Skip to content

Profil: Riza Muhammad, Pendakwah Muda

by pada 28 Agustus 2014
Ustadz Riza Muhammad (Foto: Istimewa)

Ustadz Riza Muhammad (Foto: Istimewa)

Oleh Sri Wahyuni

Siapa yang tak kenal Ustadz Riza Muhammad? Ia kini dikenal sebagai pendakwah yang gaul, meski semasih menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Abror, Situbondo, malah ingin eksis di dunia entertainment sebagai aktor.

Bukan menjadi penceramah. “Aku, tuh, enggak pengen lah. Capek kayak-nya berkecimpung di bidang agama, pengen eksis sebagai aktor aja.” ujar pemilik nama asli May Riza Kurnia ini. Putra kedua dari tiga bersaudara ini akhirnya eksis di dunia entertainment, yang dalam perjalanan karirnya pernah menjadi pemandu acara (MC), broadcast announcer radio, dan presenter di Bali.

Kemudian ia beranikan diri membuka usaha, namanya “Riza Management” dengan 6 divisi: MC Organizer, Public Speaking School, Wedding Organizer, Management Artist, Management Dai dan seputar seminar dan latihan dalam dunia Public Speaking.

*******

Tetapi terdapat secret of live, rahasia kehidupan dalam hidup. Perjalanan hidup sebenarnya jauh dari yang direncanakan manusia. “Mungkin Allah tidak suka jika saya menjadi aktor, karena kita tahu kalau dunia entertainment penuh godaan, syahwat dan fitnah,” tambah finalis Indonesia Star di Metro TV tahun 2004 ini.

Maka melalui ajang pencarian DAI di TPI tahun 2005, karir Ustadz Riza Muhammad di dunia dakwah pun dimulai. Meski perjalanannya tidak lancar, pada 2006 pernah berperan dalam sinetron dakwah yang tak naik daun. Dua tahun kemudian menjadi finalis ajang pencarian pemeran di film Ketika Cinta Bertasbih, namun tetap tak berhasil tampil.

Aduh, Jakarta susah banget, yah? lirih Riza dalam hati, tetapi ia mempunyai semangat yang tinggi. Terus berusaha mencapai kesuksesan yang diinginkan. “Aku yakin, suatu saat nanti 250 juta penduduk Indonesia akan tahu siapa saya,” tegas sang Ustadz yang pernah mengalami putus asa dalam hidupnya.

Saat menjadi Public Relation pada Divisi Haji dan Umroh di Bank Syari’ah Mandiri, pria kelahiran Mei 1983 ini mendapat tugas dari masyarakat Bali untuk mengundang Ustadz Jefri Al-Bukhori. Sambil menyelam minum air, begitulah ketika Riza dipertemukan dengan management-nya Ustadz Solmed. Mereka mengatakan, “Kenapa kamu tidak menjadi penceramah di Jakarta?”

Berkat management tersebut, buah cinta pasangan Arie dan Numaningsih ini dapat mengikuti audisi dan casting di berbagai PH (Production House). Awalnya ia bekerja di stasiun TV B Channel, membawakan program “Ada Anak Bertanya pada Bapaknya” bersama Adi Bing Slamet dan artis cilik Umay. Setelah itu rezeki pun mengalir bagi dirinya, yang dibuktikan banyaknya TV swasta meminta Riza.

Misalnya, acara Ramadhan di Masjidil Haram ANTV selama setengah bulan. Seusainya diminta Metro TV mengisi acara Stand Up Comedy. Kemudian Riza diminta RCTI menjadi juri Hafidz Indonesia, dan beberapa saat lalu mengikuti syuting sinetron Pesantren Rock & Roll Season 3 yang tayang di SCTV. Bahkan pada Ramadhan lalu, Ustadz Riza Muhammad sangat sibuk dengan dakwah di beberapa TV swasta.

*******

Sebagai manusia biasa, Ustadz Riza Muhammad pun merasakan suka dan duka dalam hidupnya. “Sukanya bertambah banyak teman, mempunyai fans dan dikenal banyak orang. Sedangkan dukanya, ketika menjadi public figur saya tidak bisa bertingkah laku sembarangan. Karena penuh dengan penilaian masyarakat, yang sejatinya menjadi manusia yang diteladani.

Wa man akhsanu kaula mimman da’a ilallah (tidak ada pekerjaan yang paling baik, tidak ada ucapan yang paling baik, kecuali berdakwah di jalan Allah), begitulah motivasi seorang Ustadz Riza Muhammad yang diterapkan dalam hidupnya.

“Konsep ini saya temukan, ketika menekuni dunia dakwah,” jelas Ustadz Riza. Lalu ia pun berpegang teguh dengan dakwah karena merupakan bagian terindah dalam hidupnya. “Ketika seseorang melakukan dakwah kepada Allah, maka di dalamnya engkau selalu bersentuhan dengan Allah. Ketika seseorang bersentuhan dengan Allah, hidupnya penuh dengan dzikir. Ketika seseorang penuh dengan dzikir, pasti hidupnya akan tenang.”

“Jadi, seseorang yang dekat dengan Allah maka hidupnya akan bahagia dan tenang. Nah, konsep ketenangan itulah yang saya temukan saat ini. Walaupun medan dakwahnya berat, karena tidak setiap masyarakat siap menerima statement yang ia punya,” tambah Ustadz Riza. 

Dakwah penuh dengan ujian, penuh dengan warna-warna keberagaman. Apabila menyentuh fiqih, khilafiyah, perbedaan pendapat pasti ada. Alhamdulillah, prinsip yang membuat hidup saya: Wa man akhsanu kaula mimman da’a ilallah adalah spirit terindah, yang membuat saya harus senantiasa survive dalam hidup ini. Termasuk siap untuk fighting menghadapi kejamnya kota Jakarta,” tandas Ustadz Riza.

Harapan yang masih diinginkannya adalah supaya ia menjadi seorang pendakwah yang istiqomah. “Karena istiqomah itu tantangannya berat, dan paling berat di antaranya adalah melawan hawa nafsu. Aku ingin tetap dekat dengan Allah, ingin berusaha meniru kepribadian Rasulullah SAW,” pungkasnya menutup perbincangan.

From → Kiriman

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: