Skip to content

Ketika Malaikat Tak Bersayap pun Pergi

by pada 13 November 2014
Ilustrasi. (Foto: rawmavy.deviantart.com)

Ilustrasi. (Foto: rawmavy.deviantart.com)

Oleh Nurul Fajriah

Waktu begitu cepat berlalu. Ia tak pernah rela berhenti, walau sejenak. Waktu tak pernah peduli, pada perasaan setiap insan, yang memintanya untuk kembali

“Jika dihadapkan padanya antara hidup dan kematian, pastilah ia akan memilih mati agar kita tetap hidup.” Seringkali aku mendengar kalimat itu keluar dari mulut orang-orang. Bagiku tidak terlalu berlebihan, rasanya kalimat tersebut menggambarkan betapa besar kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Seorang ibu adalah malaikat tanpa sayap bagi anak-anaknya. Ia yang berjuang dengan gigih, membawa kita kemana pun selama sembilan bulan. Ia yang berjuang antara hidup dan mati, saat melahirkan kita.

Aku termenung menatap gemericik hujan dari jendela kamarku. Lantunan lagu ‘Bunda’ yang keluar dari speaker laptop terus terdengar, menambah syahdu nyanyian hujan di sore ini. Aku percaya, setiap tetes air langit yang turun adalah RahmatNya. Aku juga meyakini, Sang Khalik selalu memberi jalan bagi hamba yang memang mencariNya.

Dalam heningnya suasana kamar, aku teringat perjalanan beberapa tahun yang lalu. Tidak mudah untuk melewati semuanya. Sendiri berteman sepi, tiada belaian lembut malaikat tanpa sayap. Sosok pahlawan dunia akhirat, yang selalu siap berkorban untuk para buah hatinya. Ya, dia lah Bunda.

Seketika anganku mengembara, menuju dimensi 15 tahun yang lalu.

“Assalamualaikum, Ibuu..” teriakku dari depan rumah.

“Wa’alaikum Salam, eh, anak Ibu sudah pulang. Ayo masuk, ganti baju terus makan, ya.. Ibu sudah masak, semua terhidang di meja makan,” sambut Ibu dengan lembut.

“Siap komandan, jawabku, dengan nada mengikuti prajurit-prajurit yang menerima titah dari atasannya.

Ibu. sosok malaikat tanpa sayap, yang selalu bangun tidur lebih awal dari seisi rumah lainnya. Ia menjadi guru terbaik, yang tak pernah digaji oleh anak-anaknya.

Menjadi pelayan, yang sering terlupa dihargai oleh seisi rumah. Pembantu yang tak pernah dibayar, baby sitter yang paling setia menemani, juga menjadi dokter yang telaten merawat keluarganya.

Sesekali ia menjelma menjadi harimau galak, berlari mengejar dan menghalau musuh, agar tak mengganggu anak-anaknya. Dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari.

Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya, dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau ketika si nenek sihir berpura-pura terjatuh dan mati, sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik.

Sungguh semua itu terlalu berharga untuk dilalui. Rasa bahagia yang selalu membuncah, ketika sedang bersamanya. Bahkan sang waktu selalu terasa lebih cepat berjalan, membuat kami tak punya banyak kesempatan melakukan hal bahagia lainnya.

Namun semua bahagiaku berubah, sejak beberapa tahun silam beliau pergi. Pergi jauh meretas ruang dan waktu, menembus dimensi lain. Meninggalkan aku dan keluargaku. Detik itu juga akhirnya aku mulai memahami, ksatria tertangguh pun dapat terjatuh. Bahkan, hingga berdarah-darah.

Sudah beberapa bulan Ibu terbaring lemah di tempat tidur. Dalam kondisi sakit, Ibu tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi anak-anaknya. Walau tidak semua aktivitas seperti biasa, dapat ia lakukan. Hanya beberapa, itu pun dengan susah payah.

Saat senja, tiba baginya. Ketika keriput di tangan dan wajah, mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, sebentar lagi masanya akan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, “Jadilah kalian anak-anak cerdas, yang membanggakan. Ibu akan melihat kalian dari surgaNya. Bila meninggal, ibu ingin sekali dimandikan sambil dipangku kalian.”

Entah mengapa, kalimat Ibu tidak seperti biasanya. Terdengar magis di telingaku. Meski saat itu usiaku baru 7 tahun, tapi bisa merasakan kalimat yang begitu merasuk ke dalam hati. Terngiang-ngiang tak mau pergi, terus menghantui pikiran ini. Kami mengerti, itu adalah isyarat dari Ibu karena disayang Allah.

Kami bagai anak ayam kehilangan induk, ketika Ibu meninggal. Tiada lagi kudengar suara lembut, yang menjadi alarm tidur kami. Tiada lagi kulihat senyum hangat, yang menyapa kami di pagi hari.

Tak pernah lagi kudapati sarapan buatannya. Tak pernah lagi kurasakan usap halus tangannya. Tak pernah lagi kutemukan sebelum befrangkat dan sepulang sekolah, yang memberi semangat dan menghapus lelah.

Tidak banyak kenangan yang kulalui dengan Ibu. Semua yang terlewatkan bersama beliau menjadi sangat berharga, suka maupun duka tak akan pernah kulupa. Entah sampai kapan, kusimpan semua tentangnya. Kukunci dengan sangat rapi, di kedalaman ruang hati. Yang tak akan kuberi, sekalipun pada anak Menteri.

Catatan: Tulisan ini sudah dimuat pada 06 November 2014 di Dakwatuna.com (http://www.dakwatuna.com/2014/11/06/59564/ketika-malaikat-tak-bersayap-pun-terbang-pergi/#ixzz3Igf7nkdC)
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: