Skip to content

Pasar Parung, Riwayatnya Kini

by pada 11 November 2014
(Foto: AW)

(Foto: AW)

Oleh Ambar Widyaningsih

Gemuruh suara mesin penggiling bakso bergeming di telinga, membuat pasar semakin bising. Beginilah cara Pasar Parung menyambut kedatanganku, pagi itu.

Beragam profesi hadir di pasar ini. Mulai dari pedagang, hingga tukang parkir. Tua, muda, semua bercampur baur jadi satu. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, hingga tak ada waktu untuk menoleh ke sekitar. Tanpa sadar, suara mereka membuat pasar menjadi sangat riuh.

Ya, begitulah Pasar Parung. Pasar yang terletak di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini seakan menjadi rumah kedua serta tumpuan hidup bagi para pedagang, yang menjajakan lapaknya sejak pukul sebelas malam.

Terlihat jelas sebuah gedung bercat hijau muda tepat di samping pasar. Kutengok ke sana dan kulihat hanya beberapa kios yang buka di lantai bawahnya. Sepi sekali, seperti tak berpenghuni. Sangat kontras dengan bagian luarnya, yang tampak ramai dengan aktivitas jual beli.

Kenyataannya, gedung tanpa nama itu merupakan tempat para pedagang Pasar Parung seharusnya direlokasi. Sudah menjadi rahasia umum, pasar tradisional ini akan dialihfungsikan menjadi pasar modern. Namun, sepertinya itu hanya angan belaka.

Butuh waktu delapan tahun untuk membangun gedung, yang akhirnya hanya menjadi harapan hampa. Selama itu juga para pedagang menunggu direlokasi. Ketika sudah siap pakai, mereka malah menolaknya. Harga sewa yang mahal serta minimnya sosialisasi Pemerintah Daerah, menjadi alasan mereka menolak direlokasi sampai saat ini.

Padahal, sebagian besar lahan di Pasar Parung sudah tergusur. Bahkan, penggusuran tersebut semakin lama semakin melebar. Dulu hanya bagian samping pasar, namun sekarang terlihat jelas sudah sampai bagian belakangnya. Tetap saja para pedagang itu enggan pindah.

Semua tumpah ruah berdagang di luar gedung hingga bahu jalan, sehingga membuat arus lalu lintas selalu padat merayap setiap harinya. Tidak adanya terminal pemberhentian membuat seluruh angkutan umum yang melewati wilayah Parung membludak di pasar. Maka, jangan heran, jika bertandang ke pasar ini, Anda akan terjebak macet.

Namun para pedagang tak pernah lengah menelusuri tempat lain –selain gedung itu– yang bisa dijadikan lapak barunya, walau harus bersempit-sempitan. Ya, pedagang-pedagang Pasar Parung lebih memilih cara itu daripada merogoh koceknya dalam-dalam, hanya untuk sebuah kios yang tak jelas arah tujuannya.

“Harusnya semua lahan digusur, biar gedungnya bisa ditempatin. Mereka pengennya gratis. Kalau pun bayar, pengennya yang murah,” ungkap Siti, salah satu pengunjung Pasar Parung. Siti juga menambahkan, Pasar Parung lebih baik dijadikan pasar modern. Jika hujan tidak kehujanan, dan jika panas tidak kepanasan.

Kini aku menjadi satu dari sekian banyak pengunjung Pasar Parung, yang hanya bisa menonton –bak sinetron– stripping gedung yang catnya sudah mulai luntur. Aku pun tak sabar menunggu episode selanjutnya.

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat pada 06 November 2014 di KoranOpini.com (http://koranopini.com/2014-03-03-12-54-50/item/2642-pasar-parung-riwayatnya-kini)

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: