Skip to content

Jangan Jalan di Tempat!

by pada 11 Desember 2014

Oleh Ginta Febryana Ramadhani*)

Setelah publik menanti dan bertanya siapa yang masuk ke dalam kabinet Pemerintahan Presiden Jokowi, akhirnya terjawab. Seminggu sudah masyarakat dibuat menunggu susunan kabinet yang tak kunjung diumumkan. Berbagai media massa dan sejumlah pihak mencoba menebak daftar nama calon menteri yang menuai kontroversi. Ada yang berspekulasi Kabinet Jokowi-JK bersifat transaksional sehingga jatah parpol berkurang, kabinet Jokowi terganjal KPK atau lingkaran koalisi, dan lain sebagainya.

Tepat tanggal 26 Oktober 2014 pukul 16.00 WIB, Presiden Jokowi menepati janjinya setelah satu kali ia membatalkan pengumuman menteri kabinetnya. Daftar menteri yang akan membantu selama lima tahun kedepan sebagian besar publik salah menebak. Ada beberapa calon menteri yang digadang-gadang akan muncul namun ternyata tidak masuk dalam kabinet. Namun, disitulah menariknya bagaimana media massa secara serta-merta beropini dan rakyat pun jangan sampai secara mentah menelan informasi yang masih bersifat abu-abu.

Kabinet yang telah tersusun diberi nama Kabinet Kerja. Cukup menarik jika menilik nama Kabinet tersebut. Menekankan kata “kerja” seperti saat paska dilantik, beliau mengatakan saatnya kerja, kerja, kerja untuk bangsa. Inilah saatnya Jokowi bersama para menterinya untuk merealisasikan program kerja mereka dan stop euforia berlebihan.

Berbagai tugas sudah menanti didepan mata. Janji-janji semasa kampanye harus segera diwujudkan. Perbaikan birokrasi sangat ditunggu oleh rakyat. Pemerintahan Jokowi harus dapat menjalin kerjasama yg baik dengan Koalisi Merah Putih (KMP) sebagai koalisi oposisi. Kondisi politik yang sempat panas sedikit mencair itu diperlukan. Menunjukan kepada masyarakat bahwa kehadiran Koalisi Merah Putih (KMP) menjadi penyeimbang pemerintahan bukan musuh. Perbedaan dalam demokrasi sangat wajar. Dinamika politik seringkali berubah dan disinilah peran media massa dalam menetralkan situasi diperlukan.

Mengambil contoh dari sisi ekonomi, pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan Subsidi BBM perlu menjadi poin-poin utama. Industri pangan dan petumbuhan ekonomi dalam negeri harus mengalami penguatan. Sejalan dengan program Revolusi Mental, masyarakat dituntut untuk bangga akan produk Indonesia dalam persaingan produk global. Subsidi BBM bagai hidup segan mati tak mau. Bila tidak segera dilakukan pengurangan subsidi, APBN pun terancam anggarannya. Bila harga BBM naik, tentu saja memberatkan rakyat dan semua komoditas pangan ikut naik. Sedangkan, disisi pendidikan penerapan wajib belajar 12 tahun harus bersifat nasional. Mencerdaskan kehidupan bangsa sudah menjadi tujuan bangsa Indonesia.

Tindakan Presiden Jokowi meminta verifikasi calon menteri kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sebuah tradisi politik baru. Hal ini guna menciptakan pemerintahan yang bersih, demokratis, berintegritas dan profesional. Kita sangat mengharapkan semua orang yang terpilih dalam Kabinet Kerja dapat bekerja dengan baik dan kompeten. Terlebih khususnya terhadap penyelesaian berbagai masalah yang telah menghadang bisa terpenuhi. Jangan sampai membuat negara ini jalan ditempat.

Selamat bekerja.

*) Mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Komunikasi

From → Opini

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: