Skip to content

Cerpen: Kembali

by pada 4 Oktober 2014
(pusaka.or.id)

(pusaka.or.id)

Oleh Nurasiyah Jamil*

Sejauh-jauhnya orang mencari utara, selalu selatan yang ia temukan.

Aku masih ingat jelas, kata-kata itu keluar dari Dosen Sastraku di sela-sela perkuliahan berlangsung. Banyak yang memaknai, kalau manusia tidak pernah merasa cukup dengan yang dimilikinya. Ada pula yang mengartikan dalam pencapaian manusia terhadap suatu hal tak pernah ada akhirnya. Ya, keduanya mirip, mungkin pengungkapannya saja yang berbeda. Tetapi bagi sebagian orang, dua kalimat tersebut boleh jadi memiliki jiwa yang berbeda.

Aku teringat kisah seorang lelaki yang sedari kecil dibawa keluarganya meninggalkan desa kelahiran. Ia mengikuti ayah dan ibunya yang mengadu nasib di kota besar, meninggalkan nenek, kakek, paman dan bibinya di desa.

Selama perantauannya, ia belum pernah merasakan jalan yang tidak beraspal, suasana hening maupun kegelapan ketika malam tiba. Hingga suatu hari saat mengunjungi desa kelahirannya kembali, ia merasa asing.

“Pak, berapa lama lagi di sini? Aku kangen teman-teman di sana..”

“Tunggu lah, Dim. Papa kan masih kangen juga sama nenek, kakek, paman, dan bibimu. Lagian kan jarang Papa dapat cuti kerja. Kita baru dua hari di sini.”

Namanya Dimas. Masih berusia belasan, 17 tahun tepatnya. Setelah 16 tahun tinggal di kota, membuatnya tak dapat mengingat apa pun tentang kehidupan desa. Padahal sedari dulu hingga saat ini, tidak ada yang berubah dari sikap maupun kebiasaan penghuni desa. Kecuali, usia mereka yang makin menua.

*******

Aku mengenalnya ketika ia mengantarkan adik sepupunya belajar mengaji ke rumah kakekku. Kebetulan kakek memang memintaku bantu mengajari mereka. Sementara kakek membagi ilmu dari kitab-kitab, aku membimbing anak-anak berusia di bawah lima tahun untuk membaca Iqra.

Saat itu aku baru saja tiba, ketika Dimas menuntun adik sepupunya memasuki selasar rumah kakek. Langkah kami hampir bersamaan, tetapi aku lebih dulu beberapa kaki. Melihatku yang sengaja mematung di selasar rumah kakek, Dio, adik sepupu Dimas, berlari ke arahku seraya menyapa dengan polos.

“Teh Maya..”

“Dio..”

Reflek tanganku merentang, menanti si kecil manis Dio mendarat ke pelukan dan mencium kedua pipiku dengan tingkah lucunya. Kali ini ada sosok yang tersenyum, entah apa maksudnya, dari belakang Dio. Demi menunjukkan penghormatan, aku menunduk seraya tersenyum, bermaksud menyapa. Ia membalas dengan menunduk pula, seraya mengucapkan salam. Lalu, tanpa diminta, ia memperkenalkan dirinya.

“Maaf, saya Dimas, kakak sepupunya Dio.”

“Oh iya, saya Maya…”

Pertemuan dan percakapan singkat sore itu, menjadi awal pertemuanku dengan lelaki bernama Dimas. Selanjutnya kami hanya menukar senyum, sapa dan percakapan, yang tidak lebih dari sekadar menanyakan kabar.

Seminggu lamanya Dimas dan keluarga berada di desa. Ketika aku tengah menuju sekolah untuk ikut ekstrakurikuler Paskibra, tetiba sebuah mobil berhenti di depanku. Perlahan pintu mobil terbuka, menurunkan laki-laki yang sore lalu berkenalan denganku di selasar rumah.

“Maya..”

“Eh, Dimas. Udah mau pulang, ya?”

“Iya, cuti Papa udah abis. Aku juga udah harus masuk sekolah lagi, Senin nanti. Kamu mau ke mana?”

“Aku mau ke sekolah, latihan Paskibra. Sok atuh, kalau kamu mau pulang, mah.. Salam untuk orangtua kamu.”

“Oh ya, gampang nanti aku salamin. Ngomong-ngomong, aku boleh minta nomor hape kamu, gak? Kayaknya Papa bakal minta aku sering nengokin kakek, nih. Teman aku di desa, kan, cuma kamu, May..”

“Aha,. kamu, mah, lucu, ya.. Padahal banyak yang mau temenan sama kamu di sini, mah.”

Ia hanya tersenyum konyol sambil menggaruk kepalanya, yang kuyakin sama sekali tidak gatal. Sabtu pagi itu terakhir kali aku melihatnya, seusai pertemuan pertama pada sore sebelumnya.

*******

Setahun kemudian Dimas kembali lagi ke desa, menengok nenek dan kakeknya yang semakin renta. Saat itu, kami telah sama-sama melepas seragam putih abu. Tepat di tempat dulu ia meminta nomor ponselku, kami bertemu lagi di sana. Kali ini ia hanya sendiri, tanpa orang tuanya.

“Maya”, sebuah suara datang melalui kaca mobil yang tidak terbuka sepenuhnya.

“Dimas..” Ada binar di mataku; senang bertemu teman lama.

Ia segera menepikan mobil dan langsung berdiri di sampingku.

“Apa kabar, May?”

“Baik, kamu gimana? Om dan Tante gak ikut?”

Nggak, mereka lagi sibuk kerja. Gimana nih, lanjut kuliah ke mana?”

“Aku, mah, pengen jadi penulis gitu, Dim. Mau lanjut ke Sastra aja di kota.”

“Oh ya, bagus, tuh. Mungkin kita bisa satu kampus.”

“Iya, kamu mau ke Sastra juga?”

“Oh, nggak. Papa minta aku bangun desa kita, May. Potensinya bagus banget, sayang belum ada yang mengolah. Jadi paling aku lanjut ke Pertanian, May.”

Kenapa gak sekalian ke Ekonomi, atuh?”

“Aku juga mikir gitu, May. Tapi kalau masalah bisnis, aku bisa belajar otodidak dari Papa, May. Jadi bisa menyelam sambil minum air, kan?”

“Aha… Iya bener, yah. Kamu baik, pisan, mau ngebangun desa..”

“Awalnya sempet dilema, May. Pengen-nya hidup di kota aja, gak ngurusin desa. Tapi dipikir-pikir, Papa Mamaku lahir dan pernah tinggal di sini.

“Ya, kamu juga sama, atuh. Lahirnya di sini, di desa..”

Mendengar jawabanku, Dimas tertawa sampai wajahnya memerah. Aku yakin bukan karena malu, tetapi benar-benar ingin tertawa lepas karena jawabanku benar.

Lepas dari sore itu, kami menjalani kehidupan kami masing-masing. Benar, kami berada dalam satu kampus. Hanya saja karena fakultas yang berbeda, membuat kami jarang bertemu. Sekali dua kami membuat janji bertemu, jika memiliki waktu senggang. Malahan, yang lebih sering terjadi, obrolan kami diawali pertemuan tidak disengaja.

*******

Setiap detik yang bergulir akan mengantarkan perubahan pada banyak hal, termasuk pemikiran dan pandangan. Itulah yang kurasakan, saat jarum jam mengantarkanku pada pemikiran yang ternyata tidak statis.

Dimas yang dulu kukenal sebagai sosok lelaki yang enggan menetap di desa, kini menjadi Dimas yang mendewasa untuk mewujudkan niatnya membangun desa. Tempat yang sejak kehadirannya ke dunia, sudah ditakdirkan sebagai tempat tinggalnya.

Kian tahun bergulir membawa cerita lama dan menyuguhkan cerita baru, aku selalu larut di dalamnya. Aku dibawa waktu, aku meminjam waktu. Hingga dua belas tahun lalu, aku diajak waktu duduk di bangku kuliah dan meresapi kalimat Dosen mengenai pencarian arah selatan. Kini waktu pula yang membawaku bergulir dalam ceritanya, sebagai istri seorang lelaki bernama Dimas.

“Mah..”

“Iya, Pah?”

“Ayo siap-siap. Anak-anak kita udah gak sabar, tuh, mau ketemu sama nenek kakeknya di desa.”

“Oh, iya. Sebentar, Mamah beresin buku-buku ini dulu.”

Waktu selalu terasa ajaib, padahal setting terbaik ada di dalamnya. Ia hanya bergerak sesuai kehendak dan laku manusia, atas kehendak Tuhan tentunya.

Sejauh-jauhnya orang mencari utara, selalu selatan yang ia temukan. Kalimat yang akan selalu kuingat sampai kapan pun. Meski masa menggulung dan menggelar masa baru. Lagi dan lagi.

*) Nurasiyah Jamil adalah mahasiswa Universitas Padjadjaran, Bandung.

Catatan: Tulisan ini merupakan kiriman peserta Lomba Penulisan Cerpen dalam rangka Ulang Tahun Pertama Situs “Xpression Journalism” Tahun 2014, dan telah melalui proses penyuntingan –red

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: