Skip to content

Relung Negeri Buatku Jatuh Hati

by pada 5 Agustus 2014
(www.republika.co.id)

(www.republika.co.id)

Oleh Anisa Nurina*

“Begitu indah tanah mereka dan aku mengaguminya. Begitu banyak yang tak kupunya, kita begitu berbeda. Tapi aku tak ingin, karena aku telah jatuh cinta. Hati telah memilih menambatkan cintanya di satu bendera.” (Tangga – Satu Bendera)

Kampung halaman, memang tempat paling indah. Bahkan bagi mereka, yang pernah mengunjungi tempat paling indah di dunia. Ada rasa ingin kembali, saat kita jauh. Aroma tanah gembur yang menghangatkan, semilir angin yang menyegarkan, kicau burung yang menenangkan, hingga hamparan rumput hijau yang membuat mata ini tak ingin beranjak dari pandangannya.

Tempat yang terisolasi dari kejamnya perkembangan teknologi, membuat kampungku menjadi tempat paling nyaman untuk sejenak merebahkan tubuh –yang sering dipaksa memenuhi tuntutan zaman.

Saat ku tak ada di dekatnya, ada sesuatu yang hilang. Seperti langit yang kehilangan awan cerahnya. Hingga detik ini, tak mampu mendefinisikan besarnya cintaku padanya. Terlalu banyak misteri yang tak mampu kuungkap. Mungkin terlalu banyak hal indah yang kurasakan saat dekat dengannya.

Hampir 20 tahun ini, aku tinggal bersama orangtuaku –yang mempertaruhkan hidupnya– di ibu kota. Hal ini membuatku jauh dari kampung halaman. Liburku dan orangtuaku tak sering, hanya beberapa kali. Liburan panjang keluarga hanya saat Hari Raya Idul Fitri.

Itulah waktu yang kumanfaatkan untuk sejenak melihat keadaan kampung halaman, memastikan ia dalam keadaan baik-baik saja. Masih menjadi pribadi yang rendah hati dan penuh karya. Berlimpahnya hasil pertanian menyadarkan, aku tengah berada di relung negeri yang ternyata amat kaya raya. Indonesia.

*******

Kampung halamanku berada di bagian tengah Pulau Jawa, paling Timur di wilayahnya. Di situ lah relung negeri yang menurutku, membawa banyak potensi terpendam negeri ini. Petani menjadi mata pencaharian utama sebagian besar penduduknya.

Tak jarang telapak kaki mereka pecah-pecah, karena langkah yang tak pernah lelah penuh semangat menjangkah ke sawah. Tangan keriput yang tak pernah beringsut, mengangkut tiap pikul rumput. Di tengah sibuknya mereka menggarap sawah, tak pernah ada lelah. Senyum mereka pun tetap merekah, untuk sekadar menyambut pulangnya anak-anak mereka dari sekolah. Meski

Pribadi-pribadi yang masih mampu menemani buah hatinya belajar, mengulang pelajaran sekolah. Hingga mengantarkan mereka pada mimpi indah, demi menyambut hari esok yang lebih baik. Meski aku juga sangat paham, kalau mereka sangat terbatas dalam ilmu pengetahuan. Bahkan tak jarang, sebagian dari mereka tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasarnya.

Aku pun paham, bukan kehendak mereka terlahir dalam keadaan terbatas. Ini mungkin hasil “kemajuan” zaman, yang lupa menggerakkan tangannya untuk menjamah mereka karena keterpencilan di relung negeri. Senyum ikhlas, semangat, dan do’a adalah modal untuk membesarkan mimpi-mimpi anak mereka, yang tumbuh besar juga dengan segala keterbatasan.

*******

Tidak jauh berbeda dengan keseharian mereka, yang menggantungkan kelangsungan hidup melalui tanah subur negeri ini. Mereka mampu menyambut hari esok, dengan menghargai setiap hasil yang diperoleh dari butiran-butiran tanah basah Indonesia.

Makanan yang setiap hari terhidang di meja makan adalah hasil potensi terpendam negeri ini, mulai nasi hingga lauk pauknya. Tidak instan! mereka merasakan setiap proses. Saat makanan mulai dikunyah dan melewati kerongkongan, mereka ingat bagaimana menapakkan kaki di tanah basah untuk menggemburkannya. Ingat rasanya, ketika tangan memilih butir-butir jagung yang akan ditanam. Ingat seringnya bersabar di terik mentari, saat menanam dan merawat ladang dan sawahnya. Serta do’a yang tak lupa mereka panjatkan, menuju hari panen yang ditunggu.

Itulah sebabnya tak pernah ada makanan yang terbuang percuma, terpuruk di tempat sampah. Di tengah keterbatasan yang menghantui mereka tiap waktu, tak pernah sekali pun kulihat wajah kusut penuh tuntutan. Tiap hari mereka lalui dengan penuh ikhlas dan rasa syukur pada Rabbnya, atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan pada tanah negeri ini.

Karena itulah mereka menyadari, tak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Modal itulah yang juga menjadi imbalan prestasi akademik anak-anak mereka. Malah kerap mengantarkan si kecil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka menyadari betapa pentingnya pendidikan, untuk memperbaiki nasib bangsa.

Niat mereka diawali dengan memperbaiki nasib diri sendiri, berupaya hidup tak hanya menjadi sampah negeri. Tak hanya mengejar gelar, mereka menjadikan anak-anaknya sebagai generasi berpendidikan yang bermoral dan berkarakter.

*******

Berbeda dengan pemandangan ibu kota. Soal pendidikan, tak usah diragukan. Sebagian besar penduduknya adalah pemilik gelar pendidikan yang mumpuni, hingga mampu menduduki kursi-kursi wakil negeri.

Kesibukan hedonis dan egosentris ibu kota, tiap hari mereka lalui sebagai rutinitas. Membuka mata di pagi hari, sudah ditunggu dengan sejumlah agenda pertemuan relasi. Tak sempat rasanya sekadar makan roti menemani buah hati, apalagi kenal tetangga kanan kiri. Hanya demi ambisi, mencapai misi bagi diri sendiri. Mereka pulang, bahkan saat mentari sebentar lagi kembali memancarkan cahaya indahnya.

Modal ilmu pengetahuan yang dimiliki, memang tak perlu diragukan. Namun akibat kesibukan yang tak henti, mereka meminta pengajar pribadi menemani anak-anaknya mengerjakan pekerjaan rumah. Tanpa malu pula mereka serahkan orang lain, yang mengantarkan tidurnya.

Tapi mereka tak lupa menanyakan kabar peringkat di akhir semester. Kemudian dengan bangganya –ketika mengetahui prestasi si kecil meningkat– mengatakan semua itu hasil didikan mereka. Begitu mudah, berbagai hadiah mewah yang akan menemani sebagai imbalan prestasinya.

Si kecil memang tumbuh dengan fasilitas hidup yang memadai, namun minim perhatian dan bimbingan orangtuanya. Anak-anak mereka tumbuh menjadi manusia berpendidikan, tanpa karakter dan moral. Mereka menganggap pendidikan hanya sebuah gelar yang harus dicapai, minimal setara dengan orang tuanya.

Lain hal, jika anak-anaknya tak mendapat prestasi. Segera anaknya menjadi tertekan, karena sumpah serapah mereka siap menghantui. Tak jarang –dengan kondisi seperti ini– banyak anak-anak yang memilih nekat. Bukan hanya tak mau melanjutkan pendidikan, bahkan memutuskan mengakhiri hidup. Karena anak-anak juga menganggap, pendidikan hanya sarana mengharumkan nama baik orangtua di hadapan relasinya.

*******

Ibu kota memang tempat yang sempurna. Coba saja, di setiap sudutnya akan dapat ditemui segala yang diinginkan. Namun ternyata, kondisi seperti ini tetap tak mampu mengurangi keluh-kesah mereka atas kurangnya fasilitas negeri.

Sebaliknya, mudahnya mendapatkan segala sesuatu dengan kemampuan finansial malah membuat mereka jauh dari peduli. Lagi-lagi, hanya misi membesarkan diri sendiri. Seringkali tempat sampahnya berisi makanan yang terbuang percuma, menandakan mereka memang tak dapat menghargai. Apalagi berterimakasih dan bersyukur.

Mungkin inilah alasan lebih dalam munculnya idiom, ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Melihat hal ini, aku merasa tidak berada di negeriku. Yang katanya: ramah penduduknya, peduli sesama, dan gemah ripah loh jinawi. Perkembangan zaman yang cukup kejam, menghasilkan banyak pribadi yang tak cinta negeri dan hanya mementingkan diri.

*******

Kampung halamanku memang jauh dari cepatnya akses internet, penerangan listrik pun baru dirasakan awal tahun millenium. Namun dengan keterbatasan kondisi inilah, aku mampu memahami Indonesia lebih dalam.

Dengan kekayaan hati para penduduknya, yang merupakan wujud asli bangsa Indonesia. Penduduk yang selalu bekerja keras membesarkan diri dalam misi membangun negeri, minimal menjadi pribadi-pribadi yang peduli.

Dengan hasil pertanian yang melimpah di kampung halamanku, selalu membuatku tersadar dan bersyukur. Benar, aku memang berada di relung negeri yang amat kaya raya. Relung negeri yang tak banyak wakil negeri menjamahnya, yang justru membuatku makin mencintai Indonesia.

*) Anisa Nurina adalah mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang.
Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Feature dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: