Skip to content

Cerpen: Asa yang Mengendap di Jalanan (2)

by pada 2 November 2014
(www.daqu.or.id)

(www.daqu.or.id)

Oleh Bunga Wiladatika

Malam semakin larut. Dunia malam yang liar dan mencekam pun dimulai. Irfan dan keluarganya ‘parkir’ di tempat biasanya para pengamen mengumpul. Di seberang stasiun Tanjung Barat. Di pojok bekas ruko itu, para pengamen jalanan beristirahat.

“Tadi, pas ngamen, gue liat lo sama dua orang. Sape, tuh?” tanya salah seorang pengamen, teman sebaya Irfan.

“Oh, ntu. Mereka mahasiswa yang mau ngeliput gue, katanya “ jawab Irfan sambil meneguk kopi milik temannya.

“Yang cewek cakep, tuh? Lumayan, boy!”

Cakep lah. Eh, tapi enak aje, emang dia cabe-cabean!”

Kalo cakep, mah, kenalin sama abang donk!” kata teman lainnya sambil tertawa, yang segera diikuti oleh seluruh orang di sana.

Irfan pun membayangkan wajah gadis itu dengan serius, saat menyulap dengan cahaya indah yang terpancar dalam senyum. Melihat senyum seperti itu, Irfan pun penuh keyakinan di hatinya.

Tetapi, mana mungkin emas bisa dibeli hanya dengan sekeping lima ratusan? Mana mungkin cinta digapai hanya bermodal angan? Ia tak punya apa-apa, selain gerobak sampah tua yang lusuh dan beberapa lembar pakaian yang didapat dari lungsuran rongsokannya.

Ia mengutuk dirinya sendiri, lantaran lahir dalam keadaan serba melarat. Bukan dilahirkan oleh istri Presiden atau Permaisuri Raja. Namun, apakah hidup dapat diterka kemana akan mengarah? Jika dapat, tentu akan banyak yang mengantri peluang berada dalam rahim-rahim orang besar. Lalu, apakah hidup lebih indah, bila ada yang menjual peluang itu?

Irfan tersadar dari lamunannya. Dilihatnya teman-teman sudah terbaring dan mengigau tak karuan, meski hanya beralas koran. Ia pun tertidur bersama mereka. Namun tetap menjaga adik dan ibunya dari gangguan para preman.

*******

Esok harinya, Irfan dan keluarga kecilnya sudah berada di kolong fly over menunggu kedua mahasiswa yang kemarin. Tak berapa lama, mereka datang bersama seorang laki-laki muda yang menggandeng tangan Dian.

Ketauan dah, pikir Irfan. Laki-laki itu berkenalan dengan Irfan dan keluarganya. Lalu, mereka semua melanjutkan perjalanan.

Irfan berhenti di tempat Bang Ando. “Neng, mas-mas, bentar ya, Jangan ngikut gue. Di sini aja, ya, nunggunya. Gue mau bayar utang. Jangan ikut, bahaya! Apalagi, nih, mas bawa kamera. Jangan, dah!” ucap Irfan, seraya memarkirkan gerobaknya.

Emang mau kemana, mas?” tanya Dian penasaran.

Irfan menggeleng, “Pokoknya, jangan. Gue ke sarang penyamun, nih. Berabe kalo pada ikut kesana.”

Dian, Andi dan laki-laki muda itu saling berpandangan. Setelah berdiskusi sejenak, mereka putuskan untuk tetap ikut Irfan. Mereka tak menghiraukan usul Irfan, karena mungkin dari situbisa menambah bahan liputannya.

“Serius, nih? Kalo ada apa-apa, gue kagak nanggung, ya! Gue udah bilangin. Jangan pada rese, ya! Jangan ngelawan juga, kalo diapa-apain. Daripada lo semua dicincang, dijadiin bubur sumsum!”

“Insya Allah, bang. Kita nggak apa-apa, kok dan nggak mau ngerepotin abang juga”

Lo mau bawa kamera?” tanya Irfan. Andi pun mengangguk.

“Yakin?” tanya Irfan lagi. Kini berhasil membuat Andi ragu.

“Yah, pokoknya tenang aja. Kamera gue simpan di tas. Kalo nggak aman, nggak dikeluarin kok,“ sahut Andi, sekaligus meyakinkan teman-teman dan dirinya sendiri.

“Kamu mau ikut? Jangan, ya, di sini aja. Biar Andi aja,” ujar laki-laki muda kepada Dian. Raut muka khawatir tampak pada wajahnya.

“Kita ini grup. Nggak mungkin Andi sendirian!” tegas Dian. Tatapan matanya membuat laki-laki muda itu luluh.

Mereka berjalan menyusuri gang setapak di permukiman padat penduduk.  Jalan yang hanya bisa dilalui oleh satu orang ini, membuat mereka harus jalan berbaris. Belum lagi tumpukan sampah dan kotoran ayam maupun kucing yang mengotori jalan, membuat mereka juga harus jeli melangkah.

Mereka terus berjalan ke pemukiman pemulung. Polusi udara disini tak karuan, bau sampah yang berserakan dan yang dibakar menyeruak menjadi satu. Mengganggu jalan napas.

Dian dan kawan-kawannya terkejut dan panik, ketika melihat sekelompok orang dewasa berpakaian ala preman nongkrong di depan mereka.

“Duh, gimana, nih? Punya nyali gak, lo?“ bisik Andi kepada Dian.

“Udah terlanjur ke sini,” kata Dian yang berusaha tetap tenang.

“Yang, lari, yok!” kata laki-laki muda.

Gak usah! Udah terlanjur kelihatan juga,” kata Dian lagi.

“Sst..Jangan berisik, ya! Bahaya lo nanti!” kata Irfan yang berjalan dengan tenang.

*******

Suasana sangat akrab. Para lelaki berkumpul di sudut kiri, para wanita berada pada sudut kanan. Masing-masing kelompok dilengkapi papan tulis berikut spidol dan penghapusnya. Ada yang bernyanyi, bersorak atau diam memerhatikan dengan serius.

Tak tampak kekejaman sama sekali, yang memaku nyawa mereka. Hanya cinta yang mengalir bagai selang infus. Memberi sambungan hidup di dalam nadi mereka. Cahaya mentari yang terik, tak mampu menghanguskan angan anak-anak di ruangan kecil ini.

Dian dan kawan-kawannya larut dalam suasana. Berfoto, bercanda, membuat mereka merasakan arti ‘keluarga’ dan ‘hidup yang sesungguhnya’.

“Kaget kan, gue bawa kesini?” tanya Irfan sambil tertawa. Dian dan teman-temannya mengernyitkan dahi.

“Ya, kaget lah. Ternyata bukan sarang penyamun, tapi sarang ilmu!”

“ Iya, kirain mas-mas ini penjahat. Ternyata malah pengajar!” ujar Andi.

“Mohon maaf, mas-mas ini asalnya dari mana? “ tanya Dian.

“Kami dari himpunan peduli anak jalanan. Ya, coba sedikit bantu yang kami bisa. Kita kenakan pakaian begini dalam rangka menyesuaikan keadaan disini. Sekalian biar gak diganggu preman,” kata salah seorang dari kelompok himpunan.

Ternyata ‘preman-preman’ yang nongkrong tadi, bukanlah orang jahat. Tetapi sekumpulan orang yang peduli anak jalanan, yang menyamar berbusana ala preman.

“Dahulu waktu rumah gue belum digusur, kampung pemulung gue pernah disinggahi mereka, para pemuda ini. Gue sempat diajar selama setahun. Namun setelah mereka pindah ke perkampungan ini sekarang, gue berjanji akan membayar utang ilmu yang didapat. Makanya, gue juga ikutan ngajar di sini, buat anak-anak kecil seperti gue yang gak mampu sekolah,”  jelas Irfan.

“Keluhan merupakan bagian dari hidup. Keluhan yang membuat hidup menjadi hidup, meski tidak baik jika dalam hidup selalu mengeluh. Mengeluh tak membenarkan diri untuk jadi lebih baik” ujar Irfan berfilsafat.

Semua mata menyorot ke arahnya. “Kok, tumben?” tanya Andi polos.

“Eh, gue cuma ngutip dari omongan mas-mas ini, nih!” kilahnya sambil tertawa. “Gue kan gak pernah sekolah, tapi belajar sama mas-mas ini!” sambung Irfan lagi.

*******

Dian memandang ke sekeliling, bangunan sederhana yang dindingnya terbuat dari triplek dan koran-koran bekas. Lantainya pun dari karpet anyaman, yang sudah bolong di sana-sini. Tak ada lampu penerangan. Hanya sebagian dinding dilubangi, untuk menyerap cahaya mentari.

Dian lalu memandang Irfan dengan serius. Masih tak menyangka, kalau Irfan seperti ini. Dian sadar, hidup tak melulu mengecam, menghina dan mengeluh. Tetapi jika tak ada itu, mungkin hidup kurang dinamis.

“Terus, Rani kemana, bang? Kok, gak ikut kita? Emang dia gak ikut belajar juga di sini?” tanya Dian.

“Rani belum mau belajar, masih trauma sama lingkungan ini. Kan tadi udah gue ceritain, kalo kampung gue pernah digusur. Emak juga begitu. Mudah-mudahan aja Rani bisa sekolah nanti, entah di umur berapa,” sahut Irfan dengan nada kecewa.

“Semangat, bang. Nggak ada yang gak mungkin, kalo kita berusaha yang terbaik. Untuk masalah Rani, mungkin dia butuh waktu untuk mengerti!” ujar Dian menghibur. Dan seperti biasa, Dian lantas menebarkan senyum manis.

Irfan benar-benar merasakan jatuh cinta. Saat matanya bertemu dengan gadis yang menatapnya, senyum Dian mampu membangkitkan asanya.

“Suatu hari nanti, gue pengen banget punya nasib sebaik elu. Bisa kuliah, punya tempat tinggal. Doain gue ya, gue lagi usaha nih!” harap Irfan setengah bergurau.

Mereka semua tertawa mendengar celotehan Irfan, namun tetap mengamini perkataannya.

Tak disangka, mentari mulai bergeser ke barat. Menyisakan tanda tanya kehidupan, tentang rahasia yang terasa di dalam jiwa. (Selesai)

From → Cerpen

One Comment
  1. menurut pendapat pribadi saya tulisan di atas kurang tepat kalau disebut cerpen. Karena tidak jelas apa yang ingin diceritakan. Namun daya tariknya ada yang luar biasa yaitu penulis pandai menceritakan pernik-pernik kegiatan harian manusia pemulung sehingga saya yang di rumah seolah-olah bisa mengikuti perjalanan panjang sang pemulung. Ada kekurangannya sedikit yaitu dalam menceritakan tokoh-tokohnya kurang gregetnya sehingga gambaran pribadi tokoh-pemulung kurang bisa saya tangkap. Misalnya bau badannya bila dibanding dengan bau badan mahasiswanya bisa bercerita banyak tentang greget kehidupab si pemulung… Walaupun itu bukan hal yang pokok namun sayang kalau dilewatkan.
    salam dari saya pldman Bintang Rina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: