Skip to content

Takkan Berakhir Di Ujung Senja

by pada 30 Oktober 2014
(kesehatan.kompasiana.com)

(kesehatan.kompasiana.com)

Oleh Lingga Amanda Syifa

Terlihat wajah yang dipenuhi keringat dan debu terendap di pakaian, setiap dirimu tiba di rumah. Tak pernah kudengar keluhan darimu selama ini, meskipun berat beban yang ditanggung.

Bagimu, umur bukanlah alasan untuk bermanja. Setiap malam dirimu tiba di rumah dengan senyuman ikhlas, tak sedikitpun tersirat dalam pikiranmu meminta balasan lebih. Padahal ibu cukup lelah dengan berbagai persoalan di tempat kerja, namun tak menghalanginya untuk selalu menghadirkan senyum kepada kami.

Saat itu, aku masih duduk di kelas 2 SMA. Tak biasanya, malam itu wajahmu terlihat sangat pucat. Tak hanya itu, badanmu yang tidak lebih tinggi dariku terlihat gemetar. Saat aku bertanya, tak sepatah katapun yang terucap. Ia hanya tersenyum dan segera masuk dalam rumah. Rasa penasaran yang terus ada di pikiran, akhirnya kalah oleh kelelahanku hari ini.

Keesokan harinya –seperti biasa, dirimu selalu ada di tiap saat aku membuka mata– dengan tatapan mata yang penuh cinta, bangunkan aku dari mimpi semalam. Bahkan sesaat usai ibadah Subuh, sarapan pun sudah tersedia di meja makan.

Ya, dirimu memang tidak pernah lupa akan tugasmu sebagai Ibu. Bagiku, dia adalah wanita sempurna. Tidak hanya menjadi ibu seutuhnya, tetapi juga mampu berperan sebagai ayah, kakak, maupun sahabat yang selalu ada untukku. Juga ketika kami pamit mencari ilmu, Ibu pasti memberikan sejuta semangat untuk kedua anaknya.

Hari itu aku pergi dengan berat hati, pikiran selalu tertuju pada Ibu. Sebelumnya tak pernah kurasakan kekhawatiran mendalam seperti ini, bayangan negatif mulai menyelimuti otak. Beberapa kali kucoba kembali fokus dalam pelajaran, tetapi entah mengapa ingatan tetap pada Ibu.

Pukul 11.45, kudapati pesan yang masuk dalam telepon genggamku. Kabar tentang Ibu jatuh pingsan, yang segera kutautkan dengan kegelisahan pagi tadi. Ternyata dugaanku benar, sejak malam itu ibu telah menahan rasa sakitnya. Pertalian batin ibu dan anak, memang tidak bisa terkalahkan oleh waktu.

Kesedihan yang terlihat jelas di mataku, membuat beberapa teman bertanya-tanya. Air mata mulai menetes di pipi, perasaan sedih tak bisa kubendung lagi. Tanpa pikir panjang, segera aku berkemas untuk melihat kondisi Ibu di rumah. Pikiranku hanya tertuju pada keselamatan Ibu, Ibu dan Ibu.

Sesampai di rumah, tak ada yang menyambutku dengan hangat. Juga tak ada satu pesan pun masuk ke telepon genggamku. Dengan panik dan tegang kucoba telepon Ibu, tetapi tak ada jawaban. Berusaha menelepon ayah dan kakakku, namun hasilnya nihil. Seluruh tubuh mulai bercucuran keringat dan gemetar, meski tanpa menyerah aku terus menghubungi keluargaku.

Setiap usaha pasti membuahkan hasil, saat itu pula kakak menjawab teleponku dan memberitahukan Ibu berada di Rumah Sakit Harapan Bunda. Semua pertanyaan menyangkut Ibu segera kulontarkan pada kakakku, namun ia tak kuasa menjawab. Kakak hanya menyuruhku segera datang dan temui Ibu.

Tiba di Rumah Sakit, kudapati infus telah ditancapkan pada lengannya. Muka yang sangat pucat dan lemas, bukan alasan bagi Ibu untuk menanyakan apakah siang ini aku sudah makan dan menunaikan ibadah.

“Aku belum makan dan shalat, Ma. Aku cuma mau mastiin, kalo mama baik-baik aja. Mama sakit apa? Udah mendingan, kan?” jawabku gugup, yang langsung kututupi dengan balik bertanya.

Tak lama kemudian, Dokter yang menangani Ibuku memberi tahu kalau penyakitnya belum terdeteksi. Semakin panik dan sedihku dibuatnya. Untuk kesekian kali, aku tak dapat menahan air mata yang jatuh. Namun segera kuhapus dengan jemari, agar ibu tak sempat melihatnya.

Tetapi entah apa yang ada di pikiran Ibu, ia hanya tersenyum mendengar pernyataan Dokter. Sempat terbayang betapa banyak pahala yang terkumpul oleh ibuku, melalui kesabarannya menahan penyakit. Bisakah aku sesabar Ibu? Bisakah aku sekuat Ibu? Bisakah aku seikhlas Ibu? Sepertinya aku harus lebih belajar kepada Ibu.

Setelah beberapa hari, hasil cek darah menyatakan Ibu positif demam berdarah. “Jika tidak segera dibawa ke rumah sakit, kemungkinan ibu tidak akan tertolong” ujar Dokter.

Waktu terus berjalan, hari demi hari sudah terlewati. Terasa waktu begitu lama menunggu kepulihan Ibu. Paginya kudapati pesan singkat Ayah, kalau Ibu sudah boleh pulang hari ini. Dengan perasaan senang bercampur haru, kuucap syukur ke hadirat Allah SWT.

Namun, kesedihan teramat dalam kembali menyergap kami sekeluarga. Sepulihnya Ibu dari DBD, penyakit terdahulu –yang membuat seluruh wanita enggan mendengarnya– miom dan tumor payudara menyerang lagi.

Selama sakitnya, Ibu tidak pernah mengeluh. Ia terus menjalankan kewajibannya, sebagai ibu sekaligus ayah tanpa pamrih. Pulang kerja malam sekaligus tetap menyelesaikan pekerjaan rumah, dilakoninya setiap hari. Dia selalu meyakini semua perbuatannya di dunia, kelak akan mendapat balasan di akhirat.

Namun saat ibu mengetahui penyakitnya kembali datang, ia sangat terpuruk. Terlihat wajah cantiknya berubah murung, meski berusaha ditutupi senyum. Aku mengetahui –walau tanpa dijelaskan– makna senyumannya.

Karena kuasa Allah, tekad dan usaha total untuk sembuh, akhirnya tumor payudara dan miom lambat laun hilang tanpa operasi. Dengan mengandalkan ramuan herbal dan berbagai macam buah maupun sayur, penyakit yang diderita Ibu hilang dalam hitungan bulan. Subhanallah.

Aku mengerti, pengorbananmu takkan berakhir di ujung senja. Waktu bukanlah alasan untukmu mencari sejumput rezeki, suasana malam bukanlah halangan untukmu. Kau tak pernah peduli, akan tenaga yang terkuras karena pekerjaanmu. Kau membuatku mengerti, betapa berharganya waktu.

Kau mengajarkan segala sesuatu, yang perlu kuketahui. Kau adalah denyut nadiku, adalah nafasku, adalah motivasiku. Ya, kau lah tujuanku meraih sukses dunia maupun akhirat. Pengorbananmu yang belum sempat terbalaskan olehku dan keikhlasanmu belum bisa kutandingi.

Di setiap ibadahku terselip namamu, Ibu. Kaulah idolaku.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: