Skip to content

Cerpen: Segera Bersedekah

by pada 31 Agustus 2014
(www.fotografindo.com)

(www.fotografindo.com)

Oleh Yulida Medistiara

“Neng, minta sedekahnya, Neng,” pinta seorang tua renta dengan baju lusuhnya di pinggiran rel.

 Aku melongo, melihat wajahnya yang kumal, berkulit kusam dan berambut putih. Duduk di pinggiran rel yang dipadati hilir mudik pejalan kaki, membuat sendalnya kadang terinjak orang lain. Tak peduli teriknya matahari ataupun guyuran hujan, di usianya yang telah lanjut ia masih menggantungkan hidupnya di sisi lain kota ini. 

Di kantor, aku disibukkan berbagai agenda rapat dengan Divisi Marketing dan petinggi-petinggi lainnya. Kepalaku masih saja pusing akibat suasana kereta tadi pagi. Rasanya riuh, padat, sumpek dan tak bisa bergerak ketika dalam kereta pagi.

Ketika rapat membahas harga produk, aku berpikir harga tesebut terlampau mahal. Aku terbayang nasib pengemis tadi pagi. Aku berpikir, betapa susahnya kehidupan bila hanya berpenghasilan dari mengemis setiap hari.

Bagaimana aku dapat menjual produk yang meraup untung banyak, sementara tidak semua orang dapat menikmati produk ini. Apakah aku cukup tega? Membiarkan orang kelaparan setiap harinya, membiarkan orang-orang yang kurang beruntung tidak dapat merasakan nikmatnya produk ini.

Suasana semakin panas akibat pernyataan yang kuajukan barusan. Mereka menilai, aku terlalu idealis dan tidak memikirkan nasib karyawan perusahaan. Aku terjatuh, pingsan.

******

Aku pulang menaiki kereta sore yang padat. Baru hari ini, aku merasakan euforia berdesakan dalam kereta. Ketika semua mobilku berada di bengkel, aku yang mengejar waktu lebih cepat memilih menaiki kereta daripada taxi. Tinggal satu stasiun lagi aku akan turun.

Aku teringat kakek paruh baya tadi pagi dan berniat memberinya uang, lantaran merasa iba padanya. Setiap hari, ia merasakan tiupan angin kencang dan getaran tanah sekitar saat kereta melaju. Ketika turun, aku tak dapat menjangkau tempat kakek tua itu. Penumpang yang baru turun mendorong-dorong hingga aku nyaris terjatuh. Akhirnya, kuputuskan untuk menunda memberinya uang.

*******

Aku jadi teringat orang tuaku. Saat kami hidup miskin, merekalah yang mengajarkanku untuk hidup hemat. Menabung di saat kebutuhan banyak, sementara berpenghasilan pas-pasan. Merekalah yang mengingatkanku untuk tidak menghambur-hamburkan uang, saat hidup telah mapan. Sekarang mereka memilih tinggal di rumah lama, yang mereka bangun bersama sejak awal pernikahan. Aku jadi merindukan mereka, sejak aku melihat kakek tua pada Jum’at ini.

Di akhir pekan, aku pergi ke kampung halaman untuk menjenguk orang tua. Mereka yang telah tua dan ringkih, hampir tak dapat mengenali darah dagingnya. Aku harus bersusah payah, agar mereka kembali mengingatku.

Aku yang selama ini hidup bermewah-mewahan, hampir lupa kalau orang tuaku di sini hidup prihatin. Beragam bujukan kusampaikan, agar mereka mau tinggal denganku. Setelah kuberi pengertian, mereka bersedia ikut denganku pulang.

*******

Keesokan hari mobilku belum juga selesai di reparasi, aku kembali menaiki kereta menuju kantor. Di hari Senin, semua orang hampir tidak mau mengalah. Sebagai pengguna baru kereta, aku takut tertinggal keberangkatan pukul 6 pagi. Karena terburu-buru, aku tidak jadi lagi memberi pengemis itu uang. Aku menundanya, dengan hasrat melebihkan uang yang akan kuberi.

Di kantor, suasana panas belum mereda. Rapat yang membahas harga produk, masih belum menunjukan titik terang. Hingga senja datang, rekan-rekanku semakin memojokkanku. Namun, aku tetap berusaha memperjuangkan harga yang rendah dengan kualitas yang cukup bagus. Sehingga, tidak ada kesenjangan lagi bagi konsumen untuk membelinya. Rapat pun ditunda, mereka belum menyetujui keputusanku sebagai pemilik perusahaan.

Saat pulang, aku pergi ke bengkel untuk mengambil mobil yang selesai di reparasi. Hanya satu mobil yang selesai, aku pulang mengendarai mobil tersebut dan membatalkan niat memberi pengemis tua itu uang. Namun, aku merasa ada yang janggal. Seperti perasaan bersalah, karena telah menunda kebaikan.

*******

Sepekan setelah mobilku ‘sembuh’, aku memutuskan berangkat menggunakan kereta. Sebab, aku terus dihantui perasaan tidak enak terhadap kakek tua di pinggir rel tersebut. Sesampainya di tempat itu, tubuhku bergidik. Kakek itu berwajah pucat, seperti sedang sakit.

Aku membuka resleting tas dan membuka dompet, ku keluarkan tiga lembar RP 100.000, Kuberikan padanya, kemudian ia mengucapkan terimakasih dengan wajah heran. Aku berusaha membuatnya tenang dan mau menerima pemberian tersebut.

Tak kusangka, seseorang berlari menabrak tubuhku. Aku terjatuh di keramaian, dompetku raib. Pencopet itu berlari kencang, aku tak dapat mengejarnya karena masih tersungkur. Pengemis itu pun menghampiri pencopet yang berdiri di palang kereta. Rupanya dengan cekatan pencopet tersebut meloncati rel, meski beresiko taruhan nyawa.

Tipis sekali rentang waktu ketika pengemis itu datang, pencopet telah berhasil menyeberangi rel. Naas, ketika pengemis itu berusaha menarik baju pencopet, ia tertabrak kereta. Kereta melaju, menghampiri tubuhnya yang rapuh dan memangsanya mentah-mentah. Badannya berserakan dengan anggota tubuh yang tak lagi utuh terhampar di sekitar rel. Semua berlumuran darah tanpa bentuk, hanya sandal jepitnya yang tertinggal di tempat ia tertabrak tadi.

Aku tercengang. Pengemis itu, rela mengejar pencopet yang lebih lincah dan bugar, daripada dirinya yang renta. Kakek tua tersebut mengorbankan nyawanya, demi aku yang baru saja memberinya uang. Padahal, jumlahnya mungkin tidak seberapa, jika dibanding dengan nyawanya.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Dalam benak aku bertanya, apakah dompetku sangat berharga untuk orang sepertinya? Atau memang pengemis tersebut pribadi yang sangat baik, sehingga mau menolongku? Tak ada yang bisa menjawabnya. Ia telah meninggal dunia. Lelaki paruh baya itu meninggal, dengan cara yang sangat tragis.

Tubuhku lemas, terkejut dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Orang-orang mulai mengumpulkan potongan tubuhnya yang tak menyatu lagi. Satu-satunya benda termewah yang ia kenakan adalah cincin kawin. Cincin tersebut masih melekat pada jari, meskipun tangan tersebut tak lagi utuh. Aku menelepon polisi dan rumah sakit, untuk mengurus jenazahnya maupun biaya yang harus ditanggung.

*******

Meskipun aku tak mengenal kakek itu, wajahnya selalu terbayang sejak aku melihatnya di pertemuan pertama. Perasaan janggal terus tersangkut di hati, setiap aku menunda memberi sedekah padanya. Kini ketika aku telah memberikan uang, nyawanya pun melayang.

Aku memaknai peristiwa ini sebagai pelajaran. Di saat ingin melakukan sedekah, tak akan kutunda. Sebaliknya, disegerakan. Sebab, kita tidak tahu sisa umur setiap orang. Ya, kebaikan janganlah ditunda. Masa depan memang dapat direncanakan manusia, namun Sang Pencipta lah yang menentukan kelahiran dan kematian hamba-Nya.

Untuk membalas budi pengemis itu, aku memasarkan produk tersebut dengan harga murah. Dengan kualitas dan jumlah produksinya, yang lebih dari biasa. Berkah mendatangi perusahaanku, keuntungan ternyata jauh lebih besar.

Dengan disepakati para petinggi perusahaan, dari keuntungan itu aku membangun lembaga untuk mendidik pengemis-pengemis jalanan. Khususnya mereka yang berada di sekitar rel kereta api, supaya memiliki keterampilan dan memiliki kerja yang lebih layak.

Ya, agar masa tua mereka tidak seperti kakek pengemis yang telah menyadarkanku..

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: