Skip to content

Yang Tersimpan Di Pulau Peleng (1)

by pada 16 Agustus 2014
(infobanggaikepulauan.blogspot.com)

(infobanggaikepulauan.blogspot.com)

Oleh Fardly Noormasita Moidady*

Travelling, siapa yang tak suka dengan aktifitas menyenangkan ini? Jalan-jalan bukan sekadar kegiatan nyantai yang mengasikkan, tapi lebih dari itu. Kita mencari pengalaman baru, keluar dari zona nyaman. Mempelajari banyak hal, seperti: sejarah, kebudayaan dan kebiasaan penduduk setempat. Apalagi tempat yang pertama kali dikunjungi.

Setiap traveller mendapat pengalaman yang sangat personal, meski berangkat rombongan. Kita bisa menceritakan yang kita alami selama perjalanan, tapi ada pula cerita yang hanya untuk sendiri.

Pertengahan Desember 2013, saya dan Devi Liedany merencanakan berlibur ke pulau Peleng. Julukan sebagai “Mutiara yang Tersembunyi” diberikan, karena menyimpan banyak pesona wisata alam yang belum terkenal. Maka menjadi tugas kami mempromosikan bagian kampung halaman ini, agar maju dan berkembang layaknya tujuan wisata.

Pantai Peleng berpasir putih (Dok. Pribadi)

Pantai Peleng berpasir putih (Dok. Pribadi)

Pulau Peleng terletak di Kabupaten Banggai Kepulauan, Salakan, Sulawesi Tengah. Sementara kami tinggal di Luwuk, Banggai, sehingga jarak yang akan ditempuh hanya empat jam menggunakan kapal motor. Tetapi bagi pelancong dari luar Sulawesi, pasti masih asing tempat maupun rute perjalanannya.

Jika berangkat dari Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, melalui perjalanan darat selama 12-15 jam atau pesawat udara menuju Luwuk (607 km). Kemudian lanjut ke Salakan menggunakan kapal motor, seperti yang kami lakukan.

Perjalanan tak terasa lama, karena saya asyik ngobrol ngalur ngidul dengan Devi di anjungan kapal. Kami memang memiliki banyak kesamaan hobi dan minat, alhasil mulai dari Pramoedya Ananta Toer, Gie, Raditya Dika, The Beatles, John Lennon, sampai Marlon Brando menjadi bahan obrolan. Namun sebenarnya kami juga tak sabar ingin kapal segera bersandar di Pelabuhan Salakan, apalagi Devi yang baru pertama kalinya ke Peleng.

Kami tiba jam satu dini hari, beruntung mendapat penginapan dekat sekali dengan Pelabuhan. Selain cuma jalan kaki 5 menit sampai di Penginapan Barata, juga recommended buat kalian para traveller. Tapi udara di sini cukup panas. Terbukti baru menginjakkan kaki beberapa langkah, saya dan Devi sepakat bilang panas.

Hamparan ladang bak pedesaan (Dok. Pribadi)

Hamparan ladang bak pedesaan (Dok. Pribadi)

Kami tak sabar memulai petualangan besok. Di  penginapan ini kami berjumpa dengan dua orang kolega Devi, rupanya mereka bersedia menjadi guide. Berempat keliling pulau naik sepeda motor, seperti di film Road Trip. Meski Salakan ibu kota Kabupaten, tapi suasananya sangat desa. Seperti pedesaan, tidak ada hiruk pikuk kendaraan yang membisingkan kendati jalan beraspal sampai ke pelosok.

Di desa dan dusun, rata-rata rumah penduduknya lebih sederhana. Terbuat dari papan dan atap ijuk daun kelapa/lontar, dengan atau tanpa pagar kayu. Banyak anak kecil berlarian tanpa baju atau celana, pohon dan semak yang membuat sepanjang jalan menjadi hijau. Dan setiap pantai yang kami kunjungi, airnya dapat digunakan bercermin. Bening dan jernih.  (Bersambung)

*) Fardly Noormasita Moidady adalah mahasiswa Akademi Komunikasi Indonesia, Yogyakarta.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Feature dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: