Skip to content

Siapa Aku? (1)

by pada 13 September 2014
Ilustrasi (FJR)

Ilustrasi (FJR)

Oleh Fajri Dwinanto

Senja itu, seorang pria tua berdiri seorang diri di depan peternakan miliknya. Pria yang berumur 85 tahun itu bernama Kamal. Hari-harinya hanya ditemani oleh sepasang ayam dan sepasang kuda. 

Kamal ditinggal keluarganya sejak 1998, akibat tragedi karamnya kapal Tetanik. Kamal sangat terpukul, karena kesehariannya hanya ditemani hewan ternak. Awal musim semi yang dimulai bulan ini, bertepatan dengan musim ayam bertelur.

“Hei, ini sudah musim bertelur, kan? Kamu sudah bertelur berapa butir, Yam?” Sambil memakan rumput, kuda jantan bertanya kepada ayam betina.

“Eh Kuda, lumayan nih. Sudah 3 butir telur, Da. Kurang tau, nih, tahun ini, kok, aku lagi gak subur. Jadi, sepertinya telurku sedikit, deh,” Ayam menjawab, lantas merapikan susunan ketiga telurnya.

Musim bertelur beranjak pergi. Dalam musim ini, ayam betina hanya menghasilkan telur tiga butir. Tetapi saat ayam jantan dan pasangannya meninggalkan sangkar, seekor induk Elang yang sedang hamil terbang di atas peternakan. Ternyata kehamilan Elang berumur 1 bulan, yang artinya sudah waktunya telur di keluarkan.

Aduh, perut ini udah mules banget. Harus buru-buru kukeluarin telurnya, gumam Elang betina dalam hati. Ia pun mencari tempat yang bisa dijadikan untuk bertelur darurat.

Setelah berkeliling peternakan, Elang betina melihat sangkar yang berisi 3 telur milik ayam. Tanpa berfikir panjang, ia turun untuk bertelur. Sesampainya di sangkar, Elang betina hanya mengeluarkan satu butir telur. Setelah itu, Elang betina pergi dan meninggalkan telurnya di sangkar ayam.

Sore harinya pasangan ayam pulang ke sangkar dan ayam betina pun kembali mengerami telurnya. Tetapi ia kebingungan, karena telurnya bertambah satu butir.

Lho, kok? Atau, aku yang lupa? Begitu pikir si ayam betina heran. “Sudahlah, jumlah telurku mungkin memang empat!” tegasnya, sambil mendaratkan tubuh panasnya ke atas telur-telur untuk mengeram.

*******

Pagi hari yang cerah, waktunya keempat telur menetas. Satu persatu retakan pada dinding telur terlihat dan menetas, kecuali telur Elang yang menyusul pada keesokan harinya.

Keesokan harinya, telur Elang mulai mengalami retakan sedikit demi sedikit. Tetapi karena dinding telurnya tebal dan berbeda dengan telur ayam, harus dibantu untuk menetas sempurna. Induk ayam mematuk-matukan paruhnya ke cangkang agar dapat keluar, dan tak lama kemudian telur Elang pun menetas. Induk ayam dan ketiga anaknya menganggap anak Elang adalah anak ayam, sama seperti mereka.

“Mamaaa, Kakaak,” bayi Elang memanggil ketiga saudara dan induk ayam, yang belum mengerti perbedaan mereka

Sehari setelah menetasnya anak Elang, induk ayam mengajak keempat anaknya mencari makan di tepi sungai. Di situlah Sang Mama selalu mengajari keempat anaknya untuk menjadi ayam dewasa nantinya. Dengan sabar induk ayam melatih mereka, dari cara mencari makan, membersihkan tubuh, hingga hal-hal berguna saat besar kelak.

*******

Satu tahun berlalu, induk ayam setia mengurus keempat anaknya dengan penuh kasih dan sayang. Termasuk anak Elang, yang diperlakukan sama. Hanya ukuran tubuhnya lebih besar, yang membedakan dengan ketiga saudaranya. Tetapi anak Elang maupun ketiga saudara dan induk ayam, tetap menganggap mereka sama-sama seekor ayam.

Suatu hari saat mereka sedang asik bermain di tepi sungai dekat peternakan, tiba-tiba kerumunan burung Elang terbang melintas.

“Keren, ya mereka bisa terbang, Aku juga bisa deh kayak mereka,” ungkap anak Elang kepada ketiga saudaranya.

Naluri anak Elang muncul ketika melihat kerumunan burung Elang yang melintas, ia merasa dirinya bisa terbang layaknya yang dilihat tadi. Tapi ketiga saudaranya selalu mengolok-olok anak Elang, karena dia memang dianggap sebagai seekor ayam.

“Ah, bodoh sekali kamu. Mana mungkin ayam seperti kita, bisa terbang seperti burung Elang. Kamu jangan terlalu berkhayal, deh. Nanti malah gila,” ejek ketiga saudaranya sambil tertawa.

Sebenarnya anak Elang itu memang mempunyai potensi dan keahlian kodrati layaknya burung Elang. Tetapi dia lebih mengikuti yang diajarkan induk ayam selama ini, termasuk ejekan ketiga saudaranya. Dia menganggap dirinya seekor ayam, yang tidak bisa terbang sebagaimana burung Elang. (Bersambung)

*) Fajri Dwinanto adalah mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Feature dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: