Skip to content

Di Darahku Mengalir Nafasmu

by pada 16 September 2014
(migran2000.com)

(migran2000.com)

Oleh Vania Kamila Andarini

 “Kasih Ibu kepada beta/tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak harap kembali/Bagai sang surya menyinari dunia..” Sepenggal bait lagu ini menggambarkan, Ibu adalah sosok yang sangat luar biasa. Ia memberikan kasih sayang kepada anaknya, tanpa meminta balasan. Cinta dan kasih sayangnya, akan selalu menjadi penerang dalam hidup setiap anak.

Di mataku, Ibu adalah segalanya. Ibu adalah hidupku. Pengorbanan yang sudah ia lakukan, tidak ada tandingannya di dunia ini. Ia tidak pernah minta untuk mengganti atau membayar setiap pengorbanannya, karena memang tak akan tergantikan dan tak terbayarkan oleh apapun.

Ibu rela berkorban nyawa, demi seonggok janin dalam rahimnya. Semata-mata agar aku, si buah hatinya, dapat terlahir ke dunia. Bagiku, Ibu adalah sosok wanita kuat dan tangguh, meski tidak berotot. Ia seperti malaikat tanpa sayap, malaikat pelindung yang siap 24 jam menjagaku.

Ibu pernah bercerita, sewaktu aku masih dalam kandungan, sama sekali tidak merasa mual seperti kebanyakan ibu hamil lainnya. Ibu menganggapnya sebagai kemudahan dari Allah SWT.

Ketika kandungan mulai membesar, Ibu sulit berdiri, duduk, tidur, maupun berjalan. Tetapi Ibu tidak pernah mengeluh, ia hanya menikmati sambil mengusap perutnya. Dari mulutnya terucap doa yang selalu dipanjatkan untukku, agar kelak menjadi anak yang dapat dibanggakan.

Saat detik-detik aku dilahirkan, Ibu mempertaruhkan hidup dan matinya. Beliau juga bercerita merasakan sakit yang sangat, sampai menusuk sendi dan tulangnya. Namun kebahagiaan setelah mendengar tangisanku ketika lahir, mengalahkan semua sakit yang dirasakannya.

Tidak mudah bagi Ibu membesarkanku, agar menjadi insan yang sempurna. Tidak pernah putus belas kasih sayangnya, yang selalu dicurahkan untukku. Sejak sebelum terlahir ke dunia, hingga sampai aku sebesar ini. Sungguh mulia sosok Ibu, tidaklah salah bila surga-Nya berada di bawah telapak kaki beliau.

*******

Ibu pernah bertanya bagaimana cara menggunakan laptop dan meminta aku mengajarinya. Aku menuruti kemauannya, namun aku mengajari dengan perasaan malu dan emosi. Malu jika orang lain tahu kebodohannya, yang tentunya membuatku sangat kesal. Ah, aku seperti kacang yang lupa kulitnya. Sangat tak sepadan dengan sikapnya yang tulus, saat pertama kali mengajariku membaca dan menulis.

Seringkali aku mengeluh lelah menuntut ilmu, namun Ibu selalu menyemangatiku. Ibu bilang, aku satu-satunya harapan mereka. Di jaman yang kehidupannya serba sulit ini, harusnya aku bersyukur dapat belajar sampai perguruan tinggi. Aku sadar, keberadaanku sebagai anak tunggal membuat semua harapan terpanggul di pundakku.

Tak jarang pula, aku membuatnya sedih dan kecewa. Pernah aku membuat Ibu menangis, tanpa pernah meminta maaf setelahnya. Aku tidak tahu, bagaimana perasaan Ibu kala itu. Pasti sangat sakit, melebihi sakitnya saat melahirkanku.

Aku pernah bertengkar hebat dengan Ibu, sampai dari mulutnya keluar ucapan yang sangat menggetarkan hati dan jiwaku. Ibu bilang, “Salah apa Ibu, melahirkan anak sepertimu?”

Aku hanya bisa terdiam, dalam hati aku memohon ampun. Maafkan anakmu ini, Bu, tidak dapat memberi yang terbaik seperti yang kuperoleh ketika kecil. Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakiti hatimu.

*******

Ibu bukan hanya sosok yang lemah lembut buatku, juga sosok pendamping yang kuat bagi Ayah. Demi membantu Ayah, Ibu rela bekerja dari subuh hingga larut malam. Sepanjang hidupnya, perjuangan Ibu tak kenal lelah. Ibu selalu tersenyum, meskipun aku tahu di balik senyumnya terpancar rasa yang teramat lelah.

Ibu, aku berhutang padamu. Sebuah hutang yang aku tahu, meski dengan emas atau berlian sekali pun tak akan pernah bisa membayarnya. Aku hanya mampu berdoa, agar Ibu selalu diberikan safa’at dan kelak berada di surga-Nya sebagai balasan atas pengorbanan dan perjuangan selama ini.

Dalam jantungku, selalu ada nama yang berdetak tanpa henti. Nama yang tak pernah lelah kusebut dalam setiap doa, namamu Ibu. Dan dalam tubuhku, mengalir nafasmu, yang selalu menyertaiku menjalani hari.

Terima kasih untuk semua kasih sayang yang telah Ibu berikan. Meski sejuta terima kasih, takkan mampu membalas semua jasamu, Bu. Aku bangga menjadi anakmu. Aku sayang Ibu.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: