalau hari-hari yang lalu aku membuatmu sedih. Tapi kemarin kenangan itu menyadarkan dan kembali mengingatkan tentangmu. Sebagai permintaan maafku, aku ingin mengajak kamu menanam tumbuhan ini. Ya, anggap saja ini sebagai anak dari batang pohon itu. Jika kita merawatnya dengan baik, pasti dia akan tumbuh subur dan besar. Akhirnya kita bisa melihat lagi keindahan, yang lama tidak dijamah mata.” ucapku merajuk.

Mendengar kata-kataku, Wawan tersenyum. Lalu mengajakku ke tanah lapang dekat hutan, untuk menanam ‘anak’ dari batang pohon itu bersama-sama.

“Kamu tidak marah dengan aku dan ayahku, kan?” tanyaku sedih.

Tapi Wawan hanya diam, seolah masih terdapat sedikit kesal di hatinya. Baru beberapa menit kemudian, dia menjawab.

“Kalau kamu mau menjadi kenanganku, aku pasti memaafkanmu. Hahahaha…” tawanya gembira.

“Ya ampun, Wawan. Aku kira kamu masih marah denganku. Kamu membuatku takut.”

Kami berlarian dengan perasaan bahagia.

“Oya, sepertinya tokek goreng juga tidak terlalu buruk. Bagaimana kalau besok di sekolah, aku meminta lagi darinya?” tanyaku yang tiba-tiba teringat Cempaka.

“Tenang saja, pasti dengan senang hati dia akan memberikan untukmu, Safa.”

Kami pun tertawa bersama.

*******

Ya, Aku dan Wawan akan memulai kenangan kami lagi di sini. Di desa ini dan pada anak pohon yang akan tumbuh ini. Ternyata memang benar kata Papa, kita bisa memetik hikmah dari semua kejadian pahit yang menimpa.

Tuhan memberikan ujian kepada kita, bukan karena tidak adil. Tetapi karena Tuhan masih sayang pada kita, sehingga bisa memetik kebahagiaannya di kemudian hari.

*) Devi Ariadne Darmawan adalah mahasiswa Universitas Bandar Lampung.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: