Skip to content

Cerpen: Kotak Rahasia (1)

by pada 6 September 2014
Ilustrasi (www.republika.co.id)

Ilustrasi (www.republika.co.id)

Oleh Patricia Astrid Nadia

Hari ini Siska terlihat aneh. Wajahnya tampak kusut, bak dihantam angin tornado. Kurasa ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

“Sis, kenapa ice cream-nya nggak dimakan?” tanyaku heran.

Dari tadi ia hanya mengaduk-aduk ice cream, dengan muka putus asa. Ini pertama kalinya aku melihat Siska memasang wajah murung seperti itu, biasanya wajahnya selalu berbinar-binar saat memakan ice cream.

“Senyum, dong! Kan hari ini kita ngerayain kelulusan kita di semester 2. Apa kamu sedih karena mata kuliah Psikologi Kepribadian sudah selesai?” Aku menerka-nerka pikiran Siska.

“Duh, Trid! Aku mau ikut lomba musik, nih. Tapi, saingannya berat banget,” keluh Siska dengan nada loyo.

Ternyata tebakkanku salah. Oh, rupanya dia merasa minder untuk lomba musik. Pantesan saja mukanya lecek begitu.

Aku menepuk pundak Siska, “Coba dulu aja, Sis. Kamu tahu, nggak? Dulu aku orangnya juga minder, lho.”

“Hah? Seorang Astrid pernah minder?” Siska terkejut. Sorotan matanya terlihat tak percaya.

Ceritain, dong. Gimana kamu bisa minder?” kata Siska, ingin tahu lebih dalam. Ia tak sabaran mendengarkan lanjutan ceritaku.

“Ehm, tapi ceritanya panjang, lho”, sahutku, disusul dengan senyuman jail.

Siska mengangguk dan berseru, “Ah, bukan masalah.”

*******

Ya ampun! Ondel-ondel dari mana, ya? pikirku dalam hati. Keningku berkerut melihat perempuan berambut panjang yang berjalan menuju bus. Kelihatannya dia repot banget dengan barang bawaannya. Hebat sekali! Koper yang dibawanya, seperti orang yang mau travelling selama 1 minggu.

“Pelatihan jurnalistiknya cuma 3 hari, kan?” tanyaku memastikan.

Erwin mengangguk. Kucium aroma minyak wangi yang menyengat saat perempuan itu melewatiku. Urgh, baunya norak banget, kataku dalam hati, sambil menutup hidung dan berjalan menuju bus.

Terlihat panitia dari Dinas Pendidikan Jakarta Timur berlalu-lalang di depan bus. Wah! Beruntung sekali aku bisa ikut acara seperti ini. Yes! Senangnya jadi perwakilan sekolah dan nginep tiga hari di Bogor. Lumayan, bisa menghilang sejenak dari pelajaran matematika yang menyebalkan.

Kulirik jam tanganku, sekarang jam 1 siang. Pasti teman-temanku sedang berkutat dengan rumus phytagoras. Aku tertawa dalam hati.

“Duduk di depan aja, ya, Trid?” tanya Erwin, sambil meletakkan barang bawaannya di kursi paling depan. Erwin selalu memilih tempat duduk di depan, karena ia akan merasa mual kalau duduk di belakang.

“Hai! Kenalan, dong! Aku Indah, dari SMK Jurnalistik Harapan,” katanya menghampiri tempat dudukku dengan begitu girang. Ternyata perempuan yang tadi itu namanya Indah, gumamku dalam hati.

“Aku Astrid dan ini Erwin, dari SMA Don Bosco.”

Matanya langsung terbelalak kaget, seperti habis melihat hantu. Mungkin dalam pikirannya hanya anak-anak SMK saja, yang dapat ikut kegiatan jurnalistik seperti ini.

“Oh, dari SMA?” sahutnya meremehkan. “Berarti nggak ada magang, ya? Kalau aku pernah ke studio TV. Terus foto bareng sama presenter-nya,” ujarnya membanggakan diri.

Ya ampun! Gayanya sok sekali, sih, pikirku.

Si tante make-up itu menyodorkan HP-nya. Ia berniat memamerkan foto-fotonya dengan beberapa penyiar. Dia juga melontarkan ocehan-ocehan menjengkelkan, tentang rumitnya dunia jurnalistik. Tapi berkat kehadirannya, aku jadi minder untuk menjadi jurnalis. Padahal, aku ingin sekali menjadi reporter.

Mulutnya tak kenal lelah untuk mengoceh. Bahkan suara radio rusak pun, masih terdengar lebih merdu.

“Tahu nggak, kalian? Resiko jadi jurnalis itu banyak, lho!” Matanya melotot berusaha menakut-nakutiku. Gayanya berceloteh, seperti pakar jurnalis ternama saja. Dia bertingkah, seakan aku lah orang paling bodoh dalam memahami jurnalistik.

Sesekali ia berkaca dan membetulkan poninya. Ia menjerit ketakutan, saat tahu poninya lepek. Lebay! Aku menggerutu dalam hati.

“Duh! Jadi reporter harus selalu tampil cantik di depan kamera,” sahutnya sambil menyisir rambutnya. Penampilannya, seperti orang yang mau pergi pelatihan tata rias. Bukan jurnalistik.

“Nih, lebih baik kita dengerin lagu aja. Dari pada mendengar ocehan Indah,” kata Erwin menyodorkan headset padaku. Tapi, tampaknya usaha itu sia-sia. Suara Indah berhasil menembus headset, yang menempel di telinga kiriku itu.

Aku menghela nafas, berharap tidak satu kamar dengan ‘Perempuan Aneh’ itu. Ocehannya menampar telingaku. Kalau telingaku bisa bicara, pasti dia ingin berteriak.

*******

Ini benar-benar mimpi buruk. Awalnya, aku senang bisa kabur dari pelajaran matematika. Tapi tampaknya matematika jauh lebih menyenangkan, daripada harus bertatap muka dengan Tante Make-Up.

Aku sudah cukup mual dengan ocehannya selama di bus. Dan sekarang, aku harus tidur sekamar dengan dia. Saat di kamar, aku mengeluarkan barang-barang bawaanku dan menyusunnya. Tiba-tiba, si Tante Make-Up melihat majalah sekolahku yang tergeletak di tempat tidur.

“Ehm, ini majalah sekolah kamu, ya?” tanyanya dengan angkuh. Ia menatap majalah, seperti melihat sesuatu yang menggelikan. Lalu tertawa, sambil membalik halaman majalah dengan begitu cepat.

“Kamu nge-liput beritanya cuma seputar dunia sekolah aja? Oh ya, bahasa di majalah ini jelek banget, deh. Terus, foto-fotonya juga nggak menarik,” katanya sambil mengibaskan tangannya. “Kalau aku biasanya meliput artis, gitu,” katanya lagi, dengan nada meremehkan.

Sempurna! Ia berhasil menamparku dengan ejekan, yang mencabik-cabik pikiranku. Rasanya aku ingin membalas ejekannya, tapi terlalu takut untuk itu. Bagaimana kalau dia menyemprotku dengan kata-kata yang lebih menikam? Sepertinya aku nggak bakalan bisa tidur malam ini. Aku dihantui oleh mulut berbau Raflesia Arnoldi, dari si Tante Make-Up.

*******

Wah! Itu Pak Farid dari Stasiun TV Gigan. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang produser TV. Aku mengedipkan mataku berkali-kali, seolah tak percaya sedang berhadapan dengan Pak Farid yang terkenal.

Senang rasanya bisa bertemu dengan Pak Farid. Tapi aku kesal, karena Indah duduk di sebelahku. Ia selalu mengusik pikiran dan membuatku semakin minder.

“Ada yang tahu, bedanya news reader dengan news anchor?” tanya Pak Farid sambil memandang sekeliling. Sebenarnya aku tahu jawabannya, tapi badan tiba-tiba membeku. Saat hendak mengacungkan tangan, sekujur tubuhku mendadak menjadi kaku.

Indah pun dengan percaya diri langsung menyikat habis pertanyaan yang dilontarkan Pak Farid. Ia berdiri dan menjelaskan dengan tepat, “Kalau news reader, cuma pembaca berita. Tapi news anchor membaca, sekaligus menulis berita. Argh.. Aku kesal, sekesal-kesalnya.

Tanpa sadar, aku mengepalkan tanganku. Erwin berbisik padaku, “Kalau kau tahu jawabannya, kenapa nggak angkat tangan, Trid?”

Tapi aku terlalu takut dan minder, untuk berdiri di hadapan teman-teman lain. Mulutku rasanya kaku, nggak bisa bergerak. Lalu, gimana kalau aku salah menjawab dan teman-teman menyoraki? Bahkan, menertawakanku? Aduh! Mau ditaruh di mana mukaku ini? Aku nggak sanggup menahan rasa malu.

Di saat ketakutan melanda, isi pikiranku langsung kacau. Rasanya tumpukkan batu sedang menimpa, menghajar kepalaku. Argh.. Bicara di depan teman-teman jurnalis, seperti berhadapan dengan tentara. Aku lemas dan semangat pun luntur, karena ocehan si Tante Make-Up.

“Kalian bentuk kelompok, ya! Satu kelompok dua orang. Nanti ada yang jadi reporter dan camera man,” kata Pak Farid berteriak, memberikan instruksi. Untung saja, kelompoknya bebas. Kalau tidak, mati lah aku harus tersiksa dengan ocehan Indah.

*******

Indah berjalan menghampiri meja Pak Farid. Lalu menatapku dengan tatapan sinis. Rupanya dia ingin memamerkan majalah sekolah buatannya di depan Pak Farid.

OMG, cover majalahnya gambar muka dia? Pede sekali dia? Gigiku menggeretak karena kesal. Aku sih ogah, kalau disuruh baca majalahnya.

“Kelihatannya terlalu banyak gambar di majalah ini, ya? Terus, tulisannya juga kecil-kecil banget. Ini bisa bikin orang sakit mata, lho. Lalu, kamu terlalu banyak menulis tentang dunia entertainment. Coba masukkan kegiatan-kegiatan sekolah,” kata Pak Farid mengomentari.

Indah pun meninggalkan aula, usai puas bertanya. Lagi-lagi, ia menatapku tajam. Sorot matanya begitu dingin! Sejenak, badanku langsung membatu. Darahku mengalir tak beraturan, saat beradu pandang dengan dia. Ya, mungkin saking tegangnya. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: