Skip to content

Fiksi Mini: Mencuri Kotak Curian

by pada 2 Agustus 2014
(fahshart.blogspot.com)

(fahshart.blogspot.com)

Oleh Bucimuchal Pujakemi

Ada yang ingin kubicarakan padamu. Mari, mendekat, biar kututup pintunya rapat-rapat. Ini sangat rahasia. Aku tak ingin ada yang mendengar percakapan kita.

Sebentar, akan kubuatkan kau secangkir kopi dengan sedikit gula. Barangkali, ini bisa membuat segalanya terlihat sederhana. Kau santai sajalah di kursi. Kalau ingin, silakan baca koran yang kuletakkan di atas radio.

Belum sempat aku bicara, kau lebih dulu mengungkapkannya.

“Ini gawat, polisi mencari-cari kita. Tak bacakah kau berita pagi ini? Kita buronan!” katamu.

Tanganku gemetar tak keruan. Mataku jelalatan. Gigiku bergemeletak. Sialan!

Bagaimana ini bisa terjadi, sedangkan kau terlanjur bilang ingin melindungiku? Aku telah mencurinya. Aku telah mencurinya! Tak dengarkah kau, Sayang? Kita menjadi buron, hanya karena mencuri sebuah kotak.

Ah, itu tak akan menjadi masalah, jika laki-laki itu tak memergokiku. Bahkan, kau hanya menangkis pukulan-pukulan yang ditujukannya padamu. Kita akan aman, jika kau tak membuatnya terpeleset hingga kepalanya membentur lantai! Begitu lalaikah kau, Sayang?

Kita hampir kalah. Atau memang sudah kalah. Kotak itu, kotak yang menjadi hak kita satu-satunya, sejak mendiang Ibu menyerahkannya sebelum ia mati. Warisan yang Ibu minta agar kita menjaganya baik-baik, kita biarkan pindah ke tangan Ayahku yang serakah.

Salah siapakah ini, Sayang? Sejak tadi tak juga kaujawab pertanyaan-pertanyaanku. Ia yang mencuri, dan kita yang akan dibui. Tak bisakah hukum berdiri lebih tegak, dari para pecandu alkohol yang mabuk di jalanan?

Kalau saja saat kita minta ia segera mengembalikannya dengan baik, tak akan kucuri kotak curiannya. Tak bisakah hukum melihat lebih jernih, dari mata para orang tua yang menua seiring waktu? Pikirkanlah jalan keluar, Sayang. Pikirkanlah. Tubuhku sudah sangat lelah.

Di negeri ini keadilan telah dijual-beli, katamu. Dan kita hanya pembeli, yang tak pernah punya cukup uang. Setelah menimang-nimang, akhirnya kau punya solusi.

Kita tak akan dibui, karena ketidaksengajaan ini. Kita tak harus menanggung beratnya konstitusi imitasi. Katamu, kita akan mati bunuh diri.

From → Sastra

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: