Skip to content

Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat

by pada 4 September 2014
(devidayanti.blogspot.com)

(devidayanti.blogspot.com)

Oleh Rani Rizki Amalia

Kursi penumpang Commuterline sore itu, hampir seluruhnya terisi. Suasana terbilang sunyi, meski cukup banyak penumpang dalam gerbong. Hanya sekali dua terdengar celetukan orang mengobrol, sisanya hanya suara gesekan rel yang memenuhi pendengaran.

Wah –setelah saya mengamati sekitar– ternyata semua orang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing  yang serupa. Ya, apalagi kalau bukan sibuk menatapi layar berukuran kecil hingga sedang, yang berada dalam genggaman mereka: gadget.

Pernah Anda melihat atau malah berada dalam situasi tersebut? Sejauh mata memandang, hanya ada orang-orang yang menunduk takzim. Menarikan jemari mereka dengan lincah di atas layar sentuh, entah itu smartphone, tablet, atau gadget lainnya.

Kemudian, daripada merasa bosan sendiri, Anda malah ikut tergiur menyibukkan diri. Anda mengeluarkan smartphone, memakai headset, menyetel musik, lalu online di jejaring sosial. Dan…detik berikutnya Anda pun punya dunia sendiri, tak ubahnya orang-orang di sekitar Anda.

*******

Ya –tak dapat dipungkiri– fenomena ini terjadi karena pesatnya kemajuan teknologi informasi. Dulu orang-orang menggunakan alat komunikasi hanya dengan ponsel biasa, yang hanya untuk menelepon dan megirim pesan singkat (sms). Coba bandingkan sekarang, menelepon atau mengirim sms saja seakan tak cukup. Rasanya belum afdol, jika belum memiliki smartphone di zaman serba instan ini.

Memang, tujuan adanya inovasi-inovasi teknologi informasi adalah untuk memudahkan komunikasi antarmanusia meski berjauhan jarak. Oleh sebab itu, bermunculan beragam gadget yang menawarkan kemudahan dalam mengakses aplikasi-aplikasi berbasis komunikasi.

Sebut saja, aplikasi BlackBerry Messenger (BBM), Whatsapp, Line, Path, Instagram, dan masih banyak lagi. Belum lagi perihal koneksi internet yang malah sudah lumrah hadir di setiap ponsel keluaran terkini. Jejaring sosial pun, seperti Facebook dan Twitter menjadi incaran sebagai media berkomunikasi. Tak ayal, banyak orang yang akhirnya menggandrungi gadget canggih, untuk sekadar chatting, online atau update status.

Sayangnya, segala kemudahan itu malah membuat kita terlena. Sering kali kita terlalu asyik menenggelamkan diri dalam serunya permainan (games) dan dunia maya. Membuat kita tak peduli lagi dengan dunia sekitar.

Tujuan kemajuan teknologi informasi yang seharusnya mendekatkan yang jauh, justru malah berbalik jadi menjauhkan yang dekat. Jika diibaratkan, orang di seberang lautan sana kita perhatikan, tapi orang yang duduk bersebelahan dengan kita malah diabaikan.

*******

Sudah banyak kita temukan fenomena ini secara nyata. Perhatikan saja interaksi dalam keluarga sekarang ini. Meski berada dalam ruangan yang sama, perhatian mereka (ibu, ayah, atau pun anak), seringkali tertuju pada handphone masing-masing. Sibuk megetik atau mendengarkan musik melalui headset, yang tanpa disadari mengabaikan orang di sekitarnya.

Atau contoh nyata lainnya, ketika kita sedang berkumpul dengan teman. Duduk berdekatan, tapi ujung-ujungnya kita lebih banyak sibuk update di jejaring sosial daripada bercengkrama dengan teman sendiri. Kalau kita malah sibuk dengan urusan masing-masing, untuk apa berkumpul?

Saking getolnya terhadap gadget, membuat –seakan-akan– makna kebersamaan tak penting lagi. Interaksi sosial pun semakin menurun, karena orang lebih memilih berkomunikasi secara tidak langsung, ketimbang bertatap muka.

Bayangkan, sekarang mereka lebih memilih untuk mengirim pesan atau chatting –daripada harus mengetuk pintu rumah teman mereka secara langsung– hanya untuk memberi tahu sudah berada di luar rumah teman mereka.

Padahal sebelum ‘tersentuh’ oleh segala macam kecanggihan itu, kita masih bisa saling memperhatikan. Saling peduli satu sama lain, dan saling menghargai keberadaan orang sekitar. Kita masih fokus dengan yang terjadi di sekeliling kita.

Namun, setelah hadirnya berbagai teknologi canggih berwujud gadget, budaya itu seakan luntur. Rasa perhatian, peduli, dan menghargai, semakin pudar dari dalam diri masyarakat. Tergantikan sikap individualis dan apatis, yang kini makin mengakar.

Jika tidak ingin budaya masyarakat yang berharga tersebut hilang, sudah tentu kita harus menanamkan pentingnya pendidikan sikap ini kepada setiap generasi. Menanamkan pemahaman, kalau berinteraksi di dunia nyata lebih baik dari dunia maya, mengajarkan betapa seharusnya kita lebih aware terhadap yang terjadi dengan sekitar dan tidak boleh bersikap tak acuh.

*******

Coba renungkan sekali lagi. Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia, hanya karena sibuk mengurusi gadget? Waktu berharga yang seharusnya dapat kita habiskan dengan keluarga tercinta dan kerabat dekat, malah hilang begitu saja karena ‘bergalau-ria’ di jejaring sosial dan update yang tak penting di sana-sini. Padahal jika kita menggunakan waktu tersebut dengan orang sekitar, pasti lebih menyenangkan bukan?

Ya, pastinya Anda sendirilah yang dapat menentukan jawabannya. Pilihannya sekarang, Anda lebih ingin tampil eksis di dunia maya atau bahagia di dunia nyata?

 

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: