Skip to content

Cerpen: Gugur Bunga (1)

by pada 15 November 2014
(regional.kompas.com)

(regional.kompas.com)

Oleh Nur Rahma Az-Zahra

“Perempuan itu benar-benar tak pantas menyandang mahkota kebanggaan kaumnya. Dia tidak pantas disebut Mama!”

Sungguh, aku tidak pernah meminta Tuhan untuk melahirkan aku dari rahim seorang seperti dia. Tuhan, inikah kutukan bagiku? Apa salahku, sehingga harus menerima takdir seperti ini. Hidup dalam bayang-bayang kelam. Hidup tanpa makna yang hakiki. Hidup tanpa kejelasan arah dan masa depan.

Pagi Kelu Menoreh Luka

Seperti biasa, pagi adalah awal kehangatan bagi aku dan Mama. Kami selalu memulai hari di dalam sebuah bangunan mungil nan nyaman. Rumah kami adalah satu-satunya harta berharga selepas Papa pergi.

Sudah 7 tahun kami mengecap asam manis kehidupan ini, hanya berdua dalam rumah kenangan. Papa meninggalkan kami selama-lamanya, menghadap Tuhan untuk melanjutkan perjalanan hidup yang lebih hakiki.

Lingkaran meja makan berdiameter 1.5 meter, dipasangkan apik dengan tiga buah kursi kayu jati. Ah, aku ingat, meja makan ini Papaku sendiri yang membuat. Meja dengan ukiran bunga di sudut dan pada kakinya, terlihat indah. Karena selepasnya mengukir, ia lapisi meja dengan cat berwarna putih lalu di-vernish.

Aku memang menyukai bunga dan menjadi bunga bagi kedua orangtuaku. Namaku Zahrantiara. Zahra adalah bunga dan Tiara adalah mutiara, benda paling mahal dan berharga. Dengan kata lain, akulah bunga yang paling berharga bagi kedua orangtuaku.

Begitu fanatiknya aku dengan bunga, sehingga Mama kerap merajut bunga-bunga pada setiap pakaianku. Mulai dari baju, rok, hingga kaos kaki, yang tak luput dari tanda bunga oleh Mama.

“…Karena anak Mama dan Papa adalah bunga yang paling berharga di dunia ini, maka Mama akan memberikan tanda bunga padamu. Mungkin kalau nanti kamu hilang atau diculik, kami akan mudah mengenali ciri-cirimu, Sayang.”

Tawa orangtuaku renyah di lingkaran meja makan itu. Mama dan Papa memang kerap bercanda di meja ini. Aku menanggapi guyonan tadi, dengan wajah ditekuk dan menggerutu. Bagaimana bisa, Mama bilang aku hilang atau diculik. Tidak! Aku akan tetap bersama Mama dan Papa, apapun yang terjadi.

Mataku menerawang ke luar jendela, hampa dan kosong. Bukan karena tidak ada benda yang dapat dilihat, namun karena pikiranku melayang akan kenangan indah pada lingkaran buatan Papa ini. Kurasakan hangat mengalir di pipi ketika mengenang kebersamaan kami.

Aku rindu kebahagiaan sederhana diantara menumpuknya kesibukan Papa dan Mama. Sangat benar adanya teori psikologi mengenai recognize [1]. Apapun benda kulihat yang terkait dengan Papa, sel-sel otakku segera memunculkan bayangan itu kembali. Kejadian serta kenangan bersama Papa.

“Sayang, kenapa melamun? Kamu harus segera ke Kampus, bukan? Segera habiskan sarapanmu.”

Mama meruntuhkan seluruh istana ingatan tentang Papa, yang telah aku bangun sejak duduk di meja makan. Segera kuhabiskan sarapan dan hendak bergegas pergi ke Kampus.

Tetapi dii tengah ramah tamah pagi ini, aku lihat pada ponsel Mama sebuah nama memanggil. Tak jelas nama siapa yang muncul pada layar. Mungkin rekan kerja atau klien Mama. Namun, tidak seperti biasa sikap Mama ketika menerima panggilan.

Gelagatnya mengisyaratkan kegugupan. Aku hapal betul tabiat Mama, ia selalu menggigit bibir bawah dan mengepalkan tangan kanan ketika gugup. Ada apa dengan Mama? Mengapa ia begitu terlihat gugup.

Kulihat Mama beranjak dari kursi dan menuju ke belakang dapur. Dalam keluarga kami merupakan hal biasa untuk meninggalkan meja makan, ketika hendak mengangkat telepon. Karena meja makan hanya diisi oleh aku dan keluarga, tiada urusan untuk orang lain.

Merasa keganjalan terjadi pada Mama, aku tak tahan untuk ikut beranjak dan menguping pembicaraan mereka. Mencampuri urusan orang lain merupakan hal yang tidak biasa bagiku, namun entah mengapa kali ini berbeda.

Aku merasa ada yang disembunyikan olehnya. Terlihat pula bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Hal ini membuatku tidak nyaman, melihatnya bertingkah gugup di pagi hari. Pagi hangat yang selalu Mama bilang sebagai awal hari, agar kita senantiasa beruntung dan berada dalam lindunganNya.

“Aku kan sudah bilang, jangan telepon sebelum aku kirim pesan. Kalau anakku tahu, maka tiada maaf bagimu, Pih!” Klik. Mama menutup teleponnya geram.

Pih?! Batinku tak tenang. Siapa orang yang Mama sebut ‘Pih’ itu? Apa yang dia khawatirkan dengan percakapan yang tidak boleh aku dengar? Aku bergegas kembali menuju meja makan. Mencuri dengar dalam ketergesaan, membuat jantungku seketika berdegup begitu cepat bak tabuhan genderang perang.

Gugup tingkahku terbaca Mama, yang seakan tahu aku hendak melontarkan pertanyaan. Bahasa tubuhku tidak dapat dipungkiri, kalau aku benar-benar gugup dan menyimpan tanda tanya besar dalam kepala.

“Kok belum dihabiskan sarapannya? Ah, iya, maaf. Tadi Mama memotong acara sarapan kita. Telepon itu dari atasan Mama, sepertinya ada pekerjaan penting.”

“Pih,” jawabku singkat dengan wajah pucat pasi dan datar.

“Sa..yang.. kamu dengar?” Mama benar-benar terkejut bukan kepalang. Wajahnya semakin mengguratkan kekacauan pikirannya.

“Siapa Ma? Aku hanya perlu jawaban sebenarnya dari Mama. Aku bukan lagi Zahra yang berumur 7 tahun. Aku sudah menjadi Zahra yang dewasa.”

“Dia benar atasan Mama. Papih adalah panggilan kami untuk dia. Ya, kami bekerja untuk lintah penghisap darah.”

Kini giliran mata Mama yang terbelalak, menatap ke luar jendela dengan hampa dan kosong. Apa yang sedang ia pikirkan? Batinku hanya bisa menerawang, tatkala terjadi kesenyapan di atas meja makan ini. Sebenarnya apa pekerjaan Mama dan rekan-rekannya? Siapakah si ‘Lintah penghisap darah’ itu? Apakah Mama sedang dalam keadaan sulit? Ah.

“Tiga tahun selepas Papamu pergi, Mama mulai terjebak pada lembah kelam nan mencekam ini. Kami menjual kenikmatan dunia, demi mengais Dollar kepada wisatawan asing. Berawal dari pekerjaan Mama menjadi pelayan Bar, di hotel milik orang Prancis itu.” Nada tegas dan airmata terlihat jelas. Mama terlihat tegar menjelaskan semuanya.

Tuhan. Apakah duniaku akan segera menemukan kiamatnya? Apa yang sudah merasuki jiwa perempuan paling kubanggakan itu? Mengapa jalan nista ia tapaki begitu lamanya? Rapat sekali ia menyimpan bangkai busuk dalam tubuhnya.

Aku begitu menikmati hidup ini, dengan hasil jerih payah Mama. Namun tidak pernah sekalipun aku mengetahui, dari mana kenikmatan kami berasal. Tuhan, hancurkah duniaku sekarang? Mataku mulai kunang-kunang. Napasku sesak, bak ribuan ton kapuk menyumpal dada.

Tanpa menimpali pengakuan Mama tadi, aku segera bangkit dari kursiku. Rasanya berat sekali. Aku nyaris rubuh dibuatnya. Seperti ada rasa memalukan dan jijik, yang menyelinap masuk ke dalam relungku.

Bagaimana bisa, Mama yang aku jadikan teladan, malah melakukan perbuatan menyedihkan. Apakah rasa cinta dan setia Mama terhadap Almarhum Papa, telah sirna? Secepat itukah cinta hilang dari hati Mama? Seperti air terjun yang terus mengalir deras, menghanyutkan segala hal dalam pusarannya. Aku kecewa.

Sungguh kecewa ini melukai dan menyimpan nanah, menganga di sana. Tuhan, kumohon genggam jemariku! (Bersambung)

______________

[1] Mengingat kembali kejadian yang telah lampau melalui suatu petunjuk yang dihadapkan pada organisme

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: