Skip to content

Cerpen: Rumah Sejuta Mazhab

by pada 1 Agustus 2014
(asseelahcharity.net)

(asseelahcharity.net)

Oleh Ayyuhatsanail Fithri*

Suara dzikir dengan frekuensi ekspres masih memantul dari surau perkampungan, yang hanya berjarak beberapa mil dari rumah penduduk. Tak beda dengan lima tahun silam. Selama itu tak ada yang berubah, dari warna dan rona kota Pahlawan ini. Pun dengan rindu yang terus membara di hati.

Sembari mengelus perutku yang sudah mulai membesar, kulangkahkan kaki keluar, menemui suami sepulang dari surau untuk melanjutkan rencana pulang kampung.

“Hei, gimana tadi olah raganya, Bi?” tanyaku riang.

“Lumayan, Umi.”

Aku masih memiringkan wajah, menatap wajah Abi. Menunggu kalimat selanjutnya.

“Lumayan capek. Ih, kamu tuh, ya, Mi. boleh ngeledek gitu.”

Lho? Kan, yang pertama kamu. Jadi tuntunan, deh, setelah itu,” jawabku tak mau kalah.

“Iya, deh, kalah. Yuk, berangkat.”

“Oke.”

Istilah olah raga yang sering kami gunakan adalah dilakukannya secara cepat bin ekspres pada segala ritual agama, mulai dari shalat, mengaji, hingga ber-dzikir.

Ya, masyarakat kota Surabaya memang kental sekali dengan ritual agama. Jangan tanyakan lagi jumlah pemuka agama –yang menjadi patokan masyarakat dalam memberi risalah– di tempat ini, sungguh tak terhitung.

Di sinilah, aku kembali pulang. Menapaki jejak kecil penuh cinta, yang pernah kulukis semasa kecil. Tempatku menimba dan menempa keyakinan, yang mengantarkanku pada kedewasaan. Tak terasa, kita telah sampai di tujuan rupanya.

*******

“Duh, siapa ini yang datang? Apa kabar anakku?” sapanya masih dengan penuh keramahan, namun tetap tanpa menatap.

Alhamdulillah, Kiai. Saya, juga bersama Aziz ke sini.”

Masya Allah. Sini, sini, di dalam juga ada Ibu.”

Lama rasanya aku telah tinggalkan tempat ini. Pesantren ini. Budaya ini. Dan suasana ini, di tempat ini, rumah Kiai ku dahulu.

Dan hari terus beranjak siang. Tak mau mengerti, beberapa anak masih larut dalam tawanya yang menggelegar serta permainan yang menghanyutkan mereka sebelum mengaji ba’da Ashar nanti.

“Kamu siap, nak?” tanya Kiai Musta’in hati-hati.

Insya Allah, Kiai.”

*******

“Santriwati, hari ini kita kedatangan Guru tamu. Beliau ini baru datang dari Jakarta. Materi Hadits kali ini, akan diajar oleh Uztadzah muda kita.”

Sungguh, apa kata Kiai barusan? Uztadzah? Belum pantas aku menyandang predikat ini. Sungguh.

“Nama saya, Cyntia. Panggil saja kak Cyntia, lanjut ya. Kita mulai, bismillahirrahmaanirrahim..”

“Psst, psst, dari Jakarta, lho, dia itu. Cantik sekali.”

Lha, wong dari Jakarta. Ya, ndak heran.”

Kurang lebih seperti itulah, gumaman yang berhasil kucuri dengar dari beberapa santri putri di belakang.

Sungguh, ini adalah waktu paling berharga, yang pernah kupunya dalam hidup. Mengaji, menelaah satu persatu harokat, kalimat, tanda dan kata suatu bacaan. Dan aku menjadi pusat perhatian mereka, dengan berbekal ilmu yang masih tersisa kala itu.

Rupanya senja mulai memanggil Muadzin untuk memberi tahu umat manusia, maghrib telah tiba. Maka kututup hari itu dengan Ummul Qur’an dan salam pada mereka.

*******

Suara klakson angkutan umum masih beradu dengan kendaraan beroda dua dan tak enyahnya lagi becak turut memperkeruh suasana di pekat malam.

Aku? Masih bersama Aziz, suamiku. Di dalam rover yang aman, sembari menikmati kerlip lampu malam Surabaya.

“Hei sayang, jadi nih kita ke Ampel?”

“Jadi Abi, Umi udah kepengen banget,” ucapku penuh alunan manja.

“Soto kikil, juga? Laksanakan!”

Ampel itu punya dua makna. Yang satu adalah pemuka agama, Sunan Ampel. Sedangkan satunya lagi adalah kawasan wisata religi, yang merupakan refleksi pengabadian pemuka agama tersebut. Ya, ke sana lah kami berangkat.

Di jalan, anak-anak berkopiah putih dan bersarung bersiap menuju masjid Ampel. Mereka bergegas, guna mengikuti istighotsah yang rutin digelar di malam senin itu. Juga terlihat rombongan ibu-ibu dengan berbagai macam penampilan. Tak tertinggal para bapak –dengan berbagai garis umur– membuat jalan menuju masjid menjadi lebih semarak.

Ramainya situasi tak menyurutkan langkah untuk terus berjalan, demi memuaskan kerinduan ini terhadap kuliner yang khas. Tetapi tak sampai satu meter dariku, dua pria Barat –sembari memanggul ransel ala backpacker– tertawa-tawa. Tumben sekali, pikirku. Biasanya hanya Bali, bukan di Surabaya.

“Wow, so many kids with cap in here. It’s so cool. You wanna try to speak with them?”

“Hai, kids, asselaakum.” Salah satu dari mereka menyapa anak-anak.

“..” Anak-anak pesantren tak menjawab. Ku terpana. Bukan saja aneh kalimatnya, tapi juga salah.

“Oh, oke. What is it?” ujar si Bule, menyangka anak-anak bingung dengan sapaannya.

“Asselaamuwaleikom.” Temannya mencoba memperbaiki.

“Aaaa? Wa’alaikumussalam,” jawab mereka seadanya. Meski masih salah, akhirnya anak-anak menjawab.

How old are you? Are you going to play with me?”

Masih dengan tatapan aneh anak-anak, yang memang tidak mengerti maksud dan gelagat kedua pria Barat tersebut.

“Hahaha, they look so dumb, Charles. C’mon, don’t waste your time for them.” ujar pria yang satu mengejek sambil mencoba ramah.

“Maybe they should change their cap? Hahahaha.” sahut pria satunya menanggapi seraya tertawa.

Kesal tidak lagi menjadi sebuah perasaan belaka, lebih dari itu. Ingin rasanya aku berbuat lebih pada mereka yang suka menghina orang. Anak-anak itu memang tidak mengerti yang mereka katakan, tapi aku? Aku, ya. Namun tidak ingin menjadi kompor yang mudah menyulutkan api. Meski sangat kesal, terpaksa aku hanya mengamati.

Oh, you’re dumbest. Pekikku. Dalam hati, tentunya.

*******

Di sinilah aku terpekur, di hadapan makam kedua orangtuaku, Di siang yang terik ini, kembali membalut luka dalam indahnya kristal air yang belum ingin berhenti menggenang.  

Ibu, Ayah, aku datang lagi. Tapi kali ini bersama Aziz.

Kubacakan surah Yasin dengan penuh detail di tiap ayatnya, juga surah paling pertama dalam Alquran. Lalu kutuangkan air mawar dengan penuh khusyu dan cinta, di tempat tinggal mereka saat ini.

Inilah alasanku sesungguhnya kembali pulang ke kota ini. Mencecap masa kecilku yang berlari-lari seareal pasar Wonokusumo, Surabaya, hingga areal makam ini –yang dulu sering dijadikan tempat aman untuk bersembunyi ketika main petak umpet. Dan bertemu kedua orangtuaku, yang kini tak menyata kembali.

Ah, ibu, ayah aku rindu kalian.. Rindu pada protes kalian atas kota yang makin hari semakin semrawut saja. Anehnya aku tidak membenci itu semua, Bu. Semrawut dan hingar bingar bocah kecil yang keluar dari masjid –ketika selesai belajar mengaji– lalu bermain selepet sarung satu sama lain. Semuanya indah dan membekas.

Dan Aziz masih sibuk mengelus punggungku, yang masih asyik sesenggukan naik turun.

*******

“Ayo, kita lanjutkan kembali pelajaran kemarin.”

Aku tak pernah membayangkan, sungguh mengagumkan melihat anak-anak pesantren mempelajari bahasa Inggris, sembari memperdalam agamanya sendiri. Tentu melalui sumber-sumber terpercaya: Alquran, Hadits, dan serangkaian kitab referensi lainnya.

Tak pernah bosan rasanya mengenalkan pengetahuan kepada seseorang, terutama anak-anak dari bangsamu sendiri. Dan, aku sudah membuat keputusan. Harus kuakhiri kesedihan ini, sekarang juga. Untukmu ibu, ayah, pendidikanku ini kupersembahkan.

Ya, aku akan mendirikan lembaga pendidikan semacam pesantren, bersama Aziz. Dan tentunya, dengan malaikat kecilku yang masih di-hijabi dalam tubuhku ini. Mereka harus tahu, masih ada rumah tempat menemui Tuhan. Rumah yang menerima sejuta mazhab, dengan berbagai macam syari’at ritual agama.

Meski hanya satu malam lagi tersisa di sini dan harus pulang pada penatnya ibu kota, aku akan kembali ke tempat ini. Satu minggu lagi, menyiapkan segala sesuatunya untuk pendirian sekolahku.

*) Ayyuhatsanail Fithri adalah mahasiswa Universitas Gunadarma.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: