Skip to content

Cerpen: Romantika Waktu (1)

by pada 18 Oktober 2014
(sisilain-dunia.blogspot.com)

(sisilain-dunia.blogspot.com)

Oleh Siti Masliah Hayati

Mesin waktu seperti corong. Semakin lampau, tempo waktu makin singkat dan ukuran manusia semakin kecil. Sedangkan bila semakin ke depan, waktu makin lama dan manusia pun makin besar. Rechalla punya corong itu, dan selama ini ia menggunakannya dengan baik.

Jumat pagi, pelajaran Sejarah Dunia yang dibawakan Mr. Lambert, gurunya yang bertubuh gempal pendek, membuat Challa mengantuk. Gadis itu bosan, ia melirik teman-teman sekelasnya. Onand, pria tampan di kelasnya, rasanya cocok diajak. Challa biasa mengaguminya, tapi tak pernah bisa berbincang.

Onand terihat sama bosannya dengan Challa. Gadis itu melirik jamnya, pelajaran Mr. Lambert akan berakhir 2 jam lagi. Jadi selama Mr. Lambert tidak memberikan tugas, kepergian Rechalla dan Onand dapat dipastikan aman.

Ia melirik sambil berkonsentrasi. Untungnya Onand tidak duduk di depannya, Challa jadi bisa menunduk sambil menggumamkan mantra, sementara tangannya memutar-mutar pensil. Jiwa gadis berambut coklat gelap itu terasa ditarik pelan-pelan. Ia merasakan geliatan kecil dan hal yang sama menimpa Onand.

Rechalla tak tahu masa lalu yang akan didatanginya, bahkan tidak pernah tahu. Tapi, toh, selama 3 tahun ia memiliki bakat mistik, ia aman-aman saja.

*******

“Setiap orang punya bakat, tanpa terkecuali. Tapi lewat alam bawah sadar dan karena beberapa alasan, mereka cenderung menolak dan tidak dapat menggunakannya. Hebatnya, mereka yang memiliki dan menerima bakat ini pun kadang tak menyadari. Jika mau, kau bisa menemukannya. Bakat adalah sesuatu yang ditemukan. Hanya yang tidak mau menemukan, yang sebetulnya tidak berbakat!”

Itu suara mendiang ibunya saat Challa masih kecil, seperti dibisikkan lagi tepat di telinga kanannya. Dia tak pernah menganggap bakat pada dirinya istimewa, karena –lewat kata-kata mendiang ibunya– ia tau bakat tersebut sebenarnya juga dimiliki oleh orang lain.

**********

Hawa dingin melingkupi tubuh kedua remaja itu. Perlahan mata mereka terbuka, hampir semua yang terlihat adalah daun hijau. Sinar matahari menyemburat di sela dedaunan pohon tinggi, suara serangga khas rimba memenuhi telinga keduanya.

“Apa yang kita lakukan di sini?” teriak Onand kaget, ia bangun lebih dulu. Tangannya meraba-raba pohon berdiameter 1 meter, yang beberapa menit lalu disandarinya.

“Aku tak tahu,” ucap Rechalla setengah berbohong. Ia memang tidak tahu apa yang mereka lakukan di sini, tapi ia lah yang membawa mereka ke tempat ini.

“Mungkin kita sedang bermimpi,” ucap Rechalla lagi. Nada pengucapan kalimat diaturnya sedemikian enteng.

“Ini konyol! Aku sedang mengikuti kelas Mr. Lambert!”

“Hei ayolah! Kulihat kau mengantuk tadi, aku juga. Tempat ini mungkin pernah terlihat dalam mimpimu atau mimpiku!”

Challa bergerak lebih dulu. Ia tidak ingin membahas lebih lanjut, karena Onand mungkin saja mendesaknya.

Hening agak lama, hanya tingkah tak sabar Onand yang membuat hutan itu semakin berisik.

“Air ini, daun ini, kayu ini, hutan ini, semuanya nyata!” teriak Onand tiba-tiba.

Mereka masuk ke tempat yang salah, pikir Challa. Onand mungkin alergi terhadap hutan, ia pria modern yang suka hingar-bingar kota.

“Oke, ini bukan mimpi,” desis Challa akhirnya.

“Lalu apa?!” kejar Onand.

“Ini dunia nyata, kau percaya?” tantang gadis berkulit terang itu santai.

Alisnya yang coklat gelap hampir terlihat seperti keemasan, saat terkena cahaya matahari. Berlatar belakang pepohonan hijau, Rechalla terlihat seperti peri hutan.

Onand meresapi pertanyaan gadis di depannya, ia merasa hampir gila. Lalu tertawa, makin lama semakin terbahak, “Buahahahahahahahahahaha!” Tawanya yang membahana, membuat beberapa burung beterbangan keluar dari rumah pohon mereka.

“Gila! Tawamu mengguncang rimba, hentikan! Hei, hentikan!”

“Habisnya kau lucu, Nona! Baiklah, aku tidak tahu ini lucu atau menyeramkan. Aku sepakat ini bukan mimpi, tapi tak ada penjelasan logis untuk ini, kan? Barusan kau terlihat seperti peri hutan, aku cuma berpikir mungkin kau dalangnya.”

Challa mengangkat tangan kirinya, memberi aba-aba, agar bintang Rock itu menghentikan kalimatnya. Ia melihat sesuatu —bahkan cukup banyak— seperti sedang mendekat, pergerakannya terdeteksi lewat gemersik ranting pohon dan dedaunan.

“Sst, ada yang mendekat. Jangan berisik!”

Sayup-sayup keduanya mendengar, “huk huk huuk huk huk huuuk..”

“Kau dengar itu?” Onand berkata pelan, hampir mendesis.

Rechalla mengangguk, “Suaranya dari banyak arah.”

“Ayo!” belum sedetik Challa mengatupkan mulutnya, Onand sudah mendapatkan ide untuk tempat mereka sembunyi.

“Tidakkah sebaiknya kita melihat dulu, makhluk apa mereka sebenarnya?” bisik Challa seraya terengah-engah.

Sebersit sesal hinggap di hati Challa. Harusnya ia tidak mendapat ide masuk ke dunia ini, terlebih mengajak Onand. Harusnya ia tidak mengantuk saat kelas Tuan Lambert. Harusnya ia mungkin tinggal di rumah saja, harusnya..

Onand mengangguk atas pertanyaan Challa, yang didengarnya semenit lalu. Mereka duduk di bawah pohon besar, yang dikelilingi semak belukar. Cukup lebat untuk menyamarkan sosok mereka, yang terbalut seragam putih-cokelat.

“Kau harus tahan dengan semut, atau apapun yang mendatangimu di pohon ini!” bisik Challa mendekati Onand. Suara ‘huk huk huuk’ itu semakin jelas saja terdengar.

Onand mengangguk paham. “Semut memang suka yang manis,”  balas Onand tersenyum penuh arti.

“Dan calon bangkai,” tambah Challa sengit. Baginya, suara Onand yang menggelegar tadi lah, yang mengundang makhluk-makhluk itu kemari. Makhluk yang membuat perasaannya tak nyaman.

Perdebatan mereka terhenti. Puluhan, hampir ratusan, makhluk tinggi sekitar satu setengah meter memenuhi ruang pandang mereka. Sosok mereka mengingatkan Challa pada suku pedalaman sebuah benua di belahan bumi selatan. Tubuh mereka coklat legam dan kurus yang mengenakan secarik kain di pinggang, juga tombak di tangan kiri masing-masing.

Mereka pasti prajurit, batin Challa. Di beberapa tubuh, tersemat pula busur lengkap dengan anak panah menggantung di pundak mereka. Satu di antaranya bertubuh lebih gemuk, mengenakan rompi kulit yang dihiasi rangkaian tanduk dan gigi sebagai kalung, dengan tangan kanannya menggenggam gading gajah sebagai terompet.

My God!” desis Challa refleks. Kami benar-benar mengunjungi tempat yang salah! Riwayat kami mungkin akan tamat di salah satu ujung tombak itu.

Shit! Mereka bisa saja membunuh kita!” wajah Onand pucat pasi. Challa belum pernah melihatnya sedemikian tegang.

“Mereka mencium keberadaan kita,” Challa mengalihkan pandangannya dari wajah Onand. Kini makhluk-makhluk itu menghentak-hentakkan kaki mereka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seperti mabuk, mulut mereka seperti membuat dengungan.

“Ayo lari!” perintah Onand cepat.

“Tidak! Tidak bisa! Kita tidak boleh membuat pergerakan sekecil apapun, Onand. Jangan bergerak!”

Pria itu menolak, ia malah melesat secepat kilat.

“Tidak!” jerit Challa tertahan, bersamaan terdengarnya terompet gading gajah yang ditiup Sang Kepala Prajurit.

Tubuh gadis itu mengejang, karena tegang. Ia bahkan tak berani menarik napas lewat hidung, terasa jauh lebih berisik baginya. Ia menghirup napas lewat mulut yang ditutup tangan kanannya.

Jantungnya berdegup sangat keras. Makin ia tahan, suaranya justru semakin memekakkan telinga. Tiba-tiba udara menjadi dingin. Dalam pandangannya, warna alam di sekitarnya pun berubah menjadi kuning, merah, lalu gelap. Rasanya ia akan pingsan. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: