Skip to content

Maaf dan Terima Kasih untuk Ibu

by pada 15 Desember 2014

Oleh Yohana Alfrida

Setiap ibu pasti berusaha melakukan hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Jalan berliku yang sulit untuk dilalui ia tempuh dengan penuh perjuangan. Apapun akan ia lakukan agar anaknya berhasil dan sukses. Doa dan tangis ia sampaikan kepada Tuhan, ia berharap Tuhan terus menjaga dan menyertai setiap langkah anak yang dikasihinya.

Setelah mendengar kata ibu, yang terpikirkan oleh orang-orang biasanya adalah kebaikan dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tanpa mengharapkan imbalan dari buah hatinya. Semua hal yang berhubungan dengan indah dan haru pasti terdapat di dalam kata “Ibu”. Tetapi itu tidak untukku, sebelum aku menyadari semuanya.

Aku terlahir dengan keluarga yang lengkap, tentunya memiliki ayah dan ibu. Ayahku bekerja sebagai penjaga keamanan disebuah perusahaan dan ibuku bekerja sebagai ibu rumah tangga. Keluargaku berasal dari kalangan orang biasa. Orangtua ku adalah orang batak asli, karena itu aku selalu ingin memberikan dan menjadi yang terbaik di dalam keluarga.

Sejak aku kecil, aku sudah menerima perbuatan yang tidak baik dari ibuku. Di saat berumur 7 tahun, aku pernah dipukuli oleh beberapa alat rumah tangga seperti sisir, gayung, dan benda kecil lainnya. Perbuatan yang sedikit tidak wajar itu dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya. Walapun aku tau apa yang ku perbuat adalah hal yang salah, tetapi ada cara lain kan untuk menghukum seorang anak selalin cara sekasar itu?

Karena diperlakukan seperti itu, aku mulai menjadi anak yang nakal. Aku melakukan hal yang tidak semestinya ku lakukan sepeti mencuri uang ibuku dengan jumlah yang lumayan besar untuk ukuran anak yang masih berada di sekolah dasar.

Karakter yang keras juga terdapat pada kedua orangtuaku, terlebih ibuku. Di benak ku, cara mereka mendidik seperti itu adalah salah dan itu membuat aku menjadi anak yang tidak menghormati orangtua dan berlaku tidak sopan.

Aku sangat iri dengan teman-temanku yang bisa bercerita tentang kehidupan sekolah kepada ibunya. Mereka tertawa lepas dan saling menceritakan isi hati mereka masing-masing. Sedangkan aku hanya bisa terdiam dan memendam semua kejadian dan masalah yang selalu ku alami.

Temanku bercerita bahwa ibu mereka sangat baik dan kalau temanku salah, ibunya hanya menegur dan tidak memberikan hukuman fisik. Tentu rasa benci terhadap ibuku terus tumbuh di dalam diriku. Pernah juga wajah ku di ludahi oleh ibuku. Sedih, sakit hati, dan benci tumbuh di dalam hatiku yang kelam. Tidak terpikirkan oleh ku bagaimana mungkin seorang ibu kandung memperlakukan  anaknya sampai seperti itu.

Dengan semua perlakuannya, aku hanya menganggap ia sebagai sumber uang dan tidak menganggapnya halayak seperti ibu. Aku hanya berfikir, uang yang diberinya dapat memenuhi segala kebutuhan ku. Berbohong dan mencuri adalah “makananku” sehari-hari. Aku melakukannya terhadap ibuku karena aku membenci dirinya.

Hingga umurku 19 tahun aku masih menerima perlakuan yang tidak baik dari ibuku. Tetapi di umurku yang sekarang, cara menilai dan memandang ibuku sudah jauh berbeda dibandingkan ketika aku masih kecil. Mungkin pandanganku berubah seiring berjalannya waktu dan dengan proses pendewasaan yang terjadi pada diriku.

Aku  tersadar bahwa ibuku melakukannya karena ia berpikir kalau hal itu adalah cara terbaik untuk mendidik anaknya. Seorang ibu mempunyai beban sendiri yang tidak ingin diketahui anaknya. Di saat ia tak sanggup untuk menghadapi beban tesebut, ia melampiaskan semua yang di benaknya kepada ku walaupun ia sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu.

Rohani, itulah nama ibuku. Banyak sekali perjuangan yang ia lakukan terhadap keluarganya. Gaji seorang penjaga keamanan dari ayahku tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari. Ibuku ikut bekerja mencari uang agar anaknya merasakan kehidupan yang layak dan nyaman seperti anak yang lainnya.

Vertigo, itu adalah penyakit yang terkadang datang mendera ibuku. Pernah disaat ia sedang merasakan sakit itu, ia terbaring lemah di tempat tidurnya. Sambil mengeluarkan air mata beliau memintaku untuk membelikan obat ke apotek terdekat. Entah kenapa disaat itu aku tidak mau dan menolak secara keras untuk membantunya dan langsung menuju kamar. Aku menyadari bahwa perbuatanku membuat hati ibuku sakit dan ia pasti selalu mengingat kejadian yang buruk itu.

Sungguh, aku sangat menginginkan seorang ibu yang bisa ku jadikan seperti seorang sahabat, aku ingin merasakan pelukan hangat dari tubuh seorang ibu, aku ingin dibelai oleh lembutnya tangan seorang ibu, dan aku juga ingin dicium dengan rasa penuh kasih sayang oleh seorang ibu. Aku juga ingin merasakan hidup seperti teman-temanku yang bisa tertawa lepas bersama dengan ibunya.

Pernah suatu malam saat aku sedang melewati kamar orangtuaku, disaat itu aku mendengar ibuku sedang berdoa dengan suara isak tangis. Aku menuju pintu dan melihat ibuku yang sedang berdoa. Disitu aku mendengar namaku disebut di dalam doanya. Ibu berdoa agar Tuhan menjaga dan melindungiku disetiap waktu, untuk kesehatanku, pendidikanku, menjadi anak yang patuh dan menjalankan perintah Tuhan, dan berdoa agar Tuhan mengampuni segala dosa yang aku perbuat.

Ya Tuhan, selama ini aku telah salah menilai ibuku. Ibuku sangat baik, ia terus mendoakan ku setiap hari. Ia selalu mendoakanku yang tidak menghormatinya, sering melawan dan membohonginya. Aku sangat menyesal akan perbuatanku terhadap ibu.

Aku sering menceritakan hal-hal yang tidak baik tentang ibuku kepada teman-temanku. Harusnya aku tau, semua perbuatannya terhadapku itu dikarenakan oleh masalah berat yang memang tidak ingin diberitahukan kepada anaknya, agar anaknya tetap fokus belajar sehingga cita-citanya tercapai.

Aku belum bisa membahagiakan ibu yang telah melahirkanku. Hanya kata maaf yang bisa ku sampaikan kepada ibuku atas segala perbuatanku yang tidak baik terhadap dirinya dan yang telah menyakiti hatinya sampai ia menangis. Ibu, terimakasih karena telah merawat, menjaga, berdoa, dan memberiku kasih sayang dengan caramu sendiri.

Memang aku tidak bisa menggantikan setiap peluh yang ibu perjuangkan untukku, tetapi aku akan berusaha menjadi harapan terbaik yang ibu miliki. Kasih seorang ibu tidak pernah lekang oleh waktu. Aku menyayangimu Ibu.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: