Skip to content

Pasar Induknya Kota Depok

by pada 14 Agustus 2014
Suasana jalan di depan pasar (Foto: AN)

Suasana jalan di depan pasar (Foto: AN)

Oleh Aisyah Nurrahmah

Tanah berlumpur, genangan air yang hitam serta bau yang menyengat, tak lain merupakan tempat yang menyuguhkan segala macam kebutuhan kita sehari-hari. Itulah pasar tradisonal, tempat kita menemukan segala macam rasa dan pikiran, bila masuk dan mencoba berinteraksi.

Salah satu pasar tradisional yang sangat berpengaruh di kota Depok ialah Pasar Kemiri, yang terletak di Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji. Selama 25 tahun tidak pernah sepi pengunjung, bahkan beberapa kios dengan terpal melayani pembeli nonstop 24 jam.

“Aktivitas biasanya mulai pukul 12 malam, dengan kedatangan armada sayur, ikan, ayam, dan sebagainya pada lapak-lapak pedagang. Lalu sekitar jam 2 dini hari, para penjual sayur keliling berbelanja dan menata sayurannya di pasar ini,” kata Chaerudin, Kepala Tibsar (Ketertiban Pasar).

Inilah pasar yang dapat menjadi harapan bagi banyak orang. Bagaimana tidak? Pasar ini memiliki manfaat tidak hanya untuk orang di sekitarnya, melainkan juga untuk mereka yang jauh.

Melalui para pedagang sayur keliling, nyaris seantero Depok dapat membeli sayur dari pasar Kemiri. Belum lagi para pedagang maupun para penggiat di sini, hampir dari semua suku bangsa Indonesia.

“Pedagang di pasar ini rata-rata didominasi oleh suku Jawa, lalu disusul dengan suku Sunda,” jelas Chaerudin.

*******

Ujang nama panggilannya, pedagang roti bakar yang mangkal di pasar ini. Roti yang didagangkan pun bukan miliknya, setiap hari wajib setor kepada pemilik modal. Namun setiap hari pula, ia harus pulang menemui istrinya di Bogor untuk memberikan penghasilannya.

Sungguh pekerjaan yang tak sebanding dengan pendapatan. Karena itu ia memilih pasar Kemiri, karena akses berdagang lebih mudah dan ramai pembeli. Juga lantaran tidak jauh dari rumahnya, sehingga tidak perlu mengeluarkan ongkos banyak untuk bekerja.

Tidak hanya Ujang, yang hidupnya bergantung pada pasar ini. Tetapi juga para kuli pasar, tukang parkir dan berbagai profesi lainnya, yang secara tidak langsung bergantung kepada keberadaan pedagang. Walaupun pendapatan pedagang cukup besar, tetapi –bila dipikir secara logis– mereka setiap bulannya harus mengeluarkan uang untuk sewa toko, bayar karyawan, kuli dan uang tak terduga lainnya.

Contohnya Lina, pedagang kelapa yang memiliki kios dan seorang karyawan. Dia mendapat omzet kotor hingga Rp 2 juta perhari, namun dia harus mengeluarkan uang untuk membayar kuli yang mengangkat kelapa ke kiosnya, gaji karyawan, uang kebersihan, keamanan, sewa toko dan kutipan lainnya. Sehingga menurut pengakuannya, pendapatan bersih yang didapat hanya cukup untuk membayar kontrakan rumah, makan sehari-hari dan sedikit tabungan.

*******

Di sisi lain, kesedihan muncul bila berkunjung ke pasar ini. Mengapa? Gedung bertingkat berjejer di depannya. Pesaing modern yang jauh lebih hebat pun, bersebelahan dengan pasar tradisional ini. Kesenjangan sosial sangat terlihat.

Memang, bila dipikir secara bijak, mungkin masyarakat menengah ke atas yang berbelanja di pasar modern. Tetapi keadaan pasar ini memang sungguh di bawah standar.

Keadaan ruko yang digunakan para pedagang pun sudah tidak layak pakai, jalan pasar yang rusak, selokan yang tidak mengalir, akan menurunkan kualitas pasar tradisonal. Akibatnya, boleh jadi, akan membuat orang beralih ke pasar lain.

Memang, sih, pasar Kemiri memiliki Tim Ketertiban dan Kebersihan, yang berada di bawah kordinasi Kepala UPT, Tjutju Supriawan, SlP. Tetapi mereka mengkhawatirkan, pemerintah tidak bisa merenovasi pasar.

“Semua ruko di sini milik PT Petamburan, yang tidak pernah terdengar ingin merenovasi atau melakukan perbaikan. Meski begitu, mereka mendirikannya di lahan milik pemerintah. Padahal sampai saat ini pun, pedagang membayar sewa kepada PT Petamburan. Sedangkan uang kebersihan, ketertiban, listrik dan parkir kepada Pemda Depok,” tukas Teguh, selaku Kordinator Pasar se-Depok.

*******

Susana pasar tradisional memang tidak pernah sepi, berbagai peristiwa dan suasana terjadi di sini. Kadang kita kepanasan, sesekali tertawa melihat orang gila, juga ‘takjub’ melihat kondisi pasar dan aromanya yang menyedihkan.

Tetapi harga yang murah dan suasana yang merakyat kita dapatkan, bila berbelanja ke pasar tradisional. Di negara paling maju pun masih terdapat pasar tradisional, mungkin keadaannya saja yang berbeda.

Sampai kapan pun pasar tradisional, terlebih pasar Kemiri, tidak akan pernah mati. Ya, pasar Kemiri memang Pasar Induknya kota Depok. Selain lengkap dan ditunjang lokasi yang strategis, mampu memberi kemudahan bagi para pengunjungnya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: