Skip to content

Cerpen: Hutang

by pada 3 Agustus 2014
(primadonalombok.blogspot.com)

(primadonalombok.blogspot.com)

Oleh M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim*

Ombak-ombak menjelma mesin waktu tanpa alegori detik yang sempurna, ketika bayang-bayang pengusiran ialah debur yang menggantung di dada. Nelayan yang sedang melempar sauhnya, bagai mengulang memori yang telah menafsirkan kejenuhan zaman.

Angin sore tak menawarkan apa pun, selain gegas langkah menuju tepi desa Gerupuk. Sepuluh tahun bukanlah kelebat yang lekas, untuk menahan getir yang tersudut.

Dari berugak [i], lelaki ringkih itu menatap lama ketika aku turun dari mobil.

Berembe kabar [ii], Pak Mundir?”

Lelaki berkumis tipis itu tampak mencari ingatan. “Sai [iii]?”

“Saya Hasan.”

Dia terkesiap. “Solah [iv]. Hasan putranya Pak Nasrul?”

“Ya, Pak.” Aku mengangguk mantap.

“Lama tak jumpa. Berembe kabar Bapakmu?”

Bibirku mulai pahit. “Kemarin Bapak menyusul Ibu ke Rahmatullah. Saya kemari untuk menyampaikan wasiatnya. Bapak ingin melunasi hutangnya pada Pak Mundir.”

Innalilahi wa innailaihi roji’un. Terakhir aku bertemu Bapakmu, di pengajian besar setahun lalu di Mataram. Dia mengeluhkan sakit kencing manisnya. Tak perlu lah kau bayar hutang tak seberapa itu. Sesama Ahamad itu saudara,” jelas Pak Mundir.

Dia mengenakan kaus kumal warna hijau. Bau asin menguar tajam dari tubuhnya yang semakin ringkih dan legam, karena tiap hari menantang ombak saat melaut.

“Tak apa-apa, Pak. Ini sudah jadi wasiat Bapak.”

Kulirik sekitar rumah kecil Pak Mundir. Beberapa rumah baru, membuat daerah ini tak lagi bertanah sunyi. Sepuluh tahun lalu –saat aku masih tinggal di Gerupuk– hanya rumah Pak Mundir di tepi desa ini.

Disadari atau tidak, kami tahu para tetangga tengah mengintip dari jendela dengan lagak tak peduli. Pak Mundir yang melihat gerak-gerikku, hanya bisa menatahkan pasrah di pelupuknya. Tanpa mengatakan apa pun, aku sudah bisa membaca kubangan laut di wajahnya.

“Silahkan, masuk ke dalam. Apa kau akan menginap? Perjalanan ke Mataram masih jauh. Sebentar lagi malam.”

Tanpa ragu-ragu, aku segera mengiyakan tawarannya. Senang rasanya bisa bernostalgia di kampung ini. Kami melangkah masuk ke rumah Pak Mundir, yang sempit dan pengap. Tak ada harta benda yang menarik minat.

*******

Masih diizinkan tinggal di daerah ini saja, sudah nikmat tak terkira bagi Pak Mundir atas kekerasan hatinya. Dulu Bapakku pernah geram, saat tahu hampir tak ada yang mau membeli hasil tangkapan Pak Mundir sejak pengusiran itu. Dia harus berjalan susah-payah ke Praya, untuk menjual ikannya.

Peluru dendam dan putus asa menembus batas nalarku, tanpa sanggup memastikan buluh sabar masih setia merajut harapan yang tersisa. Penganan yang kubawa dari rumah lah, yang memberi seseling hiburan.

“Pak Mundir tak perlu menyiapkan apa-apa. Istriku membawakan pelecing dan ayam taliwang [v] untuk Pak Mundir. Mari kita makan sama-sama,” ajakku, sambil menata bata ramah di wajah dengan semen seulir senyum santun.

Dada cekung Pak Mundir  bergemuruh, bagai ada gejolak badai mengamuk di dalamnya. Batas napasnya tak menyiratkan apa-apa, selain mimpi yang hampir mati dalam nanap wajah. Dia tak mampu berkata-kata, selain air mata yang menyela.

“Sudah bertahun-tahun tiang [vi] tak makan pelecing. Aku rindu sekali..” sahut pak Mundir lirih.

Lututku gemetar, mendengar debur tersendu dari bibirnya yang pecah-pecah. Rasa bersalahku membawa ingatan pada fragmen kegeraman Bapak yang lain, tentang perilaku orang kampung pada sahabat orangtuaku ini. Orang kampung selalu berbagi pelecing dan ayam taliwang ketika hajatan, tapi Pak Mundir hanya dianggap sebagai penonton.

*******

Orang-orang yang membawa parang dan batu, berdiri di depan rumah kami dengan wajah gusar. Bapak tak menyiapkan apa-apa, selain gegas memicu tangannya bergerak dua kali lebih cepat membereskan barang-barang kami dari rumah. Kami sekeluarga harus pergi meninggalkan kampung ini, sebelum kegeraman warga desa membakar apa saja. Termasuk harga diri dan iman di hati.

Mobil pikap yang sudah hampir penuh itu melaju meninggalkan desa, tanpa berniat menjemput Pak Mundir. Kami tahu, lelaki tua itu tak akan rela meninggalkan rumah saat istrinya sakit-sakitan.

Para penduduk desa sudah berusaha mengusirnya juga –tapi karena rumahnya di tepi desa dan jauh dari pemukiman penduduk– mereka yakin Pak Mundir tidaklah membahayakan. Lagipula, mereka sudah sama-sama sepakat memutus benang silaturahmi dengan kami, sebab iman kami dianggap sesat.

“Pak, kenapa kita diusir?” Akhirnya aku berani bertanya, setelah keluar dari jalan desa. Sementara ibu dan adikku sibuk menghalau badai air mata.

“Karena mereka tidak suka, dengan kebenaran kita sebagai Ahmadiyah.”

Pikiranku yang masih SMP saat itu, tak bisa mencerna apa-apa. Kami cukup terpandang di desa. Kami shalat, zakat, dan puasa secara Islam. Di sekolah pun, aku rajin beribadah, sebagaimana temanku menunaikan kewajiban agama Islam.

Bahkan di kampung, Bapakku –yang penjual susu dan madu Sumbawa itu– memiliki banyak karyawan dari masyarakat desa Gerupuk sendiri. Dulu kami senantiasa saling membantu, tanpa mempermasalahkan aliran kami.

Keluarga kami memang hanya berkecimpung di masjid dan majelis pengajian, sesama Ahmadi di Mataram. Tapi kami tak pernah menolak, jika dimintai sumbangan untuk masjid dan kurban desa. Wajah Bapak tak lebih keras dari pualam basah. Kecamuk penasaran menjadi bensin pertanyaanku.

“Siapa yang memulai? Kenapa tidak ada yang mencegahnya? Kemana Anwar, yang biasa membantu Bapak kerja? Dia kenal baik dengan kita,” tanyaku bertubi-tubi.

“Tidak tahu.” Bapak menggeleng, pasrah.

“Tidakkah kau lihat, tadi Anwar bersama kerumuman itu. Sudahlah, kita akan ke masjid Ahmadi di Mataram. Di sana lebih aman. Jangan banyak tanya. Bapak juga pusing.”

Baru setelah di sana, ketegaran Bapak tampak mulai runtuh. Desas-desus Pak Mundir dan istrinya yang masih tinggal di desa, menjadi pembicaraan yang mengerikan. Mereka takut Pak Mundir akan dibunuh.

Walau kami semua sama-sama tahu, Pak Mundir akan tetap bersikukuh mempertahankan iman dan rumah tuanya. Apa pun yang terjadi. Kami semua sama-sama berdoa, semoga Pak Mundir lekas bergabung dengan kami supaya lebih aman.

*******

Dua lampu templok yang menyala di dinding rumah, ibarat lentera renta yang siap menyerah pada hembusan waktu. Aku sengaja meminta pemilik rumah tetap menyalakannya, karena aku takut gelap dan banyak nyamuk.

Sejak berjam-jam lalu, Pak Mundir sudah lelap berbaring di tikar –yang tak lebih kumal dari bajunya sendiri. Peristiwa sepuluh tahun lalu terekam jelas dalam benakku dan menjagaku, agar tetap bersama insomnia keparat.

Diam-diam aku menaruh kekaguman, pada sikap keras kepala Pak Mundir untuk tetap tinggal di wilayah terpencil ini. Walau penduduk desa bisa mengusir dan membunuhnya, kapan saja. Sejak kematian istrinya sembilan tahun lalu, hidup Pak Mundir tak lebih mudah ketimbang kesunyian –yang mengabrasi satu persatu karang hidupnya.

Bukan hal mudah baginya untuk tinggal di desa ini, ketika setahun setelah istrinya meninggal penduduk desa kembali akan mengusirnya. Kami dari organisasi Ahmadi sudah berniat menolongnya, tapi dia sudah menyiapkan segolok pisau. Bahkan mengancam akan bunuh diri di depan umum.

Kami semua tertegun ketika dia hanya bilang. “Tiang ini sudah tua. Apa salahnya menunggu ajal di rumah sendiri? Biarlah Tuhan yang menilai aliran ini sesat atau tidak.” Dia bersimpuh pasrah di berugak dan meletakkan golok di sampingnya.

Penduduk desa sudah engan berurusan dengan lelaki sinting dan tertutup itu. Mereka melakukan cara lain, dengan hanya memperlakukan Pak Mundir sebagai orang asing. Pak Mundir tak pernah disapa, apalagi diajak bercengkrama. Bapak kadang kesal sendiri melihat kebodohan, sekaligus kegigihan sahabatnya itu.

*******

Hawa sumpek dalam ruang sempit ini mengusikku, untuk mencari udara segar di luar. Hampir dini hari, ketika aku berjalan mendekati pantai Gerupuk yang masih bersih. Terakhir ke sini sekitar dua tahun yang lalu, ketika diminta Bapak mengantar Pak Mundir usai pengajian besar di Mataram.

Saat itu, bapak sudah berniat melunasi hutangnya pada Pak Mundir. Tapi ditolak, karena merasa hutangnya tidak seberapa. Dulu ketika masih sukses melaut, Pak Mundir pernah memberi modal untuk Bapak berwirausaha dengan susu Sumbawa. Pak Mundir menganggap hutangnya hanya sebagai sedekah, tapi Bapak merasa itulah jasa terbesar bagi keluarganya.

Bapak membawakan uang dua kali lebih banyak dan sebingkai besar foto lelaki kebanggaan Ahmadiyah. Foto Nabi yang lazimnya kami pajang, di dinding-dinding rumah kaum Ahmadi. Tapi, semua ditolak dengan sangat halus oleh Pak Mundir.

“Tak perlulah kau bayar hutang itu. Simpan untuk kuliah Hasan. Kelak jika kau memang harus membayar hutangmu, pasti Allah tunjukkan jalan.” jelasnya. “Selamanya aku tetap Ahmadi, tanpa harus memajang foto itu di rumahku. Percayalah.”

Bapakku merangkul sahabat pak Mundir, sambil menepuk-nepuk pundaknya dengan kagum.

*******

“Kebakaran-kebakaran.” Terdengar teriakan dari rumah Pak Mundir.

Pak Mundir pontang-panting berusaha memadamkan si jago merah, yang memangsa dinding rumahnya dengan buas. Pak Mundir hanya menemukan pasir untuk memadamkan kebakaran itu.

Aku berlari ke rumah tetangga meminta pertolongan. Mereka segera keluar rumah. Tapi ketika tahu siapa yang kena musibah, mereka seolah dikutuk jadi patung. Diam dan menyaksikan.

Sementara aku tahu –dalam lubuk hati yang terdalam– Pak Mundir tak mungkin lagi minta tolong pada mereka. Ini yang mereka inginkan sejak lama, walau jelas-jelas di KTP kami semua seagama.

Kini sebaliknya, para penduduk yang menjadi penonton. Barangkali tontonan yang sudah lama mereka tunggu-tunggu.

“Lampu temploknya jatuh dan membakar semua.” ujar Pak Mundir, putus asa.

Sesal menjadi gusar yang sia-sia, karena telah kubiarkan lampu templok itu menyala. Kami menatap kobaran api, yang melibas habis semua yang sudah dipertahankan puluhan tahun.

Aku melirik sekilas penduduk yang mulai masuk ke dalam rumah, tanpa berniat menyampaikan belasungkawa. Aku tahu dimana toleransi itu berada, kini. Dalam kebencian mereka, yang selalu asin seperti laut.

“Maafkan tiang, Pak. Seharusnya saya mematikan lampu itu.”

“Tidak apa-apa. Mungkin sudah saatnya, Hasan.”

“Sabar, Pak Mundir.”

“Sepertinya, ini saatnya kau membayar hutang Bapakmu. Bantu aku mencari rumah baru.” Dia kembali menyela, dengan ketegaran digergaji kehampaan.

“Pasti, Pak Mundir. Bapak bisa tinggal di rumah kami dulu.”

“Terima kasih, Hasan,” sahutnya, tanpa nyawa.

*******

“Kau masih Ahmadi kan? Setahun ini aku jarang bertemu denganmu di pengajian.” tukas Pak Mundir beberapa saat kemudian.

Sungguh tak kusangka, pertanyaan itu akan meluncur dari bibirnya. Kukira kedokku sudah sempurna. Bibirku bergerak-gerak gelisah. Akankah dia masih menyambutku kemarin, saat aku bilang aku sudah bukan Ahmadi?

Aku memilih aliran Islam umumnya, akibat bosan hidup tertekan sebagai Ahmadi. Juga karena tuntutan syarat nikah, dari keluarga istriku dulu. Hal yang membuat Bapak syok hebat sampai sakit-sakitan, sebelum akhirnya meninggal.

Akankah sama perlakukan penduduk desa Gerupuk padaku, jika kunyatakan identitas diriku yang sebenarnya kini? Ombak sunyi masih bersarang di pelupuk Pak Mundir. Mununggu jawabanku yang tak pasti, hanya akan membuat sarang ombak itu sesak di dadanya –yang tak sanggup lagi menyisakan asa paling merdeka.

 *) M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang.
Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red
______________

[i] Gazebo khas Lombok. Umumnya dibangun di depan setiap rumah di Lombok

[ii] Apa kabar? (Bahasa Sasak)

[iii] Siapa?

[iv] Baik

[v] Makanan khas Lombok, berupa kangkung, sambal, dan ayam bakar

[vi] Saya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: