Skip to content

Siapa Aku? (2)

by pada 14 September 2014
(www.bluefame.com)

(www.bluefame.com)

Oleh Fajri Dwinanto

Hiduplah bersama dengan keyakinan diri sendiri. Jangan menghiraukan yang orang katakan tentang dirimu. Yang tahu tentang yang kita miliki hanyalah diri sendiri dan Tuhan.

Suatu ketika, anak Elang bermain sendirian ke hutan belantara, jauh dari keluarga ayam. Di dalam hutan ia bertemu dengan seekor rubah dewasa, yang terlihat ketakutan saat melihat si Elang datang.

Tetapi, anak Elang juga ketakutan melihat sang Rubah. Dulu induk ayam pernah menjelaskan kepadanya, rubah adalah pemangsa ayam-ayam di hutan belantara ini.

Keduanya bingung, karena mereka sama takutnya. Akhirnya Rubah bertanya kepada anak Elang tersebut.

“Hei Elang, kenapa kamu takut melihatku? Seharusnya aku yang takut melihatmu, karena rubah sasaran empuk untuk elang besar seperti kamu?” tukas Rubah, seiring hilangnya rasa takut yang muncul tadi.

“Hah? Apa katamu? Elang? Aku kan seekor ayam, bukan elang. Malahan rubah yang biasanya memangsa ayam, seperti aku. Kok, malah kamu yang takut padaku?” sahut Elang masih bingung.

“Ayam apa? Kamu ini seekor elang. LIhat saja tubuh kamu yang besar. Coba kamu bandingkan, apakah kamu lebih mirip dengan ayam atau elang?” Rubah pun makin bingung dengan tingkah Elang, yang menganggap dirinya seekor ayam.

Kalau dipikir-pikir, aku memang seperti elang. Tetapi, mengapa yang menetaskanku seekor ayam? Pikir Elang gundah dalam diam.

“Heeeeeey,” teriak Rubah memecahkan lamunan si Elang.

“Aku baru ingat, apakah kamu berasal dari peternakan kakek tua di ujung sana?” tukas Rubah, sambil menunjuk ke arah peternakan tempat Elang dilahirkan.

“Kok kamu tau?” jawab Elang kaget.

“Iya, aku pernah mendengar cerita dari saudaraku. Katanya ada seekor induk elang yang terpaksa mengeluarkan sebutir telur dari rahimnya di salah satu sarang ayam di sana. Kemudian telur itu menetas, hasil pengeraman induk ayam,” jelas Rubah.

Apakah telur tersebut itu aku? Apa pikiranku selama ini benar, kalau aku memang seekor Elang? Bukanlah seekor ayam, sebagaimana yang selama ini kukira? Begitu pikir Elang semakin ragu, setelah mendengar penjelasan Rubah.

*******

Keesokan harinya, si Elang terus mencoba temukan jati dirinya. Dia ingin mencari tempat kawanan elang berada dan berharap dapat mendapat jawaban dari kegelisahan yang dipikirkannya.

Tanpa lelah, Elang menelusuri hutan belantara yang luas untuk menemukan pemukiman elang. Lantaran selama ini tak pernah belajar terbang, Elang terpaksa berjalan langkah demi langkah. Sekian lama berjalan dan mencari, ia bertemu seekor trenggiling yang tengah makan rerumputan.

“Hei Trenggiling, apakah kamu tau tempat elang berkumpul?” tanya Elang.

“Tempat elang berkumpul? Maksud kamu, kampung halaman elang?” jawab Trenggiling, sambil terus mengunyah.

“Kampung halaman? Iya benar, di manakah lokasinya?” tanya Elang penuh penasaran.

“Kamu lurus saja ke arah selatan. Sampai di ujung hutan, kamu akan melihat air terjun besar yang di tebing-tebingnya merupakan sarang elang. Biasa disebut kampung halaman Elang,’” terang Trenggiling serius.

Rasa senang lantas menyergap hati Elang. Dia tahu, pastilah nenek moyangnya juga memiliki kampung halaman. Tempat berkumpulnya elang, seperti dirinya. Dia pun berharap, dapat bertemu dengan induk dan saudara kandungnya di sana.

Elang berjalan dengan gembira. Tak dihiraukannya istirahat atau sekadar mengisi perut nya sendiri, dia terus berjalan. Hingga rasa lelah dan sakit datang menyiksanya –karena sudah 4 hari tidak makan dan istirahat– dia pun berhenti sejenak memulihkan tenaganya.

Segera Elang menyandarkan diri di batang pohon. Ternyata pohon telah rapuh, dan rubuh tanpa disadarinya. Betapa terkejut dirinya, karena di balik pohon besar yang rubuh itu terpampang air terjun yang merupakan lokasi sebagaimana diceritakan Trenggiling.

“Bruuuuuk..” Suara rubuhnya pohon, mengalihkan perhatian kawanan Elang yang sedang bersantai di tebing-tebing sekitar air terjun.

Tak ada kata yang mampu melukiskan kebahagiaan hatinya, akhirnya si Elang menemukan kampung halaman yang selama ini diimpikannya.Penuh sukacita, ia pun berlari menuju tebing tempat keluarganya berkumpul.

*******

Akibat tak sempat istirahat selama pencarian kampung halamannya, Elang kelaparan. Ia memang tak sempat berpikir mencari makan, saking inginnya bertemu keluarga sejatinya. Sesama Elang.

Malang tak dapat ditolak, baru berlari beberapa langkah Elang itu pun jatuh.  Tubuhnya tak mampu lagi digerakkan, kehabisan tenaga. Ia tewas di kampung halamannya sendiri. Kata-kata terakhir yang sempat ducapkannya adalah, “Di sini tempat asalku. Di sini pula tempatku mengakhiri perjalanan hidup..”

Sungguh, menjadi kebanggaan tersendiri bagi si Elang. Ia dapat meninggal di kampung halamannya sendiri. (Selesai)

 *) Fajri Dwinanto adalah mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Feature dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: