Skip to content

Warisan Dari Mendiang

by pada 30 September 2014
Capeknya Ida (Foto: BDL)

Capeknya Ida (Foto: BDL)

 Oleh Bunga Dea laraswati

“Saya berjualan disini, tuh, supaya dapat pula merasakan yang dulu Ibu lakukan. Capek-nya seperti apa..” Begitu bisik lirih Ida Zubaidah, di tengah kesibukannya melayani pembeli.

Kios berukuran 2 X 1,5 meter itu, memang dipenuhi kenangan. Yang bermula dari usaha seorang ibu sejak tahun 1975, dengan hanya bermodal seratus ribu rupiah bertekad menghidupi tujuh anaknya.

Usaha berkembang pesat hingga memiliki empat cabang, karenanya tak sedikit orang yang mengenal sang ibu. Kesuksesan yang membuat anaknya kian bangga. terhadap sang ibu. Namun saat Ibunda berpulang ke pangkuanNya pada 2010, keseluruhan kios pun diwariskan. Sebuah kerja keras, yang kini menjadi kenangan yang tak akan terlupa.

*******

Usaha bumbu dapur memang bukan mimpi Ida Zubaidah, yang ikut mengelola salah satu kios mendiang Ibunya. Namun semangat dan bayangan akan hebatnya perjuangan sang Ibu membangun usaha, membuat Ida bertahan melanjutkannya. Bahkan tak hanya dirinya, abang dan adik sepupu Ida juga ikut mengelola.

Meninggalkan ketiga anaknya di rumah dan hanya menyisakan 3 hari tiap pekan untuk berkumpul bersama keluarga, pun rela Ida lakukan. Ditemui di Pasar Pulogadung, Jakarta Timur, Muslimah berhijab ini mau sedikit bercerita tentang kesehariannya.

“Dulu sewaktu kelas 2 SMA, Ibu sering mengajak saya berjualan di pasar. Berangkat dari rumah sepulang sekolah dan baru kembali sekitar jam 7 malam. Saat itulah awalnya saya diberi kepercayaan oleh ibu, untuk mengelola cabang di Pasar Penggilingan,” kenang Ida.

Setamat SMA, Ida ingin sekali melanjutkan pendidikan. Mencicipi bangku kuliah seperti teman-temannya. Tetapi takdir berkata lain, Ida harus menikmati pendidikan di bangku pasar dengan guru berupa pengalaman.

“Kalau saya bisa kuliah, maunya ambil ekonomi. Tapi gak apa, berdagang pun sama. Ada ekonominya juga,” kilah Ida tersenyum, tampak tak menyesali keadaan yang memutuskan mimpinya.

********

Kios yang buka 24 jam ini memiliki shift jaga, yang bergilir antara kakak beradik. Ida bertugas sejak jam 8 pagi hingga jam 8 malam, dilanjutkan adik sepupunya, Iwad, sampai jam 8 pagi esoknya. Seusainya, Benny, abangnya, mengambil alih 24 jam nonstop, sehingga Ida bisa berkumpul bersama keluarganya seharian penuh.

Begitulah, usaha yang telah berjalan selama 39 tahun ini menghasilkan banyak pembeli tetap dan pelanggan. Sebagian mereka adalah pengusaha katering dan ibu-ibu rumah tangga yang sibuk bekerja. Mereka tak punya cukup waktu untuk meracik bumbu setiap masakannya, sehingga kehadiran kios ini sangat membantu.

Jumlah pelanggan memang sedikit berkurang, dibanding semasih dikelola mendiang. Salah satu yang masih bertahan adalah Trisna, yang dipanggil Umi, mengaku menjadi pelanggan sejak lama.

Gak tau ya, saya sreg aja belanja di sini. Jujur, sih, yang jualan. Saya juga kenal betul sama almarhumah ibu dulu,” jawabnya ketika ditanya alasan memilih berbelanja di kios Ida.

Sekitar 12 jenis bumbu masak yang dijual. Antara lain, bumbu rendang Padang, bumbu kare, bumbu opor, bumbu pindang tulang, bumbu lontong anam khas Palembang, dan bumbu sambal cengek khas Palembang. Selain itu, ada juga bumbu asam pedas, bumbu sambal goreng buncis, bumbu ayam gulai, dan bumbu tunjang kikil.

“Racikan bumbu menjadi kunci agar masakan terasa lezat dan khas, sehingga diburu banyak konsumen. Bumbu-bumbu di kios ini juga memiliki kekhasan tersendiri, yang boleh jadi akan berbeda rasanya setelah masakan matang,” ujar Ida seolah promosi.

Menurutnya, demi menghasilkan rasa masakan lezat akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Untuk meracik bumbu rendang misalnya, butuh 2 sampai 3 tahun baru dapat menemukan rasa yang pas dan khas.

“Kita atur sendiri komposisi bahan baku untuk bumbu rendang. Pokoknya, diuji coba terus sampai pas. Alhamdulillah, hasilnya bagus,” jelas Ida buka kartu.

*******

Kesibukan di pasar tak membuat Ida melupakan kewajibannya, shalat tetap dilaksanakannya. Ketika waktu sudah masuk, Ida akan bergegas menuju mushola di pasar.

“Pelanggan disini juga udah ngerti, kok. Kalau jam shalat, mereka gak beli.”

Bagaimana pun, rezeki datang dariNya. Kesuksesan yang Ida dapatkan, tak lain merupakan pemberian Yang Maha Kaya, Maha Pemberi Rezeki. Rasanya kita seperti tak tahu diri, jika tak ada rasa syukur..

 

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: