Skip to content

Pejuang Peluh

by pada 11 September 2014
(deras84.blogspot.com)

(deras84.blogspot.com)

Oleh Rika Aprilia Gunandari

Selalu ada kasih sayang, dari orang tua untuk anaknya. Pasti pula ada doa, yang mereka lantunkan untuk putera-puterinya. Darah, nyawa, air mata, siap mereka berikan teruntuk buah hati tercinta. Kebahagiaan anak-anak mereka, adalah harga mati bagi Sang Pejuang.

Bersyukurlah jika kalian masih memiliki orangtua yang lengkap, tanpa tahu rasanya kehilangan. Bersyukurlah kalian yang memiliki keluarga utuh, tanpa harus mengalami perpisahan. Mungkin dari jutaan anak di dunia, saya salah satu di antara mereka yang memiliki keberuntungan.

Banyak anak yang lupa betapa besarnya peran orangtua dalam kehidupannya, termasuk saya. Kita sering lalai kalau membahagiakan orang tua adalah kewajiban, bukan tugas semata. Saya sadar, sebagian kita kini berubah menjadi anak yang lupa kewajiban tersebut. Walau orangtua tidak pernah menuntut, tapi seharusnya sebagai anak tahu diri untuk membalas semua yang telah mereka berikan.

Saya lahir dan besar dari keluarga utuh, hal yang selalu saya syukuri. Ayah dan ibu sangat menyangi anak-anaknya, yang rela memberikan segalanya demi membahagiakan kami. Namun hingga sebesar ini, saya belum dapat membahagiakan mereka. Sejujurnya saya malu, karena hanya bisa menuntut tanpa memberi balasan.

Saya juga tergolong sering membuat orangtua kecewa, melakukan banyak kesalahan pada mereka. Meski begitu, saya sangat menyayangi mereka, apa pun akan saya lakukan untuk membahagiakannya.

Jutaan haturan maaf maupun untaian terima kasih, tidak akan pernah cukup untuk membayar semua yang telah mereka lakukan untuk kami, anak-anaknya. Saat ini, hanya lantunan doa yang mampu saya berikan.

*******

Gunanto, sebuah nama yang selalu saya sebut dalam doa. Laki-laki kelahiran Yogyakarta separuh abad silam, yang memiliki dedikasi tinggi untuk kami. Sosok ayah bersahaja yang sangat menyayangi keluarganya, rela mencurahkan keringat dan tenaganya untuk menafkahi anak dan istrinya.

Rambut yang mulai memutih dan tubuh yang menua, tidak menyurutkan semangat beliau melaksanakan kewajibannya. Tak pernah sekalipun ia mengeluh, walau tetesan peluh membasahi tubuhnya yang kuyu. Gurat-gurat keletihan tergambar jelas setiap ia pulang kerumah seusai menunaikan tugasnya.

Sering ia bercerita tentang manusia, mengajari saya tentang bagaimana kerasnya dunia. Beliau belajar dari kesalahan di masa lalu, agar kami anak-anaknya tidak melakukan kesalahan yang sama.

*******

Dari kedua anaknya, saya paling dekat dengan beliau. Kami memiliki banyak kesamaan. Kata ibu, watak saya yang keras kepala dan tegas, diturunkan dari beliau. Kami juga memiliki hobi yang sama, yang berbau politik dan sepak bola.

Kalau masalah politik, kami sering beradu argumen atas berita yang kami baca dari media massa. Pada hal ini, jalinan orangtua dan anak seperti tidak memiliki chemistry. Setiap kali kami berdiskusi selalu memiliki sadending, karena masing-masing merasa opininya yang benar.

Namun lain cerita, apabila membicarakan sepak bola. Aku dan ayah bagai teman yang menceritakan klub favoritnya, kebetulan kami menyukai Football Club Barcelona yang sama. Apabila klub jagoan bertanding, aku dan bapak sering menonton bersama.

Entah kenapa, untuk urusan satu ini kami kompak memberikan komentar. Jika ada gol tercipta, kami serempak teriak. Namun apabila satu di antara kami tidak menonton, keesokan paginya pasti akan menceritakan kembali pertandingan itu.

*******

Bagi bapak, pendidikan adalah nomor satu. Ia selalu memberikan standar yang tinggi untuk kedua puterinya, khususnya saya. Beliau akan marah, apabila nilai pelajaran kami jelek. Sedari dulu, bapak mewajibkan saya untuk mendapatkan peringkat di kelas. Saya hanya sanggup mengabulkan permintaan beliau sebatas sepuluh atau lima besar saja, tidak lebih. Padahal, beliau menginginkan saya untuk menjadi peringkat teratas.

Sama halnya dalam memilih sekolah, ia mengharuskan saya untuk masuk ke sekolah favorit. Namun, lagi-lagi, saya tidak dapat mengamini permintaan beliau. Saya selalu diterima di pilihan kedua, tidak lebih.

Karena usia yang relatif belia, saya merasa terbebani oleh keinginannya. Dulu saya sering marah, karena sikap ayah yang begitu keras dalam mendidik. Saya sering berontak atau melawan, bila ayah menasehati.

Seiring bertambahnya usia, saya paham yang ayah lakukan selama ini semata-mata untuk kebaikan. Sekarang saya lebih bersikap dewasa, apabila ayah menuntut untuk menjadi yang ia inginkan.

Setelah memasuki jenjang perkuliahan, sebetulnya ayah tidak setuju dengan jurusan yang saya pilih. Beliau tidak ingin saya menjadi seorang wartawan, kendati sebenarnya beliau bangga. Semua yang ia katakan, menjadi cambuk bagi saya agar dapat lebih baik.

Beliau selalu berpesan kepada saya, agar menjadi orang yang baik. Jangan sekali-kali sombong atau merasa hebat atas yang dimiliki, karena tidak ada artinya di mata Allah SWT. Hidup harus prihatin, jangan selalu melihat ke atas. Tetapi lihatlah ke bawah, agar selalu dapat bersyukur. Kata-kata yang selalu menjadi pedoman saya, dalam menjalani kehidupan.

*******

Rasa bangga, bahagia, terimakasih adalah ungkapan perasaan saya, karena memiliki seorang ayah seperti beliau. Saya memang belum bisa memberikan yang terbaik, terutama untuk menjadi anak yang berbakti dan dibanggakan. Tapi saya berjanji, suatu hari nanti saya akan buktikan. Kebahagiaan mereka adalah tujuan hidup saya.

Sesungguhnya di setiap langkah, perbuatan dan tingkah laku saya, akan selalu ada mereka: Sang Pejuang Peluh. Mereka telah memperjuangkan anak-anaknya, walau hanya peluh sebagai imbalannya.

Sudah saatnya ‘Pejuang Peluh’ menyandarkan gelarnya. Tongkat estafet para ‘pejuang’ akan diwariskan kepada kita, penerus garis keturunannya. Semoga, kita mampu menjadi ‘Pejuang Peluh’ untuk anak cucu kita nanti..

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: