Skip to content

Aku Mencintaimu, Ayah

by pada 4 November 2014
Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

Oleh Yayah Sugianto

Aku terjatuh, ia membangunkanku. Aku menangis, ia menenangkanku. Aku terlelah, ia menyemangatiku. Aku menyerah, ia memberiku motivasi untuk selalu bangkit dan mencoba lagi. Ialah sumber kasih, yang takkan pernah terkikis waktu.

Kepala rela ia jadikan kaki, kaki rela ia jadikan kepala. Kadang di tengah sunyinya malam, ia masih berada di luar rumah mencari nafkah. Sosok yang selalu menjadi inspirasi, saat aku mulai mencari makna tentang kasih. Sosok gagah, yang nyaris tak pernah kulihat ia meneteskan air mata di pipi. Ia adalah Ayahku tercinta.

Dahulu saat baru melihat bumi –meski tidak ingat kejadiannya– aku yakin, ia lah sosok yang mengumandangkan adzan di telinga, Ialah imam bagi keluargaku, teladan bagi anak-anaknya. Tangannya memang tak selembut kapas, tapi aku yakin ia menimangku selembut hati saat Ibu kelelahan. Ia juga yang mengganti pakaianku, saat Ibu terjaga dalam tidurnya. Ia lelaki yang rela membantu pasangannya.

Aku ingat kejadian semasih balita, ia ajarkan mengendarai sepeda. Ketika terjatuh, ia langsung membangunkanku. begitupun kala aku menangis, ia menenangkan. Dan waktu lelah menyergap, ia memberiku semangat, Bahkan setelah bosan dan menyerah, ia memberiku motivasi untuk selalu bangkit dan mencoba lagi.

Kenangan-kenangan tersebut terukir indah, layaknya memandang ombak di tepi pantai. Walau ombaknya tinggi, aku tetap merasa bahagia dan tenang karena aku tahu ombak itu ciptaan Ilahi. Layaknya sikap ayahku yang kadang keras namun tetap membahagiakan, karena berangkat dari kasih sayang kepada anaknya.

Kerja keras dan usahanya tak akan pernah tergantikan. Seperti peluh yang mengalir di tubuhnya, tak mampu ku hilangkan. Aku hanya bisa menyaksikan wajahnya yang kelelahan, saat ia pulang memberi salam dan pintu rumah yang kubukakan.

Saat memandang wajahnya yang mulai menua, aku tersadar. Superhero sesungguhnya, bukanlah spiderman yang mampu merayap di gedung-gedung tinggi. Bukan juga superman yang bisa terbang dengan kekuatan supernya, atau sosok superhero Marvel lainnya.

Ayahku, ialah sosok superhero sesungguhnya. Melawan kejahatan dan keburukan, demi menjaga keluarga tercinta. Memberi nafkah untuk keluarga dengan susah payah, tak pernah kenal kata lelah maupun menyerah. Aku yakin semua ia lakukan demi mengharap ridha Allah SWT.

Kasih sayang lembut yang ia berikan, takkan pernah habis dimakan waktu. Selalu membekas di ruang kalbu. Hati takkan pernah menipu, ia menjadi penyebab aku menginjakkan kaki di muka bumi. Yakin kehadiranku di dunia memiliki tujuan, yang salah satunya untuk membahagiakannya dengan segala hal yang kupunya.

Doa merupakan bentuk kasih sayang dan caraku membalas segala yang telah ia berikan. Kuangkat kedua tanganku di setiap waktu shalat, memohon kepada Allah SWT atas segala harapan dan cita tentangnya. Agar selalu dijaga kesehatan dan kekuatan iman serta Islam dan dijauhkan dari segala bahaya dan fitnah.

Selain doa, aku hanya bisa memberikan senyum, canda tulus serta berusaha menjadi anak yang lebih baik untuknya. Aku yakin setidaknya ia akan paham, kalau aku juga sangat mencintainya. Meski cintaku takkan pernah mampu menandinginya, cinta sepanjang masa dan takkan pernah kadaluarsa.

Ayah, engkaulah pahlawan sesungguhnya. Engkau sinar yang mampu menerangi, saat diriku redup. Terima kasih atas kasih dan cinta yang takkan pernah terhenti. Aku mencintaimu layaknya udara murni: meski doaku tak terlihat, aku akan selalu ada untukmu. Aku sangat mencintaimu, Ayah.

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat pada 31 Oktober 2014 di Dakwatuna.com (http://www.dakwatuna.com/2014/10/31/59259/aku-mencintaimu-ayah/)

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: