Skip to content

Gubuk Merah

by pada 1 Desember 2014
(bajumuslimmu.com)

(bajumuslimmu.com)

Oleh Sherin Alisya Naziefa

Siang semakin terik, peluh membasahi wajah. Ia berjalan dengan semangat, menopang 2 buah kotak kecil yang menggantung pada batang bambu di pundaknya. Ketika lelah, sesekali ia pindahkan posisi batang bambu ke pundak satunya. Sesekali pula Ia berhenti di sebuah tempat yang rindang.

Jarang sekali orang membutuhkan jasanya, karena kebanyakan orang memilih membeli yang baru. Penghasilan minim, tidak mematahkan semangatnya untuk tetap bekerja. Ya, dia seorang tukang sol sepatu. Umur yang semakin uzur, tak membuatnya malas untuk mencari sesuap nasi. Wajahnya semakin menua, rambut mulai memutih, dan gigi mulai tanggal.

Dia tinggal sendiri, di sebuah gubuk yang membuatnya selalu merasa aman. Perabotan yang seadanya, juga tak membuatnya mengeluh.

Sebenarnya, pria ini memiliki anak. Namun akibat krisis ekonomi, pria ini dan almarhumah istrinya menitipkan di panti asuhan. Hingga saat ini, dia tak pernah tahu dimana anaknya berada. Walau begitu, tak pernah terbesit keinginan untuk mencari sang anak. Dia yakin anaknya bahagia.

*******

Seiring bertambahnya usia, dia pun merasakan sakit yang teramat perih. Batuk yang dideritanya, sangat mengganggu. Tak satu pun sanak saudara menengok ke gubuk miliknya.

Kondisi tubuhnya semakin lemah, dia hanya bisa terbaring. Sekadar membeli obat pun, ia tak bisa. Dia hanya mampu istirahat yang cukup, sampai tubuhnya benar-benar pulih. Tetangganya tak pernah tahu kalau dia memiliki penyakit. Selama ini yang tampak, hanyalah semangatnya dalam bekerja memenuhi kebutuhan hidup.

Sampai suatu saat, tak terdengar lagi suara batuk. Tetangga pun merasa ada yang aneh dari gubuk tersebut. Banyak sekali tetangga yang mondar-mandir untuk memantau keadaan pria tua itu dari luar, namun gubuk sepi senyap. Tak seperti biasanya, yang setiap sore terdengar bunyi air yang sudah masak.

Akhirnya, salah satu tetangganya pun memberanikan diri masuk ke dalam gubuk. Dilihatnya pria itu terlelap di atas ranjang kayunya, dengan tumpahan darah dari mulutnya yang tersenyum dan mata tertutup rapat. Denyut nadinya sudah tak berdetak. Sontak tetangga-tetangganya mengucap Subhanallah, karena ia tetap tersenyum di akhir hayatnya.

Sekarang gubuk sudah tak berpenghuni, tetapi barang-barang milik tukang sol sepatu tersebut masih tertata rapi di dalamnya. Gubuk itu kini dikenal sebagai Gubuk Merah, akibat tumpahan darah yang ditemukan bersama dirinya.

*******

Tak sedikit di antara kita yang dengan mudah melupakan jasa seseorang. Contohnya, pria tersebut yang rela berjalan jauh untuk menawarkan jasa sol sepatu dengan peralatan sederhana.

Kadang kita juga sering lupa, betapa banyak orang yang berbaik hati menolong ketika dibutuhkan. Sulit sekali kita menghargai pengorbanan seseorang.

Jangan jadi manusia yang egois, mau dihargai tapi tak pernah menghargai. Kadang kita tak ingin adanya penyesalan, tak ingin ada akhir, dan tak ingin ada awal pula. Tapi harus diakui kalau setiap awal pasti akan berakhir, dan di setiap perbuatan yang salah pasti ada penyesalan.

Pada akhirnya, manusia akan kembali kepadaNya, sang Pencipta alam semesta ini. Banyak cara Tuhan meminta kita kembali. Jadi, jangan sampai Tuhan memintamu kembali dengan cara yang salah dan tidak tepat. Lakukan lah kebaikan, yang sekiranya bermanfaat bagi banyak orang.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: