Skip to content

Perjuangan Hidup Sang Penertib Motor

by pada 21 Oktober 2014
ilustrasi

ilustrasi

Oleh Damar Jiwangga Jati

Di tengah terik matahari seorang pria paruh baya berseragam hitam oranye dengan topi abu-abu, sibuk mengatur parkiran di depan Mall Ramayana, pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Pasar Kebayoran Lama merupakan kawasan yang sering dikunjungi orang untuk berbelanja. Karena sempitnya lahan parkir, keberadaanpria kelahiran Betawi bernama Djunaedi sungguh sangat menolong mereka.“Kurang lebihsudah 15 tahunsaya bekerja menjadi tukang parkir,” ujarnya rendah hati.

Meski ramai, namun Djunaedi berpenghasilan tidak menentu. “Gak nentu, tergantung cuaca juga soalnya,” kilah ayah 2 anak, hasil pernikahannya dengan Neneng. Itupun ia bersama teman satu kerja nya harus menyetor sebagian penghasilannya ke Pasar Jaya. “Dengan penghasilan gak menentu ini, kami tetap wajib setor Rp. 345.000 per hari. Tapi, Alhamdulillah, semua masih mencukupi untuk kebutuhan saya dan keluarga,” ujarnya.

Dengan pendidikan yang tidak tinggi, Junaedi sulit mencari pekerjaan lain. Di era persaingan yang tinggi, ia tidak memiliki pilihan lain.  Walau penghasilan serba pas-pasan, ia tetap bertahan dengan pekerjaannya. Tidak terbayangkan yang akan terjadi, jika dia harus meninggalkan pekerjaan yang sudah lama ditekuninya.

Djunaedi juga sangat dikenal dan dinilai baik teman-teman sepekerjaannya. Menurut Dodi, karena dia selalu menolong temannya saat mereka mengalami kesusahan. “Dengan penghasilan yang segitu aja, dia masih mampu menolong teman-teman yang membutuhkan,” tukas Dodi, sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Menurut orang-orang di sekitarnya pun, kehadiran Djunaedi sebagai tukang parkir sangat dihargai. “Alhamdulillah, helm saya gak pernah hilang di sini. Soalnya kalau misalkan ada yang mencurigakan, pasti ditegur tukang parkir,” ujar Joko Hermawan, salah satu pengguna parkir. Ya, karena Djunaedi banyak membantu menjaga dan menertibkan sepeda motor yang diparkirkan.

Seusai pekerjaanya, Djunaedi masih selalu membantu pekerjaan rumah. “Biasanya, sih, saya istirahat di rumah, sambil bantu-bantu istri. Yah, sekalian tunggu kalau ada yang minta tolong. Seperti, ngecat tembok, potong kambing, atau  kuli angkut barang,” katanya. Terkadang, di waktu sengganggnya, ia masih menyempatkan diri memancing. Lumayan, katanya, hasil tangkapan bisa bisa jadi lauk untuk makan keluarga.

Dari hasil pekerjaan Djunaedi selama ini para pengguna parkir merasa puas, karena dia melakukannya dengan penuh tanggungjawab. Hal ini diakui Hendri Kurnia, yang selalu memarkirkan sepeda motornya di situ lantaran mendapat perlakuan yang memang seharusnya.

“Saya mau memberi uang kalau mereka melakukan pekerjaannya dengan benar, sehingga saya bisa ikhlas lahir bathin,” tegas Hendri lagi. Hal senada juga dituturkan Joko Hermawan, “Saya merasa aman memarkirkan motor disini, jadi tidak keberatan memberikan uang ke mereka.”

From → Kiriman

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: