Skip to content

Cerpen: Jerat, Jarak, Jejak

by pada 26 Oktober 2014
(www.satumedia.info)

(www.satumedia.info)

Oleh Vania Kamila Andarini

Aku bergeming, saat dirimu bisu dalam hening. Aku bersuara, saat dirimu mulai bercerita..

Satu catatan yang kutulis lagi di kertas kecil dan kutempel di dinding kamarku. Jumlahnya mungkin sudah puluhan, atau bahkan ratusan.  Dan kertas ini menjadi yang kesekian ratus.

Hari ini aku berangkat ke kampus lebih awal satu jam, karena satu alasan. Demi melihat makhluk indah yang selalu kunantikan, meski untuk sekadar menatap matanya dan menyimpulkan senyum dibibirku setelahnya. Makhluk indah itu adalah Aldrino Seena.

Entah mengapa aku begitu tertarik dengannya. Setiap hari, saat bertatap mata atau mengobrol basa-basi, ada perasaan lain yang membuat jantungku berdetak cepat. Perasaan aneh, yang pernah aku rasakan ketika menyukai teman SMA dulu. Kini perasaan itu hadir kembali, perasaan yang mungkin bisa kusebut cinta.

Aldri, begitulah dia dipanggil. Cowok berusia 19 tahun dengan tinggi badan yang semampai, berhidung mancung dan sangat menyukai motor sport. Dari jarak satu meter, terlihat jelas kalung salib yang menggantung di lehernya. Ya, dia seorang Nasrani dan aku seorang wanita Muslim.

Kami memang cukup mengenal satu sama lain karena berada di lingkungan yang sama, kami teman satu kelas. Tapi setiap aku mengobrol dengannya sebentar tetap melahirkan aura gugup, yang seketika membuatku menjadi salah tingkah dan tidak bisa disembunyikan di depannya. Begitu juga dengannya. Entah apa namanya, tapi yang jelas aku sangat mengaguminya.

Memang pada awalnya, mata dan senyumnya tak berarti apa-apa bagiku. Semua mengalir begitu saja. Aku tahu semua berubah menjadi indah, sejak pembicaraan yang sederhana menjadi spesial dan menyenangkan bagiku. Dan semenjak kejadian itu, aku terkagum-kagum dengan  kepribadiannya. Aldri yang penuh tanggung jawab, Aldri yang taat dengan agamanya, dan Aldri yang begitu bijaksana.

*******

Senja telah lama usai, langit malam begitu indah dihiasi taburan bintang gemerlap. Aku berdiri di depan cermin dan menyapu rambutku dengan sisir. Pikiranku melayang, tanpa sadar melamunkan Aldri yang membawaku kembali ke peristiwa sbulan lalu. Ya, di halte ketika aku dan Aldri terjebak hujan, ketika kami berbicara panjang lebar.

“Kamu tau nggak, Nad? Dulu keluargaku hancur banget. Natal tahun lalu, ayahku malah asyik nongkrong di bar dengan teman-temannya, padahal aku sekeluarga lagi berdoa di gereja. Sampai berantem, aku marah banget saat itu. Tapi aku percaya, kalau Tuhan bakal bikin ayahku sadar. Puji Tuhan, akhir-akhir ini ayahku udah mulai rajin ke gereja,” ujar Aldri.

Sebagian kata-kata yang keluar dari mulutnya waktu itu, masih terekam jelas di otakku. Aldri tidak canggung  menceritakan tentang keluarganya kepadaku, padahal sebelumnya kami tidak pernah berbicara sejauh itu.

*******

Mata kuliah hari ini selesai, aku masih menyelesaikan catatan dan masih belum beranjak dari tempat duduk. Dari belakang, Syara mengagetkanku.

“Nad, tugas lo yang kemarin udah dibalikin sama Pak Syarief tapi disimpan Aldri, soalnya bapak nitipin semua ke dia. Kalo lo mau ambil, langsung ke Aldri aja ya,” ujar Syara.

Lo udah ngambil tugasnya?” sahutku dengan tatapan menyala dan hati yang berdebar, ketika nama Aldri disebut.

Gue, sih, udah tadi, Soalnya mau gue pelajarin lagi.”

“Kok, lo jahat, sih, nggak ngambilin tugas gue sekalian? Ih, Syara.”

“Karena gue sengaja, Nad,” Syara tersenyum penuh isyarat, sambil  mencubit pelan perutku.

“Yee, apa, sih, Syar. Ngeledek, deh,” aku mengelak malu.

“Ih, nggak mau ngaku gitu, nih, Nadhila,” Syara terus menggoda.

“Terserah lo, Syar. Eh, nanti sore temenin ke mall, yuk! Ada yang mau gue liat, mau nggak?” ajakku mengalihkan pembicaraan.

“Yuk! Kebetulan gue nggak ada rencana ke mana-mana, kok, nanti,” sahut Syara.

Mall belum terlalu ramai pengunjung, mungkin karena masih siang. Aku dan Syara dengan santai menyusuri toko demi toko, setelah barang yang kucari sudah didapat.

“Nad, laper, nih. Kita makan dulu, yuk!”

“Makan di mana, Syar?”

“Ke McD aja deh, Nad. Kepengen cheese burger, nih,” pinta Syara.

 “Ya udah, ayo!” jawabku semangat.

Sesampainya di McD, aku dan Syara bergegas melihat menu dan langsung memesan makanan. Aku memesan satu BigMac sedangkan Syara memesan menu andalannya, double cheese burger. Di sela obrolan ringan sambil menyantap menu masing-masing, tiba-tiba Syara menanyakan satu hal yang membuatku berhenti mengunyah.

“Nad! Mau sampai kapan lo pendam perasaan itu?”

“Hmm, maksud lo, Syar?”

“Iya, sampe kapan lo nggak mau ngungkapin ke Aldri?”

Syara selalu menyuruh untuk mengungkapkan yang sebenarnya aku rasakan terhadap Aldri, tentang rasa suka terhadap Aldri semenjak awal semester lalu.

Gue terlalu pengecut buat lakuin itu. Terlalu takut buat bilang yang sejujurnya, kalo gue pengen lebih dekat atau semacamnya, Syar,” sahutku.

Aku memang pengecut, tidak berani mengungkapkan kalau aku menyukainya dan menginginkan hubungan yang lebih dari seorang teman. Memang perasaan ini begitu menyiksa, ketika semua kata tertahan di bibirku yang kelu.

“Kalo lo terus-terusan kaya gitu, yang ada lo jadi teroris cinta: sembunyi melulu. Sekali-kali, kek, lo ajak jalan bareng. Jangan bisanya ngeliatin dari jauh, jangan bisanya ngobrol cuma 2 menit doang. Payah, ah!” berondong Syara menggebu.

Gue bener-bener nggak seberani itu, Syar. Takut pada akhirnya, malah membuat sikap gue ke Aldri jadi canggung,” jawabku yakin.

“Apa, sih, Nad yang bikin lo sampai sebegitunya ke Aldri? Perasaan pas awal semester ini biasa-biasa aja, deh,” tanya Syara, bingung.

“Hmm, semenjak satu bulan lalu. Waktu sama-sama kejebak hujan di halte,” ujarku buka kartu.

“Terus apa yang bikin lo takut bakalan canggung ke dia? Kan cuma sama-sama lagi neduh aja,” Syara penasaran.

“Ya, waktu itu kita ngobrol banyak. Dia nyeritain keluarga, hobi, juga tentang dirinya. Yang gue tangkap waktu itu, bukan Aldri yang pendiam. Tapi Aldri dengan pesonanya yang mengesankan. Mulai saat itu gue makin jatuh hati,” jawabku.

“Oh, gitu. Jadi karena itu, lo jaga jarak ke dia?” tanya Syara.

 “Nggak jaga jarak juga sih. Kan gue bilang, cuma takut jadi canggung aja,” jawabku memperjelas.

“Walau emang sebelumnya gue dan Aldri nggak dekat, tapi setelah kejadian itu gue kayak mimpi, Syar. Mungkin kejujuran atas kenyataan hidup dan keluarganya yang malah bikin dia menjauh, atau dia menyesal cerita sejauh itu ke gue,” lanjutku.

Gue nggak nyangka, ternyata lo udah sejauh itu ngobrol sama dia,” sahut Syara.

“Ya, gitu, deh, Syar. Tapi gue nggak berharap lebih, setelah kejadian di halte itu,” ujarku.

“Pokoknya besok pas lo ngambil tugas di dia, harus ajak ngobrol lebih lama lagi, Nad!” seru Syara.

“Insya Allah, Syar,” jawabku tak yakin.

*******

Keesokan harinya setelah kelas selesai pukul 2 siang, aku baru berani mengambil tugas ketika melihat Aldri duduk di bangku taman sendirian. Aku menghampirinya diiringi detak jantung yang tiga kali lebih cepat dari biasanya. Kututupi semua kegugupanku dengan senyum palsu, yang dibuat sedemikian rupa agar terkesan tidak dipaksakan.

“Aldri, sorry ganggu. Mau ambil tugasku yang dititipkan Pak Syarief,” sapaku mengagetkannya.

“Hey Nad, mau ambil tugasmu? Sekarang? Sebentar ya,” sahutnya sambil membuka tas ransel.

“Iya, soalnya mau aku pelajari lagi, Dri,” jawabku.

“Ini Nad. Maaf ya, aku nggak langsung kasih kamu waktu itu,” katanya sambil menyodorkan tugasku.

“Oh, iya. Nggak apa-apa, kok. Kamu ngapain di sini sendiri? Lagi tunggu orang ya?” tanyaku penasaran.

“Aku lagi pengen disini aja dan emang lagi nungguin kamu,” ujarnya.

“Hah? Nungguin aku, ngapain, Dri?” tanyaku penasaran.

 “Ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu, sedari kemarin,” ujarnya membuatku terkejut.

Seketika aku merasa lemas. Betapa tidak, laki-laki yang kusukai sedang bersamaku saat ini –duduk berdua, tidak ada siapa-siapa selain aku dan dia– baru saja bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan padaku. Raut wajahku seketika berubah bak kepiting rebus, juga menjadi sedikit canggung. Tapi jelas, aku tak akan menolak menikmati waktu yang hebat ini bersama Aldri.

“Mau bicara apa emangnya, Dri?” tanyaku, penuh semangat juang.

 “Sini, Nad, duduk. Nggak enak, kalau ngobrolnya sambil berdiri gitu.”

Aku langsung duduk, tepat di samping Aldri. Kalung salib yang melingkar di lehernya, kini semakin jelas terlihat oleh mata telanjangku.

“Nad, kamu tau nggak? Akhir-akhir ini aku merasa ada yang beda. Semenjak kita ngobrol banyak waktu itu, kamu semakin tau tentang aku. Setelah itu, aku malah merasa kamu berubah,” ujar Aldri.

“Aku.. Aku.. hmm, aku biasa aja kok Dri. Perasaan kamu aja kali, tuh, yang terlalu peka. Aku nggak berubah, ah,” jawabku meyakinkan.

“Justru karena perasaanku peka, aku merasa kamu kaya gitu. Emang kejadiannya udah lama, sih, tapi aku benar merasa kamu berubah, Nad.”

Aku bergeming. Bingung apa yang harus kukatakan pada Aldri. Haruskah aku bicara yang sebenarnya tentang perasaanku? Tak bisa dipungkiri, aku memang memendam rasa menyakitkan yang selalu butuh pengungkapan. Juga rasa yang disembunyikan dan harus menemukan kejelasan dari pemilik tujuan rasa.

“Kalau ketemu, kamu cuma menatapku dan ninggalin senyum. Setelah itu, tiba-tiba sibuk sendiri dengan yang kamu kerjain.” Aldri terus saja berbicara, seperti sedang menghakimiku.

“Aku pengen tanya, apa alasan yang kamu kasih ke aku? Samakah jawabanmu dengan yang kupikir?” lanjutnya.

 Aku memutar otak, berpikir lebih keras agar bisa menjawab, yang ternyata selama ini telah menjadi pertanyaan Aldri.

“Emang apa yang kamu pikir, Dri? Aku beneran nggak berubah, kok. Sama sekali nggak ada yang berubah dari aku,” ulangku berusaha meyakinkan.

“Kamu tau nggak, Nad? Waktu itu aku bercerita panjang lebar, karena kuanggap kamu cewek yang cukup dewasa. Dari semua percakapan kecil kita, aku bisa tangkap itu semua.”

Aku masih membisu. Aku hanya memandang bibir kecilnya yang terus mengeluarkan kata-kata, sambil sesekali tersenyum manis. Aku makin terhipnotis.

“Terbukti, kemudian kamu kasih solusi yang membuat aku jauh lebih baik. Nggak salah kan, Nad, kalau aku sesekali ngeluh?” bisik Aldri, dengan nafasnya yang menghembus cuping telingaku.

“Kamu nggak salah kok, Dri. Nggak ada yang bisa nyalahin dirimu. Kamu boleh sesekali ngeluh, tapi jangan sampe bikin down. Kamu harus terus maju melangkah ke depan, banyak yang harus diselesaikan. Jangan sampai semua itu mengganggu kuliah kamu,” sahutku mendewasa, meski bibirku masih sedikit kelu

“Lalu, apa yang ingin kamu tau dariku?” lanjutku.

 “Yang ingin aku tau, kenapa kamu jaga jarak, Nad? Apa kamu ill feel padaaku?” tanya Aldri memelas.

“Sejujurnya, aku makin tertarik sama kamu, Dri. Akhir ini aku bukannya menjauhi kamu, aku cuma nggak berani aja ngomong langsung ke kamu.”

“Kamu serius, Nad?”

“Aku nggak pernah seserius ini, Dri,” sahutku.

“Nad, aku sayang kamu. Ada sesuatu yang lain di hatiku, semenjak hari itu,” tutur Aldri penuh keyakinan.

Seketika aku bagai tak bernafas, seperti patung yang tak berpembuluh darah. Ketika tatapan kami saling bertemu, terasa aliran listrik menjalar di sekujur tubuhku. Aku tak kuasa menahan perasaan, ketika Aldri mengucapkan sayang padaku.

“Aku pun merasakan begitu,” sahutku lirih

Aldri tersenyum dan menggenggam tanganku erat. Tatapan lembutnya, begitu cepat sampai di hati.

“Apa mungkin, aku dan kamu bisa menjadi kita, Nad?” tanyanya dengan suara penuh harap.

*******

Lama ku tercenung. Sungguh, aku pun tak mau kehilangan dirinya. Tetapi akidahku tak memungkinkan ini terjadi. Ku harus jujur, meski pedih. Namun ku yakin, Tuhan pasti memberikan diriku yang terbaik. Setelah menghela nafas dalam-dalam, seraya tersenyum kusampaikan jua keputusannya.

“Aku rasa tak mungkin, butuh pengorbanan besar. Padahal, bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Kamu ngerti maksudku, Dri?”

Aldri menganggukkan kepalanya dan langsung membelai halus rambutku. Tak pernah aku merasakan senyaman dan sehangat ini. Berada di dekatnya, di dekat laki-laki yang pernah aku sayangi.

*******

Pada akhirnya, cinta yang sejak dulu sulit diungkapkan, kini sudah mendapatkan jawaban. Aku dan Aldri memutuskan untuk tetap berteman, tanpa ikatan yang lebih. Ya, karena perbedaan keyakinan yang membuat aku dan Aldri tidak bisa menjadi “kita” sebagaimana diinginkan.

Setidaknya, aku dan Aldri tetap bersama. Bukan lagi sebagai detektif yang mengintai dari kejauhan, bukan pula sebagai musuh yang selalu bertatapan dingin. Terpenting. jawaban dari pertanyaan yang selalu membayangiku dan Aldri sudah terjawab. Ini jauh lebih baik dari perasaanku sebelumnya.

Aldri bukan lagi jerat yang memaksaku untuk selalu diam, bukan juga jarak yang mengharuskanku untuk menjauh. Tapi Aldri adalah jejak di hidupku, yang terabadikan lewat kenangan yang akan kusimpan rapi dalam hati.

Semoga ini menjadikan esok lebih baik, bagiku dan bagi dirinya..

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: