Skip to content

Cerpen: Ruang Dalam Dunia yang Berbeda

by pada 6 Desember 2014

Oleh: Nurul Nareswari

Aku berada di sebelah mereka, tersenyum pada mereka, menyapa mereka, bicara pada mereka. Namun, mereka tidak memedulikan aku. Tidak mengakui bahwa aku berada di dunia ini bersama mereka. Aku orang asing.

2 JUNI 1998

Ayunan itu bergerak maju mundur, anak kecil berkuncir dua duduk di atasnya. Berayun dengan wajah ceria. Suasana sore beserta semilir angin menerpa lembut wajahnya. Membuatnya betah berayun lebih lama lagi. Ia berayun seperti menyatu dengan angin. Tak ada rasa takut akan terjatuh. Hanya asyik bermain. Namanya juga anak-anak. Tak lama kemudian, suara di seberang taman memecah kesunyian. Perempuan gendut dan pendek itu menggandeng anak itu untuk pulang.

Aku duduk di atas ayunan kosong tempat anak tadi berayun. Anak kecil itu menoleh ke arahku, memandangku selama beberapa detik, kemudian semburat senyum terpancar dari wajahnya. Ia tersenyum padaku! Dia tidak mengasingkan aku. Namun, aku tetap orang asing baginya.

2 JUNI 2003

Terdengar suara keributan dari sebuah rumah di ujung gang. Rumah besar bercat putih yang menjadi idaman semua orang. Namun, apakah keluarga yang tinggal di dalamnya memiliki kehidupan yang sama indahnya? Sayangnya tidak. Sepasang suami istri sedang bertengkar.

Sang istri terus berteriak. Membentak tidak jelas karena suaranya yang bergetar seiring dengan bulir air mata yang jatuh di pipinya. Ia berkali-kali menyebut nama seorang perempuan yang merupakan penyebab utama pertengkaran mereka. Sang suami terus menentang. Namun, istrinya mempunyai bukti yang cukup kuat. Ia telah memergoki sang suami dengan perempuan lain. Pria itu pun kalah telak dan sekarang ia mulai mengangkat kaki dari rumah bercat putih itu.

Pada saat yang sama, di rumah yang sama, aku melihat seorang anak kecil berpiyama berdiri di ambang pintu kamar. Tiba-tiba saja badanku tergerak untuk menghampirinya. Aku berdiri di sampingnya memandang lurus ke arah yang sama dengan pandangan anak itu. Aku merasa seolah berada dalam posisinya. Tanpa disadari, setetes air mata pun terbit di sudut mataku. Aku menangis, namun anak itu tidak menyadari aku menangis bersamanya. Aku memang orang asing baginya.

2 JUNI 2004

Sepasang suami istri duduk terpisah dalam suatu ruangan. Di hadapan kedua orang itu terdapat beberapa orang memakai jas hitam duduk di belakang meja, sedangkan di belakang suami-istri itu terdapat banyak orang dengan raut wajah serius. Di antara orang-orang tadi aku melihat seorang anak kecil duduk bersebelahan dengan pengasuhnya.

Terdengar suara ketukan palu menghantam keras meja berbarengan dengan suara isak tangis seorang wanita. Aku menghampiri wanita itu, dan memegang pundaknya, mencoba menenangkan. Namun,  ia malah membenamkan wajah di kedua telapak tangannya. Tetap menangis. Aku orang asing baginya.

2 JUNI 2008

Seorang gadis berparas cantik dengan bibir merah alami tanpa sapuan lipstick duduk di pojok kelas. Gadis itu mengenakan seragam putih biru. Wajahnya terlihat murung sambil memandangi sekelompok teman ceweknya yang sedang ribut membahas seorang cowok bernama Ardha, kemudian ia memandangi cowok di balik jendela. Tinggi dengan rambut pirang. Sosok yang cukup keren untuk dikagumi, tapi kurasa dia bukan cowok yang baik. Sosok seperti itu, mudah saja mempermainkan wanita. Cowok itu Ardha. Gadis di pojok kelas itu menghela napas panjang dan menunduk.

“Selamat ulang tahun diriku,”  bisiknya.

“Oh, kau ulang tahun hari ini?” lagi-lagi tidak dihiraukan. Aku memang (untuk kesekian kalinya) orang asing baginya.

2 JUNI 2011

Sepucuk surat tergeletak di atas meja kayu di dalam kelas. Kubuka surat tanpa amplop itu. Mataku mulai menyusuri kata per kata dalam surat itu.

Aku memang bukan sesuatu yang penting bagi dunia ini, bagi kehidupan yang terlalu indah untuk kunikmati, dan bagi orang-orang yang selalu mengasingkan aku. Aku memang tak berguna bagi siapapun. Namun, aku tidak surut dalam bermimpi untuk menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. Akan tiba saatnya, tubuhku terbaring di atas ranjang berkain putih dengan alat pendeteksi kehidupan yang dalam layarnya terbentuk garis lurus di sebuah rumah sakit.

Jika hari itu tiba, jangan sekali-kali mencoba untuk menjejalkan hidup palsu ke dalam tubuhku dengan sebuah mesin. Tidak perlu boros menghabiskan berbotol-botol formalin untuk mengawetkanku dan mengabadikanku di ruangan kosong.  Angkatlah tubuhku dari ranjang itu dan jadikanlah tubuhku berguna bagi orang lain.

Berikan penglihatanku pada orang yang belum pernah melihat embun di pagi hari, merahnya matahari senja, kerlip bintang di malam hari, atau bahkan belum pernah melihat cinta kasih di sepasang mata ibunya.

Berikan jangtungku, pada orang-orang yang jantungnya sendiri membuat hari-harinya penuh penderitaan. Berikan ginjalku, pada bayi kembar siam yang setelah dipisahkan hanya mendapat masing-masing satu ginjal. Berikan darahku, pada orang yang tanpa ia inginkan mengucurkan banyak darah hingga darahnya sendiri habis.

Ambil ototku, untuk anak yang terlahir dengan sebuah otot yang hilang dari kakinya sehingga ia harus selalu memakai rangka besi. Ambil tulang dan sarafku, untuk membuat seorang anak lumpuh dapat berlari mengejar impiannya.

Jelajahi setiap inci dalam tubuhku untuk membantu mereka. Benamkanlah tubuh kosongku ke dalam peti. Namun jangan sebut itu peti kematian, melainkan peti kehidupan karena matiku membantu orang lain untuk hidup. Kuburkanlah peti itu bersama kelemahan dan keburukanku. Berikan amalku pada orang tua yang kusayang. Serahkan dosaku pada setan, dan kembalikan jiwaku pada Tuhan.”

2 JUNI 2012

Suara decitan ban mobil memekakkan telinga. Seorang remaja SMA terbaring di jalan dengan wajah berlumuran darah. Orang-orang berlari menghampiri tubuh itu. Suara sirene di kejauhan menyingkirkan mobil-mobil yang menghalangi jalannya. Sekelompok orang berseragam turun dari mobil, bergegas mengangkat tubuh yang tergolek lemas itu. Suara sirene kembali membelah jalan.

-di rumah sakit-

Remaja tadi berbaring di tempat tidur dengan selang oksigen di hidungnya dan infus di pergelangan tangan kirinya. Di sebelahnya duduk seorang ibu berkerudung, menangis. Aku mendekati tubuh yang terbaring lemah itu.

Dan.. sungguh sesuatu yang tak bisa kupercaya! Bagaimana bisa? Kuperhatikan wajahnya. Sosok itu sangat mirip denganku. Kudengar suara lirih dari ibu berkerudung di sebelahnya. Aku menoleh padanya. Wajah itu! Dia ibuku! memanggil namaku.

Terdengar suara lain. Suara dari alat pendeteksi jantung di sebelah ranjang. Garis zig-zag itu berubah menjadi garis lurus. Sekian detik kemudian muncul seorang Dokter dan Suster dari balik pintu. Dan ada ayahku juga! Kemudian datanglah Wali Kelasku menyerahkan sebuah surat, lalu semuanya buram.Yang terlihat hanyalah sebuah pintu dengan ukiran yang indah. Aku memasuki ruangan di balik pintu itu. Ruang menuju dunia yang berbeda.

Epilog:

2 JUNI 1998, umurku tepat 3 tahun. Ibuku sibuk bekerja begitu pula dengan ayah. Hanya ada pengasuhku di rumah. Aku merayakan hari ulang tahunku sendirian dia atas ayunan.

2 JUNI 2003, umurku genap 8 tahun. Di hari ulang tahunku, ayahku pergi dari rumah dan tak akan kembali lagi.

2 JUNI 2004, umurku 9 tahun. Aku merayakan hari ulang tahunku di ruang sidang sambil menyaksikan ayah dan ibuku bercerai.

2 JUNI 2007. 13 tahun, aku merayakan hari ulang tahunku sendirian di pojok kelas. Tak ada yang tahu dan tak ada yang peduli.

2 JUNI 2011. 16 tahun, aku mulai menyadari untuk apa aku hidup? Kehidupan yang sia-sia. Lebih baik mati, agar orang lain bisa hidup.

2 JUNI 2012. 17 tahun. Inilah yang disebut sweet 17th. Bagiku masa sweet 17th ini adalah masa aku mencapai impianku untuk menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain.

Saat itu aku berjalan dan terus berjalan menyusuri waktu. Hingga kusadar, aku berkelana tanpa tubuh. Aku merayakan hari ulang tahun, sekaligus kematianku.

From → Cerpen

4 Komentar
  1. Kalau aku tidak suka tulisan di atas bukan karena tulisannya jelek, sama sekali tidak. Itu tulisan yang bagus runtut dan enak di baca. Aku tidak suka karena tulisan itu bercerita tentang kesedihan. hanya itu. salam kenal dari oldman Bintang Rina.

    • azhmyfm permalink

      Duh, Bapak Bintang Rina..
      Ini bahasa pujian yang membungakan hati. Saya yakin, penulis maupun mahasiswa/i para pengelola situs ini akan bangga dan terpacu semangatnya untuk terus menulis dan menulis..
      Secara kebetulan, meski Bapak sudah sering komentar, tapi komentar ini adalah yang pertama pada Generasi ketiga pengelola media Xpressi Jurnal.
      Terima kasih sangat, salam kenal kembali..

    • Saya tidak suka komentar bapak Bintang Rina karena telah membuat saya terbang atas pujiannya. Hehehe. Terima kasih Pak. Jadi semangat nulis lagi :)

      • Di tambang emas tidak semua emas. Yang banyak itu koral. tetapi kalau kita berhenti menggali maka emas itu tak pernah ada. Makin rajin kita menggali makin besar kemungkinan emas itu kita miliki.
        Menulis dan menulislah terus maka suatu saat anda akan terkejut karena orang lain menyebut anda penulis yang bermutu. Kapan itu jangan dijadikan target. Yang penting setiap hari anda harus menulis walaupun nantinya di hapus.
        salam dan selamat berlatih dari saya oldman Bintang Rina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: