Skip to content

Pencuri dan Koruptor? Potong Tangannya!

by pada 16 Oktober 2014
(dunia.news.viva.co.id)

(dunia.news.viva.co.id)

Oleh Alfi Rahman 

Banyak hal yang melandasi seseorang untuk mencuri atau mengambil barang yang bukan haknya, bisa karena terpaksa, himpitan ekonomi, dan lain-lain. Yang paling tidak bisa dimaafkan adalah mencuri karena serakah, terlebih mencuri dari rakyat kecil –seperti koruptor.

Dewasa ini saya kerapkali melihat keadilan tidak berada di tempat seharusnya. Contoh kecil yang sangat terlihat jelas, namun kerap disamarkan sehingga menjadi hal yang umum adalah korupsi. Korupsi sama artinya dengan mencuri, bahkan bisa dibilang lebih kejam. Karena mayoritas koruptor, mencuri dalam jumlah besar dari hasil jerih payah rakyat kecil.

Wajar ketika melihat dan mendengar berita korupsi di layar kaca, segala hujatan saya tujukan pada koruptor. Terpaksa, hanya itu yang dapat saya lakukan. Walau tidak mengubah apa pun, setidaknya bisa meluapkan kekesalan.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang mencuri, “Kecuali syetan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat), lalu ia dikejar oleh semburan api yang terang” (QS Al-Hijr: 18). Maksud mendengarkan berita dengan sembunyi dari ayat ini dapat disebut mencuri suara.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan kalau menguping saja dikatakan mencuri, apalagi mengambil harta yang bukan miliknya. Terlebih harta yang diambil dari rakyat kecil –yang harus memeras keringat untuk mencari nafkah demi sesuap nasi– melalui pajak dan pendapatan negara lainnya.

Jadi bisa dikatakan –seperti yang telah disampaikan di atas– koruptor sama artinya dengan pencuri, karena melakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan pemiliknya. Yang dirugikan di sini adalah rakyat yang hartanya dikorupsi atau dicuri untuk kepentingan pribadi sang pelaku.

Adapun hukuman yang diberikan kepada pencuri pada zaman baginda Rasulullah SAW, tergantung barang curian dan maksud seseorang melakukan pencurian. Berdasarkan buku Fiqih Sunnah edisi ke-9 karya Sayyid Sabiq, pada kasus pencurian buah-buahan yang masih tergantung di pohon, Rasulullah SAW telah membebaskan hukum potong tangan atas pencurinya.

Sementara pencuri yang hanya memakan buah tersebut –tanpa membawa pulang– lantaran lapar atau butuh atas buah tersebut, tidak dikenakan hukuman. Tetapi bagi pencuri yang membawanya pulang, akan dikenakan ganti rugi dua kali lipat dari yang dicurinya dan tambahan hukuman badan.

Sadangkan yang mencuri buah-buahan dalam wadah yang sudah disimpan pemiliknya –jika harga buah-buahan yang dicurinya itu telah sampai satu nisab– hukumannya adalah potong tangan.

Dengan demikian apabila negara menggunakan metode hukum seperti di Al-Quran dan Hadits, maka hukuman yang patut diberikan kepada Koruptor adalah potong tangan. Karena mayoritas Koruptor mencuri dalam jumlah banyak yang merugikan banyak kalangan, terutama kalangan masyarakat ke bawah.

Namun apa daya, pergeseran zaman membuat Al-Quran semakin ditinggalkan. Kebanyakan negara menggunakan metode hukum yang dibuat manusia. Bahkan, tidak jarang, uang dapat mengalahkan kekuatan hukum, meski seharusnya hukum merupakan keputusan mutlak dan menjadi pelindung bagi rakyat kecil.

Hal inilah yang mungkin membuat semakin banyak Koruptor dan pencuri-pencuri kelas kakap yang merajalela. Terlebih karena mereka juga mempunyai uang, yang dapat membeli hukum. Akibatnya yang kaya semakin jaya, dan yang miskin kian terpuruk.

Entah sampai kapan, ketidakadilan ini akan terus berlangsung di depan mata kita. Sedangkan akibat keimpangan hukum, kita tidak dapat berbuat apapun. Andai saja masa kejayaan baginda Nabi Muhammad SAW dapat ditegakkan lagi dan manusia menggunakan Al-Quran sebagai landasan hukum, pastilah tidak akan ada koruptor dan pencuri kelas kakap di dunia karena takut hukuman potong tangan. Wallahu’alam bishawwab.

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat pada 15 Oktober 2014 di Dakwatuna Online (http://www.dakwatuna.com/2014/10/15/58419/pencuri-dan-koruptor-potong-tangannya/#ixzz3GDcwKUZw)

 

From → Kiriman

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: