Skip to content

Mudik Unik

by pada 9 Agustus 2014
(yustiakholifahsandra.blogspot.com)

(yustiakholifahsandra.blogspot.com)

Oleh Timbar Jaya Kusuma

Mudik, fenomena yang satu ini terjadi setiap tahun. Bahkan sudah menjadi tradisi dan ciri khas di Indonesia, yang selalu terkait dengan Idul Fitri. Mengapa demikian?

Sebelumnya kenalan, yuk, sama “mudik”. Mungkin mudik lebih dikenal dengan istilah pulang kampung. Itu benar. Tapi mungkin masih bingung asal-usul kata mudik yang akhirnya menjadi budaya unik, sekaligus sebagai fenomena mengagumkan di mata dunia. Beberapa pandangan ahli mengenai makna kata tersebut

Mudik Betawi

Mudik itu berlawanan dengan kata milir. Jadi mudik berarti pulang, sedangkan milir berarti pergi. Kata milir sendiri itu berasal dari kata belilir (pergi ke Utara). Soalnya, pada zaman dulu, tempat usaha ada di Utara (sesuai sejarah Batavia dan Sunda Kelapa). Makanya kata Mudik, bermakna Selatan.

Pendapat lain juga mengungkap, kaum urban di Sunda Kelapa sudah ada sejak abad pertengahan. Banyak orang dari luar Jawa mengadu nasib di tempat ini, menetap dan pulang kembali ke kampungnya saat Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri. Karenanya, kata mudik dalam istilah Betawi diartikan “Menuju Udik” atawa pulang kampung.

Budaya Agraris

Ada juga pendapat kalau mudik itu tradisi primordial masyarakat petani Jawa, yang bahkan sudah mengenalnya jauh sebelum masa Majapahit. Tujuan pulang kampung untuk membersihkan kuburan dan berdoa bersama Dewa di khayangan –memohon keselamatan bagi kampungnya– yang rutin dilaksanakan setahun sekali. Tradisi pesarehan (dalam Jawa) atau nyekar, juga masih terlihat hingga kini.

Sejak Nenek Moyang

Beberapa ahli mengaitkan adanya tradisi mudik karena masyarakat Indonesia keturunan Melanesia, yang berasal dari Yunani dan Cina. Kaum yang dikenal sebagai pengembara, yang menyebar ke berbagai tempat untuk mencari sumber penghidupan.

Pada bulan-bulan yang dianggap baik, mereka akan mengunjungi keluarga di daerah asal. Biasanya, mereka pulang untuk melakukan ritual kepercayaan atau keagamaan. Pada massa Majapahit, kegiatan mudik menjadi tradisi keluarga kerajaan. Sejak masuknya Islam, mudik dilakukan menjelang Lebaran.

Kajian Bahasa Arab

Kata mudik seperti istilah Arab untuk badui, sebagai lawan kata hadhory. Dari akar kata adhoo-a, berarti yang memberikan cahaya atau meneranngi. Hal ini dapat dipahami, kalau si pemudik secara khusus memberikan cahaya atau menerangi kampung-kampung halaman mereka.

Dari akar kata Adhoo-‘a (yang menghilangkan) dapat dimaknai kalau pemudik sebagai orang perantauan yang penuh kerinduan dan kesedihan, karena jauh dari orangtua serta keluarga yang berada di kampung halaman. Aktifitas mudik dilakukan dalam rangka menghilangkan semua kesedihan tersebut.

Juga dari kata adzaa-qo, berarti yang merasakan atau mencicipi. Mereka yang melakukan mudik, pastilah ingin merasakan dan mencicipi suasana kampung halaman. Dengan sederhana dapat diambil kesimpulan, mudik adalah kembali ke kampung halaman.

Mengartikan Hulu

Menurut Jakob Sumardjo –budayawan sekaligus sastrawan yang menjadi Guru Besar– di zaman pramodern hanya dikenal komunikasi lewat sungai. Hampir semua hunian tua berada di tepi sungai. Karena menjadi sarana komunikasi dan transportasi yang vital, dikenal istilah arah hulu dan hilir, mudik dan muara.

Waktu itu jika orang berkata ingin mudik, maka jelas artinya mau pergi ke hulu. Jika mau ke hilir, berarti pergi ke muara. Orang yang menuju hulu berarti naik, munggah, pulang, ke hutan, ke kebun, ke bukit, ke kampung. Sedangkan yang menuju ke hilir, dapat berarti pergi, keluar, ke pasar, merantau, kerja.

Arah hulu lebih bermakna perempuan dan hilir bermakna laki-laki. Jadi perempuan = hulu = rumah = kampung halaman, sedangkan laki-laki = hilir = luar = asing atau rantau. Dengan begitu, munggah dan mudik bermakna sama, kembali ke Ibu atau kampung halaman, ke nenek moyang, ke asal adanya, kembali ke Fitrah.

Inilah kesadaran kolektif bangsa kita sejak dulu, yang tak pernah lupa jati diri, asal usul, nenek moyang, serta kampung halaman tempat dilahirkan.

Identik Dengan Lebaran

Di zaman purba Indonesia, setiap tahun terdapat upacara yang bermakna manunggal dengan nenek moyang pada sebuah komunitas. Pada upacara dilakukan penyatuan manusia (sebagai mikrokosmos), dengan alam (sebagai makrokosmos) dan arwah nenek moyang berupa mitos-mitos (sebagai metakosmos).

Rangkaiannya berupa mandi bersama (bersih badan), pantang dan puasa, ziarah kubur, seni pertunjukan yang mementaskan kisah mitologi nenek moyang, dan diakhiri dengan makan bersama atau kenduri.

Upacara ini bermakna sangkan-paran atau kembali menyatu dengan asal –munggah atau mudik, ke idung asal kehidupan, pada Sang Pencipta– dengan seluruh warga yang masih hidup atau sudah meninggal. Ketika agama Islam dipeluk oleh bangsa Indonesia, sisa-sisa ritual ini tak lenyap karena sudah menjadi bagian arketip budayanya. Jadi istilah mudik sudah ada sejak zaman nenek moyang, meski dengan sebutan yang berbeda-beda.

Momen mudik memang lebih khas saat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Apalagi jika menggunakan kendaraan pribadi, seperti motor atau mobil. Panas dan macet sudah menjadi icon setiap tahunnya.

Bahkan ada yang beranggapan, macet adalah bagian dari mudik. Tak peduli dengan kondisi –walau membawa uang hanya sedikit– tetapi yang terpenting dapat berkumpul dan bersilaturahmi dengan sanak saudara serta keluarga di kampung halaman. Terlebih di hari yang Fitri, sungguh menjadi luar biasa.

From → Feature Budaya

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: