Skip to content

Cerpen: Kotak Rahasia (2)

by pada 7 September 2014
(www.roemahspocut.com)

(www.roemahspocut.com)

Oleh Patricia Astrid Nadia

Kuhabiskan waktu istirahat, untuk menenangkan diri di halaman belakang. Pepohonan yang rindang, menyapa lembut kulit dan pipiku. Aku duduk di atas ayunan, sambil menggerutu kesal tentang si Tante Make-Up.

“Win, kayak-nya aku nggak bisa jadi jurnalis,” keluhku dengan wajah murung. Erwin memandangku dengan tatapan heran.

“Kamu tampak aneh. Nggak seperti Astrid yang biasanya.”

Sebelumnya, Erwin belum pernah melihat wajah tak berdayaku seperti ini. Biasanya di sekolah, aku dikenal sebagai sosok yang periang dan percaya diri. Tapi setelah bertemu dengan Indah, semua rasa percaya diriku mendadak pudar.

“Trid, kamu jangan mau kalah sama si Indah”, kata Erwin berusaha menyemangatiku. Dia tak mau aku terlihat lemah di depan Indah.

“Kamu mau jadi reporter hebat, kan?” tanya Erwin memastikan. Aku mengangguk pelan.

“Kalo gitu, ayo kita latihan. Aku jadi camera man dan kamu reporternya,” teriak Erwin begitu bersemangat.

Astrid mengigit bibirnya dan mengeluh, “Duh, tapi kemampuanku nggak sehebat Indah.”

“Kamu selalu ngomong gitu. Kamu ngerasa minder. Ayolah, kita latihan. Kita coba dulu. Kamu bisa, kok, lebih hebat dari Indah!” katanya tersenyum.

Belum pernah kulihat senyuman Erwin yang semanis ini. Kata-kata yang dilontarkannya begitu menyemangatiku. Kepercayaan diriku yang sempat pudar, mendadak muncul kembali.

*******

Pak Farid berjalan menyusuri halaman belakang. “Hai, kalian sedang apa?” tanya Pak Farid sambil tersenyum.

“Kami mau latihan untuk meliput berita, Pak,” sahutku bersemangat.

“Oke.. Pura-puranya ada bencana gunung meletus dan warga sedang mengungsi di tenda,” kata Pak Farid dengan rinci.

Wah, aku harus benar-benar memutar otak, nih! Kreativitasku harus benar-benar bermain. Aku harus berpikir cepat saat menjadi reporter. Sigap dan nggak boleh seperti siput.

Aku membayangkan tenda-tenda pengungsian di sekelilingku. Mimik wajah yang kumainkan harus tepat. “Terdapat 50 warga yang mengungsi di tenda pengungsian,” laporku, menirukan news anchor di televisi.

“Mainkan mimikmu. Ingat, reporter itu aktor saat menyampaikan berita,” teriak Pak Farid mengingatkanku.

Aduh, tampaknya ekspresiku masih terlihat datar. Lalu aku kembali menyampaikan berita. Kali ini dengan serius, namun tetap dibalut ekspresi pilu dan penuh keprihatinan. Dari jauh, kulihat Pak Farid mengacungkan jempolnya.

Indah menggerutu kesal, saat melihatku berhasil memainkan peran menjadi reporter. “Urgh.. Kok, dia dipuji Pak Farid, sih?” tukas Indah iri, sambil me-manyun-kan bibirnya.

Saat Pak Farid berjalan menghampiri kelompok lain, tiba-tiba Indah membuat onar di kelompokku.

“Eh, cara jadi reporter nggak kayak gitu!” Indah berteriak mengomentariku. Ia menggaruk-garuk kepalanya. Mukanya tampak geram. Tatapan matanya begitu tajam, seolah aku telah melakukan dosa besar.

Kenapa harus dia yang jadi reporter, sih?” protes Indah berdecak kesal pada teman kelompokku.

Tak tanggung-tanggung, ia juga menarik kamera yang dipegang Erwin dengan kasar. Indah berpikir, hanya dia yang paling mengerti soal pengambilan gambar dan cara membawakan berita. Gila! Dia benar-benar perempuan congkak, yang sok tahu.

“Hahaha.. Hasil gambarnya jelek banget!” teriak Indah, tertawa meremehkan.

Di mata Indah, hasil liputan Erwin bukan gambar yang berbicara. Semua serba salah! Ya, hanya dia yang paling benar.

Dasar perempuan aneh. Bukannya ngurusin kelompoknya, dia malah sibuk mengganggu kelompokku. Aduh, rasanya aku ingin menjahit mulutnya.

Aku dan Erwin pun memelototi Indah. “Kau mungkin jurnalis yang pintar. Tapi kau terlalu sombong, Indah,” kataku dengan lantang.

*******

Kayak-nya tadi ada yang latihan jadi reporter, ya?” Indah menyindir dengan ketus.

Tatapan matanya seolah berbicara, percuma aja kamu berlatih. Nggak bakal bisa jadi reporter handal.

Setelah puas mengejekku, Tante Make-Up masuk ke kamar mandi. Aku tahu, dia pasti mau luluran dan mandi susu.

*******

Saat makan malam di halaman belakang, aku mengeluhkan kembali rasa kesalku terhadap Indah. “Tadi si Tante Make Up meremehkanku lagi, Win,” keluhku dengan wajah putus asa.

“Kamu tahu? Dulu banyak orang yang meremehkanku, karena mau jadi camera man,” kata Erwin sambil mengingat masa lalunya.

Tapi dia bukan laki-laki pengecut yang langsung mundur begitu saja, sepertiku saat ini. Bersembunyi dan hanya diam di balik cacian banyak orang, tak akan mengubah keadaan. Hantaman bertubi-tubi dan ejekan datang dari keluarganya sendiri, begitu pengakuannya.

“Dulu hasil liputan gambarku jelek banget, lho. Kalau kamu melihatnya, seperti tayangan gempa bumi,” kata Erwin, sambil tertawa meledak.

Tapi yang kutahu, Erwin tak pernah berhenti berusaha. Dia bergabung dalam klub fotografi di sekolah dan selalu berlatih tanpa mengeluh.

“Aku diminta memotret 100 gambar, lalu mengeditnya sampai gambar itu berhasil berbicara,” tambah Erwin lagi. Aku tercengang mendengar ceritanya.

Ya, kini saatnya bagiku memperlihatkan pada Indah. Aku bukan Astrid si pengecut.

Makasih, ya, Win. Ngomong-ngomong, kamu kelihatan lebih dewasa, deh!”

Muka Erwin memerah. Alis matanya terangkat sebelah. “Ah, masak, sih?” tanya Erwin tersipu.

*******

“Win, apa isi tas itu?” tanyaku penasaran, sambil menatap tas yang selalu dibawa Erwin.

Dengan cepat Erwin langsung menggeleng, “Oh, bukan apa-apa, kok.”

Aku curiga sama Erwin, tampaknya ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. Wajah Erwin terlihat tegang. Ehm, mirip seperti orang yang tertangkap basah sedang menyembunyikan rahasia. Kalau bukan apa-apa, lalu kenapa tas itu selalu dia bawa, ya? tanyaku dalam hati.

*******

Malam terakhir di tempat pelatihan, diisi dengan sebuah permainan yang disebut buta-butaan.

*******

“Permainan buta-butaan? Apa itu, Trid?” suara Siska terselip tiba-tiba. Ia mengerutkan kening, sambil memakan ice cream-nya.

*******

“Oke, di sini kalian berpasang-pasangan, ya. Satu kelompok dapat selembar kain penutup mata.”

Terus terang, aku agak ngeri dengan permainan aneh ini. Duh, gimana kalau nanti aku jatuh ke jurang dan tersandung batu?

“Aku akan menuntunmu. Kamu tenang saja,” bujuk Erwin, sambil mengikatkan penutup kain di mataku.

Entah kenapa hatiku terasa begitu sejuk, saat Erwin membisikkan kata-kata itu. Terdengar sangat lembut di telinga, aku pun merasakan kehangatan. Tiba-tiba ia menggandeng tanganku. Aku bisa merasakan, kalau tangannya berkeringat.

“Hati-hati, ya ada batu. Coba pelan-pelan kamu angkat kaki kananmu.” Ia mengarahkanku dengan begitu tenang.

Tidak seperti Indah, suaranya yang menggelegar memecah keheningan malam. “Calvin! Jalannya cepetan, dong! Haduh, bikin repot aja!” Hewan-hewan di hutan pasti terbangun, saat mendengar suara sumbangnya.

“Vin! Awas, ada batu!” Indah membentak dengan begitu kasar. Calvin pun terkejut dan nyaris tergelincir.

*******

“Astrid!” panggil Erwin, sambil berlari menghampiriku. Lagi-lagi, Erwin membawa tas tentengnya yang berwarna hitam.

“Ini untukmu,” katanya seraya mengeluarkan kotak rahasia dari dalam tas. Sebuah kotak  biru muda, dibungkus kertas bergaris aneka warna dengan pita silver yang mempercantik tampilan.

Tiba-tiba tubuhku terasa panas. Aneh! Rasanya seperti ada yang menggelitik hati. Sejenak jantungku seperti berhenti berdetak saat kubuka kotak, ternyata isinya sepatu kain yang dilukis oleh Erwin.

Wah! Lukisan yang cantik sekali. Ia melukis mawar biru dengan begitu hidup. Bunga itu terlihat seperti aslinya.

“Sebenarnya, dari dulu aku kagum padamu. Kalau kamu mau menerimaku, tolong pakai sepatu ini, ya,” bisik Erwin dengan wajah memerah, seperti tomat segar.

Lalu ia berbalik badan, menunggu jawabanku. Sepertinya menunggu ucapan dariku, dirinya bagai menunggu pengumuman hasil ujian. Sangat menegangkan!

Aku menepuk pelan pundak Erwin. Wajahnya terlihat berbinar-binar, saat melihat sepasang sepatu hasil lukisannya telah menghiasi kedua kakiku.

*******

“Oh, jadi selama ini kamu pacaran sama dia? Pantesan, kalau pulang kuliah selalu bareng dia. Cie, Astrid!” kata Siska menggodaku.

“Dan itu, sepatu pemberian dari Erwin, dong?” Aku mengangguk dengan senyum merekah.

Kulirik jam tanganku, ternyata sudah jam 8 malam. “Wah, aku harus pulang, nih!”

Melihat hal itu, Siska tertawa terpingkal-pingkal. “Dasar Astrid! Kalau sudah membicarakan Erwin, pasti lupa semuanya..” (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: